Kenalkan Tatanan Rohani Bali Tua : Pameran Situs, Dikunjungi Puluhan Siswa SMP dan Gelar Kelas Budaya

Diskusi budaya pada pameran Situs dan Ritus Peradaban Bali Tua , Bakti Pertiwi Jati (BPJ) di Denpasar Art Space (DAS) Jalan Surapati No. 7.

Balinetizen, Denpasar

Sejak dibuka, Kamis (25/4) lalu, pameran Situs dan Ritus Peradaban Bali Tua , Bakti Pertiwi Jati (BPJ) di Denpasar Art Space (DAS) Jalan Surapati No. 7, memantik minat kalangan siswa di Kota Denpasar.

Semisal, puluhan siswa – siswi , yakni datang dari Sekolah Tingkat Pertama (SMP) Tawakal Denpasar, Sabtu (27/4) , mengunjungi ruang pameran yang menyajikan beragam karya fotografi, lukisan, video tentang situs dan Ritus. Para pengunjung mendapat pemaparan langsung dari tim BPJ yang diasuh oleh Jro Mangku Sara , Nyoman Ardika atau Sengap, Made Bakti Wiyasa , Kadek Wahyudita, dan tim lainya.

Satu per satu obyek foto maupun lukisan yang memperkenalkan arsitektur khas Bali, di kawasan Pura maupun bangunan suci di Bali ,yang sarat dengan simbol dan memiliki makna tersendiri dijelaskan kepada para siswa.

Selain berkunjung untuk melihat tatanan peradaban bangunan yang memiliki segudang makna, spirit yakni tatwa. Pameran kali ini juga menghadirkan kelas budaya yang menyertakan sejumlah Perguruan Tinggi di Bali. Diantaranya, Universitas Hindu Indonesia (Unhi), ISI Denpasar , IHDN dan IKIP PGRI Denpasar.

” Untuk kelas budaya memang kita kemas dalam diskusi melibatkan para mahasiswa guna lebih memperkenalkan dibalik simbol, pemaknaan serta fungsi dari spirit dari setiap bangunan, ” kata Jero Mangku Sara.

Diungkapkan , kenapa melibatkan para mahasiswa, hal ini kata Mangku Sara, karena generasi muda yang akan mewarisi dan meneruskan kecerdasan banyak situs di Bali agar kedepan pelestarian tatanan rohani kita terjaga. ” Kita kenalkan kepada mereka para siswa, mahasiswa, apa itu situs, kenapa bangunan di pura beraneka ragam, sejauh ini banyak yang tidak paham apa sebenarnya fungsi bangunan – bangunan suci di Bali, yang notabene antara Pura yang satu dengan yang lainya tidak memiliki kesamaan , ” jelasnya.

Baca Juga :
Kapolres Buleleng Sinar Subawa, Gandeng Anak-Anak TK Kemala Bhayangkari II Singaraja Melakukan Penanaman Pohon Penghijauan

Diskusi dalam kelas budaya berlangsung menarik dan hangat, seperti tanya jawab yang terjadi antara mahasiswa dan narasumber . ” Bagaimana cara saya menjelaskan kepada kakek, orang tua yang saat ini berkeinginan membongkar bangunan yang memiliki nilai situs diganti dengan yang baru, ” kata salah seorang mahasiswa Unhi dari Kerambitan Tabanan.

Kadek Wahyudita salah seorang tim BPJ menyatakan, kelas budaya ini cukup menarik, membuka ruang untuk berinteraksi langsung, dengan topik penting membahas situs. ” Selama ini belum banyak yang sadar, ketika banyak terjadi pembongkaran situs tanpa memperhatikan konten, baik simbol, makna dan sebagainya , hanya dihantam dengan bahan – bahan baru, sehingga kita kehilangan jejak, ” kata Wahyu.

Hadirnya mahasiswa dalam diskusi ini, saya sangat mengapresiasi sekali, karena jelas para generasi muda Bali lah yang akan memperhatikan keberadaan situs di masa depan.” Kami menangkap, kesadaran mahasiswa lewat diskusi kali ini luar biasa, mereka sudah melihat fakta di lapangan, kenapa perbaikan bangunan suci dilakukan masif tanpa memperhatikan konten, simbol bangunan, dan bukan dilakukan lewat restorasi ( memperbaiki tanpa mengganti yang asli),” jelas Wahyu.

Sementara itu pameran yang berlangsung 25 April – 9 Mei 2019, menurut Ketua BPJ, I Made Bakti Wiyasa, pameran ini bersinergi dengan Pemerintah Kota Denpasar khususnya Dinas Pariwisata Kota Denpasar. Pelaksanaan pameran ini didukung oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Bali, Bupati Badung, Bupati dan Wakil Bupati Tabanan, serta Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Setelah melakukan pendataan di lapangan sejak beberapa bulan lalu dan audiensi dengan berbagai pihak, akhirnya pameran ini kami gelar,” ucapnya.

Menurut Bakti Wiyasa, Gubernur Bali Wayan Koster sangat mengapresiasi kerja BPJ dalam upaya ngentenin (membangkitkan kesadaran) untuk mencintai heritage di Bali, salah satunya dengan event pameran ini, dan membuat kelas-kelas budaya pada situs-situs kuno. Terlebih apa yang dilakukan oleh BPJ sangat selaras dengan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, serta sesuai dengan visi Gubernur “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”.

Baca Juga :
Bupati Suwirta menyerahkan dua SK Penegerian TK dan Memberikan Bantuan Kepada Siswa SD dan SMP Kurang Mampu

Bakti Wiyasa melanjutkan, BPJ sendiri telah terjun secara acak di situs-situs kuno yang ada di wilayah Tabanan, Badung, Buleleng, Denpasar, dan Klungkung. Beberapa situs yang telah dilakukan kajian sebagai materi pameran di antaranya situs Pura Desa Peguyangan dan Pura Puseh Peguyangan, Pura Dalem Pemanis Penatih, Pura Dalem Tambawu, Dalem Tungkub Khayangan Sakti Kesiman, Pura Pengerebongan, Merajan Agung Puri Kesiman, Pura Dalem Penataran Tangeb, Pura Kentel Gumi Kapal, Merajan Agung Puri Nyalian Klungkung, Pura Dalem Segara Madu Buleleng, Pura Pengungangan Pemanis, Pura Batur Pemanis.
Secara keseluruhan semua item karya dalam pameran “Situs dan Ritus Peradaban Bali Tua” merepresentasikan rekaman peradaban tua secara detail sebagai varian-varian keindahan simbolik berupa foto, film dokumenter, drawing, lukisan yang mewujudkan masing-masing dari tatanan peradaban Tri Maha Lingga Bali (Mahaagung, Mahaawidya, Maharata).

Adapun secara rinci jumlah karya yang dipamerkan terdiri atas sebuah film dokumenter ritus serta 113 foto situs dan ritus yang fotonya diambil sendiri oleh para fotografer BPJ. Kemudian ada 7 lukisan dan 4 karya drawing oleh Bakti Wiyasa. Selain itu, ada 8 karya dari fotografer lainnya yakni Bayu Pramana (3 foto), Rudi Waisnawa (3 foto), dan Naya Suanta (2 foto).(Sur)

Editor : Sutiawan

Leave a Comment

Your email address will not be published.