Peserta Program CSR PT. Antam Halmahera Timur Tertarik Kembangkan Inovasi Teknologi Peternakan BPTP Balitbangtan Sulut

Melihat dari dekat proses perahan susu dengan alat

Balinetizen, Sulawesi Utara

PT. Antam (Aneka Tambang) Halmahera Timur bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Sulawesi Utara (Sulut) mengadakan kunjungan lapang bidang peternakan bagi peternak di wilayah Sulut ke beberapa lokasi binaan BPTP pada 30 April hingga 3 Mei 2019. Kegiatan ini merupakan salah satu program pemberdayaan petani melalui Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Antam dalam bidang peternakan.

Kepala BPTP Balitbangtan Sulut, Dr. Ir. Yusuf, MP. mengapresiasi inisiatif PT. Antam karena telah memilih BPTP Balitbangtan Sulut yang merupakan lembaga sumber teknologi di daerah dalam pemberdayaan ini. “Kami tidak hanya melayani daerah Sulawesi Utara, tapi semua yang butuh dan tertarik hasil kajian spesifik lokasi para pengkaji. Kami sangat terbuka untuk melayani,” ujar Yusuf.

Inovasi Teknologi peternakan yang dikembangkan peneliti di BPTP Sulut sudah teraplikasi di beberapa tempat di Sulut dan hasilnya sangat menggembirakan. Menurut Ir. Paulus C. Paat, MP., Ahli Peneliti Utama Peternakan petani banyak tertarik dengan inovasi teknologi peternakan sistem tower pakan ternak. “Banyak yang mendatangi sendiri lokasi yang menjadi kegiatan pengkajian, berdiskusi dengan ketua Poktan binaan sambil melihat dan pulang membuat sendiri,” ungkapnya.

Menurut Paat, dengan inovasi teknologi pakan ternak petani tidak direpotkan dengan waktu pindah sapi dan mencari makan, yang selama ini menjadi kendala petani. “Ketika mengerjakan pekerjaan lain, petani harus cepat pulang karena mengingat pekerjaan pindah sapi. Dengan inovasi ini, petani tidak repot lagi, karena makanan telah disediakan saat kelimpahan pakan waktu panen,” jelasnya.

Dengan inovasi ini, lanjutnya, pakan jerami ditampung dalam rancangan penampungan yang secara otomatis dapat diambil sendiri oleh sapi. Teknologi ini juga memiliki banyak manfaat lain bagi petani. Dari hasil penelitian Paat, pertambahan berat badan sapi per hari dapat mencapai 0,9 kg. Selain petani tidak repot lagi dengan pindah sapi, kotoran sapi yang tertampung di kandang dapat menjadi tambahan pendapatan petani. Kotoran sapi bisa diolah menjadi biogas, pupuk padat dan cair untuk kegiatan usahatani.

Baca Juga :
Kasus Meninggal Dunia Kembali Nihil, Prosentase Kesembuhan Pasien Capai 95,93

Manfaat lain lagi dari inovasi ini adalah para petani jagung dan padi tidak lagi membakar jerami. Karena jerami diambil peternak untuk dimasukkan dalam tower pakan. Inovasi ini, sangat berkontribusi besar pada penekanan kerusakan ozon, akibat petani membakar jerami.

Potensi jerami padi, menurut Paat, untuk 1 kali panen, jeraminya dapat menghidupi 2-3 ekor sapi. Bila menggunakan perhitungan Indeks Pertanaman (IP) 200, artinya 2 kali panen dalam setahun, dapat menyediakan pakan untuk 4-6 ekor sapi dewasa. Bila potensi ini disandingkan, petani tidak hanya panen padi tapi juga daging.

Herry Purnama, Comdev Senior Officer CSR PT. Antam pada kesempatan terpisah mengungkapkan ketertarikannya pada inovasi teknologi ini, karena masalah petani binaannya yang hanya memelihara ternak secara ikat dan tidak dikandangkan.

“Hal ini membuat petani repot dengan pindah sapi dan mencari lokasi untuk ikat sapi,” Jelasnya. Herry berharap dengan melihat langsung di lapangan, para peternak dapat melaksanakannya setelah kembali.

Arnold C. Turang, SP, pendamping lapang selama kunjungan menjelaskan, peserta telah mengunjungi tempat-tempat pengembangan peternakan sistem tower binaan BPTP Balitbangtan Sulut yang ada di Minahasa Selatan tepatnya desa Po’po poktan Batu Kurung. Peserta juga mengunjungi kegiatan bio industri Tondano, Pasar Blante (pasar tradisional Barter dan Jual Sapi) untuk melihat sistim transaksi dan harga sapi, mitra BPTP Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut untuk pengembangan sapi Friesian Holstein (FH) di Tampusu Minahasa, serta situs wisata pasar ekstrem Tomohon.

Pada setiap titik kunjungan, peserta sangat antusias mendengarkan penjelasan dari petani yang telah dibina BPTP Balitbangtan dan Dinas Pertanian Peternakan Sulut. Pada penutupan yang dilaksanakan di Makatete Hills desa Warembungan, BPTP Balitbangtan Sulut menghadirkan tim yang terdiri dari para pakar pertanian, yaitu peneliti serta penyuluh pertanian dan peternakan untuk diskusi dengan peserta. (*artur)

Baca Juga :
Penutupan Sidang Paripurna DPRD Kota Denpasar, Dewan Apesiasi LKPJ TA. 2020 dan Renwal RPJMD Kota Denpasar Tahun 2021-2026

Editor : Sutiawan

Leave a Comment

Your email address will not be published.