Harga Beras Organik Sejatinya Tidak Boleh Mahal

Ilustrasi-Beras

Balinetizen.com, Denpasar 

Investasi di pertanian organik tak selalu tinggi. Sebab input pertanian organik tak sebesar penggunaan pupuk kimia yang cenderung meningkat harganya dan mahal. Butuh diseminasi informasi secara masif tentang pertanian organik kepada masyarakat.

“Kalau kondisi dan kontur  tanahnya normal, semestinya penggunaan pupuk organik akan tak semahal pupuk kimia. biasanha produk yang dihasilkan harga jualnya juga bisa tak beda jauh sehingga bisa diserap pasar,” ujar praktisi sekaligus pemerhati pertanian organik Peni Cameron di sela-sela Diskusi dan Sosialisasi Pergub Nomor 99 tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Perindustrian Lokal Bali.

Diskusi yang digelar Komunitas OWR (Obrolan Warung Rakyat) dengan tema “Siapa (Berani) Beli Produk Lokal Bali” di Warung Tresni, Jalan Drupadi 54, Denpasar, Senin (24/6/2019) sore berlangsung semarak dan dihadiri puluhan peserta dan birokrat termasuk Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bali IB Wisnuardhana, MSi.

Menurut Peni, Dengan input yang tak begitu tinggi, maka produk yang dihasilkan akan mudah diterima pasar. Ia mencontohkan beras organik yang harganya tak beda jauh dengan beras kualitas premium. Padahal kualitas beras organik begitu tinggi dan sehat. “Karena itu saya melalui sawah percontohan padi organik di Subak Bongkasa mengajak kelompok tani untuk mencoba pengembangan produk organik ini,” jelasnya.

Peni menambahkan persoalan produk organik bagi petani bukan masalah modal tapi mindset terhadap pengembangan produk organik yang sesungguhnya lebih bernilai tinggi. Selama ini ada anggapan produk organik itu investasinya sangat tinggi.

Hal senada disampaikan Praktisi Pertanian Organik, Ir. IBG Arsana (Gusde) yang telah membuktikan nilai lebih dari penerapan pertanian organik ini. Melalui percontohan padi organik yang kini berkisar enam hektar, petani sudah melihat nilai positifnya. “Tanah semakin bagus untuk tanam dan hasilnya juga lebih tinggi,” jelas jebolan IPB Bogor yang kini khusus mengembangkan padi organik metode “SRI” dengan produk beras “Tri Datu”-nya itu.

Baca Juga :
Kapolri Sebut Kebijakan Larangan Mudik untuk Lindungi Masyarakat

Menurut Gusde, input pengembangan beras organik menjadi tinggi karena kondisi tanah yang tingkat unsur hara-nya sangat merosot karena pemakaian pupuk kimiawi dalam jangka panjang. Tanah mengeras dan miskin unsur hara termasuk sirkulasi oksigennya yang penting bagi perakaran tanaman. “Kalau kondisi tanah bisa normal kembali, maka penggunaan pupuk organik ini sangat menguntungkan karena produktivitasnya tinggi, kualitasnya sangat bagus dan sehat,” jelas mantan direktur sebuah bank swasta ini.

Sementara Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bali IB Wisnuardhana,MSi. mengakui persoalan di pertanian berada pada kualitas dan pasar. “Daya serap pasar khususnya di sektor pariwisata sesuai harapan Pergub 99/2018 belum maksinal. Ini yang perlu digenjot lagi,” pungkasnya. (hd)

Leave a Comment

Your email address will not be published.