Gaung Fosfat Alam di Indonesia

Keterangan foto: Workshop dihadiri peserta dari beberapa negara di Afrika ini, delegasi Indonesia berkesempatan mengunjungi salah satu tambang fosfat alam OCP di Khouribga, Maroko/MB

(Balinetizen.com) Maroko –

Sebagai negara agraris, sektor pertanian memainkan peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sekitar 68% dari luas area pertanian merupakan tanah masam yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Besarnya luasan tanah masam ini merupakan potensi yang harus dimanfaatkan guna pencapaian target Indonesia dalam swasembada pangan serta menjadi lumbung pangan dunia 2045.

Tanah masam memiliki potensi untuk digunakan dalam budidaya pertanian, namun tanah masam memiliki faktor pembatas yaitu tingginya tingkat kemasaman tanah yang mengakibatkan rendahnya ketersedian fosfor (P) dalam tanah. Unsur P merupakan unsur hara makro yang dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman. Untuk mengatasi kekurangan unsur P tersebut selain melalui pemberian pupuk P anorganik, aplikasi fosfat alam menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan.

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanah bekerjasama dengan OCP, Maroko telah melakukan penelitian terkait pemanfaatan fosfat alam sejak 1989. Kegiatan penelitian terbaru adalah aplikasi fosfat alam pada tanaman jagung dan kelapa sawit yang berlangsung sejak 2013 hingga saat ini. Dalam kerjasama penelitian ini, digunakan fosfat alam Maroko yang memiliki kualitas yang baik dengan kadar P2O5 28 – 31% dan reaktivitas tinggi yang ditunjukkan dengan tingkat kelarutan dalam asam sitrat2% sebesar 10%. Fosfat alam juga mengandung Ca dan Mg tinggi serta dapat meningkatkan pH. Dari segi ketersediaan jangka panjang, Maroko memiliki sekitar 70% deposit fosfat alam dunia.

Berdasarkan hasil penelitian aplikasi fosfat alam yang dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tanah, diketahui bahwa dengan aplikasi fosfat alam 1 ton per ha dikombinasikan dengan dolomit, pupuk kendang dan pola tanam zig zag dapat meningkatkan produksi jagung mencapai 20 ton per hektare (ha). Hasil penelitian ini menjadi salah satu inovasi teknologi yang sangat bermanfaat terutama dalam meningkatkan produktivitas jagung sebagai salah satu komoditas unggulan strategis nasional.

Baca Juga :
Bupati Suwirta Genjot Vaksinasi Booster, Berbasis Banjar dan Puskesmas

Lebih lanjut, Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr Husnain menyampaikan bahwa dalam pemanfaatannya fosfat alam dapat langsung diaplikasi tanpa melalui proses pabrikan sehingga akan lebih ramah lingkungan dan dengan sifat lepas lambat dari fosfat alam, efek residu dapat bertahan 4-5 musim tanam dengan hasilmproduksi yang tetap optimal. Sehingga dengan memanfaatkan efek residu ini, petani dapat menghemat biaya untuk pemupukan P.

Hasil-hasil yang diperoleh terkait inovasi teknologi pemanfaatan fosfat alam secara langsung ini telah didesiminasikan ke petani-petani di Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan. Diharapkan dengan hasil penelitian yang diperoleh ini dapat adanya hasil penelitian yang telah terbukti manfaatnya ini dapat mengubah paradigma penggunaan fosfat baik dari tingkat petani, pemerintah hingga pengambil kebijakan, yaitu dengan mulai memanfaatkan langsung dari sumbernya yaitu fosfat alam.

Sehubungan untuk penyebarluasan inovasi teknologi pemanfaaat fosfat alam selain dengan kegiatan dieminasi yang telah banyak dilakukan oleh Litbang, Kementan diperlukan juga suatu program yang mampu mendukung seperti adanya bantuan ataupun subsidi terhadap petani dalam memperoleh fosfat alam. Diharapkan dengan program ini petani akan lebih terdorong untuk menggunakan fosfat alam dalam kegiatan budidaya pertanian mereka.

Sebagai bagian dari kerjasama penelitian, pada Juli 2019, pihak OCP mengundang tim peneliti yang terlibat dalam penelitian aplikasi fosfat alam serta pejabat struktural Kementan untuk menghadiri workshop The Use of Rock Phosphate to Increase Soil Fertility and Crop Productivity di University Mohammed VI Polytechnic (UM6P), Ben Guerir, Maroko.

Delegasi Indonesia dalam workshop tersebut diwakili oleh Prof Dedi Nursyamsi (Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur), Ir. Irmijati Rachmi Nurbahar, MSc (Direktur Tanaman Tahunan), Sukim Supandi (Kabag Perencana), Ir. Hendri Sosiawan, CESA (Kepala Balitra), Dr Adha Fatmah Siregar, M.Sc (Peneliti Balittanah) dan Dr Wahida Annisa (Peneliti Balitra).

Baca Juga :
Navicula Music, Membuat Live Streaming Corona Concert Pada 20 Maret 2020

Pada workshop ini, disampaikan hasil-hasil penelitian jangka panjang aplikasi fosfat alam yang telah dilaksanakan di Indonesia baik pada komoditas jagung maupun kelapa sawit. Pemaparan hasil penelitian aplikasi fosfat alam mendapat respon positif dari para peserta terutama terkait capaian produsi jagung 20 ton/ha dengan aplikasi langsung fosfat alam dan sistem zigzag.

Pada workshop yang dihadiri peserta dari beberapa negara di Afrika ini, delegasi Indonesia berkesempatan mengunjungi salah satu tambang fosfat alam OCP di Khouribga, Maroko.

Editor: Hana Sutiawati

Leave a Comment

Your email address will not be published.