Aksi Protes Warnai Peringatan Hari Kemerdekaan AS

Presiden Donald Trump menyampaikan pidatonya dalam perayaan Hari Kemerdekaan Amerika di depan Monumen Lincoln, Washington D.C., 4 Juli 2019.

Balinetizen.com, Gedung Putih, Washington DC

Hari Kemerdekaan Amerika diperingati sedikit berbeda tahun ini di Washington DC, dengan pertunjukan kemegahan militer dan pidato mengenai kepahlawanan oleh Presiden AS Donald Trump. Acara itu mengundang kehadiran para pendukung Trump dan para penentangnya yang menuduh presiden mempolitisasi acara peringatan yang seharusnya nonpartisan dan menghamburkan uang para pembayar pajak.

Jet-jet tempur terbang rendah di atas kota Washington, D.C. Atraksi udara itu merupakan salah satu bagian dari pertunjukkan kekuatan militer Amerika yang dinamakan Presiden AS Donald Trump “Salute to America”. Yang juga menjadi bagian dari kegiatan itu adalah pidato Trump dari anak tangga Monumen Lincoln.

“Kita memperingati sejarah yang diukir bangsa kita. Pahlawan-pahlawan yang dengan bangga membela bendera kita. Para pria dan perempuan berani dari kemiliteran Amerika Serikat.”

Aksi unjuk rasa di dekat Independence Hall, Philladelphia, Kamis 4 Juli 2019.
Aksi unjuk rasa di dekat Independence Hall, Philladelphia, Kamis 4 Juli 2019.

Peringatan Empat Juli di Washington biasanya bukan mengenai politik. Tapi tahun ini, ada sejumlah aksi protes, termasuk menghadirkan balon karet yang menggambarkan “Bayi Trump” dan robot Trump yang asyik mencuitkan pernyataan-pernyataannya di Twitter.

Seorang demonstran bernama Amanda Whitehead mengatakan, “Presiden mempolitisasi acara nonpartisan dengan secara khusus menempatkan dirinya di tengah-tengah acara itu, dan menghadirkan pesawat-pesawat tempur dan tank-tank. Peralatan miter itu seperti mainan baginya yang bisa membuat dirinya bangga di atas pengorbanan para pembayar pajak.”

Seorang demonstran lain bernama Lance Simon mengungkapkan, “Saya kira, Trump adalah presiden yang paling memecah belah. Ia secara fundamental tidak tahu atau tidak memperdulikan perbedaan antara salah dan benar.”

Baca Juga :
Gunung Merapi 16 Kali Luncurkan Guguran Lava Pijar

Para pendukung Trump memiliki pendapat berbeda. Gill Daniels, contohnya, mengatakan, “Saya kira ia melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk merayakan negara dan mendukung rakyatnya, orang-orang Amerika yang terlupakan.”

Sementara pendukung lainnya, Jason Cullins, berpendapat. “Kita punya musuh. Mereka sesumbar dan memamerkan kemegahan militer mereka. Mereka berbicara omong kosong mengenai Amerika, dan membuatnya seolah bisa mengalahkan kita. Kalau saya musuh Amerika Serikat, saya akan merasa ketakutan saat ini.”

Sejak menghadiri peringatan Hari Bastille di Perancis pada 2017, Trump menginginkan parade militer. Rencana tahun lalu gagal karena persoalan biaya dan munculnya berbagai tudingan bahwa Trump berusaha memiliterisasi acara itu .

Shannon Bow O’Brien, dosen kajian kepresidenan Universitas Texas di Austin, mengungkapkan,“Kekuatan kita adalah warga negaranya. Kekuatan kita adalah semangat kepahlawanan kita yang dalam terhadap negara ini. Kekuatan kita berasal dari rakyat, dan berasal dari Konstitusi. Kekauatn kita tidak berasal dari militer. Saya kira pertunjukkan militer akan menciptakan persepsi yang tidak akurat mengenai apa sesungguhnya Amerika Serikat.”

Gedung Putih bersikeras fokus acara itu adalah patriotisme, bukan politik. Pemerintah belum mengungkapkan berapa besar dana yang dikeluarkan untuk membiayai peringatan kali ini, yang angkanya diperkirakan mencapai jutaan dolar. [ab/lt] (VOA : Indonesia)

Leave a Comment

Your email address will not be published.