Ivanka Trump, Jadi Sasaran Kritik Pasca lawatan Trump ke Asia

Avatar

Ivanka Trump dan Jared Kushner di Osaka, Jepang, 27 Juni 2019. (Foto: dok).

Ivanka Trump, putri dan penasehat presiden, telah menjadi sasaran kritik dan olok-olok setelah keterlibatannya yang menonjol dalam lawatan Presiden Donald Trump ke Asia minggu lalu. Banyak yang mempertanyakan kompetensinya berada dalam acara-acara penting seperti itu, dan menuduh pemerintahan Trump telah merugikan kepentingan negara dengan nepotisme, juga bertanya-tanya apakah presiden sedang melatihnya untuk memainkan peran yang lebih besar di masa depan.

Bicara dengan para pemimpin dunia, pergi ke zona demiliterisasi antara Korea Selatan dan Korea Utara, dan menjadi salah satu diplomat utama dalam lawatan Presiden Trump ke Asia Juni lalu. Akhir-akhir ini Ivanka Trump tampaknya ada di mana-mana.

“Setidaknya ini merupakan pertemuan yang produktif,” jelasnya.

Presiden Trump telah dituduh mengelola negara seperti bisnis keluarga ketika ia menunjuk Ivanka Trump dan suaminya, Jared Kushner, sebagai penasehat pada tahun 2017; menguji undang-undang anti-nepotisme.

Undang-undang yang diloloskan tahun 1967 itu sebagian didorong oleh pencalonan Robert F. Kennedy sebagai jaksa agung, oleh abangnya yang kala itu menjabat sebagai presiden, John F. Kennedy.

Pada tahun 2017, seorang pengacara di Departemen Kehakiman menyampaikan opini bahwa presiden dengan wewenang khusus untuk merekrut orang bagi posisi di Gedung Putih dikecualikan dalam undang-undang anti-nepotisme.

“Ivanka dan Jaret bekerja sangat keras, dan mereka mengorbankan banyak hal untuk melakukan ini,” kata Trump.

Posisi Ivanka Trump tidak digaji, tetapi para pengecam mengatakan hal itu masih bermasalah. Shannon Bow O’Brien, pakar tentang isu kepresidenan di Universitas Texas mengatakan, “Ia jelas merasakan dampak negatif nepotisme itu tetapi tidak peduli tentang hal itu. Apakah ia mewakili kepentingan terbaik Amerika, atau kepentingan terbaik bisnis keluarganya, perusahaan Trump atau dirinya sendiri?.”

Baca Juga :
Lantaran Pakai Kain, Youtuber Yan Djuna Ditolak Masuk Ke Klub La Favela

Ivanka Trump telah memperjuangkan proyek-proyek seperti Women’s Global Development & Prosperity Initiative (Inisiatif Pembangunan dan Kemakmuran Perempuan Sedunia).

“Kesempatan yang terbentuk ketika Anda memberdayakan perempuan, bagaimana mereka mensejahterakan keluarga, komunitas dan memakmurkan seluruh negara,” kata Ivanka.

Sebagian menyambut baik pengaruh presiden pada isu ini. Tetapi menurut Judd Devermont di CSIS, ‘’Saya merasa ada yang setuju dengan hal itu dan jika hal itu akan menjadi proyek Ivanka maka ia memiliki pengaruh yang signifikan. Jadi saya berharap ia mampu mendorong hal itu menjadi sesuatu yang berkelanjutan.”

Portofolionya di dalam negeri yang terus meningkat, termasuk upaya menciptakan lapangan kerja dan melawan perdagangan manusia, menciptakan spekulasi tentang peran Ivanka selanjutnya. Zack Cooper di American Enterprise Institute mengatakan, “Orang jadi bertanya-tanya apakah ini tanda bahwa mungkin Ivanka akan menjadi pemimpin politik di masa depan, jadi Trump berupaya melatihnya. Dan kita dapat melihat jalur yang jelas tentang upaya ini.”

Trump menuduh mantan pesaingnya, Hillary Clinton, membangun dinasti politik. Sejumlah pakar mengatakan warga Amerika mungkin bersedia menerima keluarga dalam pemerintahan jika memang mereka punya kualifikasi.

“Saya tidak percaya Amerika sangat toleran dengan dinasti keluarga ketika kualifikasi yang mereka punya hanya nama belakang keluarganya,” imbuh Shannon O’Brien.

Dan ketika ditanya langsung tentang niat Trump bagi putrinya, “Apakah anda sedang membinanya untuk jabatan politik?.” Ia menjawab singkat. “Tidak..saya tidak membinanya untuk jabatan politik.” [em/al]. (VOA Indonesia)

Leave a Comment

Your email address will not be published.