Pasutri Dari TBT Olah Sampah Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomis

Witari dengan bunga plastik dari hasil daur ulang sampah plastik

Balinetizen.com, Jembrana

Sampah plastik sangat sulit terurai. Jika dibiarkan akan sangat mengganggu ekosistem. Sampah ini tidak saja mencemari daratan, sungai juga lautan, tidak heran jika dibeberapa kabupaten dan kota sampah plastik sampai saat ini masih menjadi masalah yang belum bisa terselesaikan.

Di Bali gerakan untuk mengurangi sampah plastik terus digalakkan. Bahkan Gubernur Bali mengeluarkan kebijakan berupa Peraturan Gubernur (Pergub) Bali No.97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbunan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Seiring dengan adanya gerakan Bali bebas sampah plastik, belakangan muncul komunitas daur ulang sampah plastik menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomis. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri (Pasutri) Erdi S dan istrinya, Witari.

Pasutri dari Desa Tegal Badeng Timur (TBT), Kecamatan Negara ini dengan wadah UMKM Komunitas Relawan Jembrana (KRJ) juga senang berkegiatan sosial.

“Sejatinya kami baru memulai mendaur ulang sampah plastik untuk kerajinan ataupun membuat spot selfie. Sebelumnya, istri saya mendaur ulang sampah dedaunan menjadi bunga kering saja” ujar Erdi S ditemui saat sedang melukis.

Menurutnya, kerajinan daur ulang dari sampah plastik rencananya akan dipamerkan dan juga dijadikan background (latarbelakang) spot selfie saat Pemeran Industri dan Kerajinan memperingati HUT Kota Negara dari tanggal 11 sampai 20 Agustus 2019.

“Kami juga membuat meja dari ban bekas. Kami kerjakan ketika waktu senggang. Awalnya untuk menghiasi halaman rumah, tapi keterusan” imbuh Witari, Sabtu (3/8) ditemui di rumahnya di TBT.

Menurutnya banyak kerajinan yang bisa dibuat dari daur ulang botol maupun kresek serta sampah lainnya. Selain mengurangi sampah juga untuk menghias rumah dan jika ada yang berminat tentu bisa menambah penghasilan.

Baca Juga :
Tindaklanjuti Proses Hibah, Bupati Suwirta Bersama Karolog Polda Bali Verifikasi Aset di Nusa Penida

“Hasilnya sebagian disisihkan untuk berbagi dengan warga tidak mampu maupun lansia. Jadi olah sampah untuk jadi berkah,” tandasnya.

Witari mengaku mendukung langkah Gubernur Bali dengan kebijakan mengurangi sampah plastik, namun hendaknya dibarengi dengan berbagai solusi. Ia juga mengajak warga untuk membawa tas sendiri saat berbelanja.

“Merepotkan memang, tapi jika semua melakukannya pasti akan menimbulkan dampak yang besar” tandasnya.

Karena itu lanjutnya, ajaklah kerabat dan teman-teman dekat serta lingkungan untuk ikut berperan aktif dalam upaya melindungi dan mencintai ingkungan hidup.

Gerakan mengelola sampah dengan baik memang tidak mudah, namun upaya harus terus dilakukan dengan edukasi dan sosialisasi.

“Dipameran nanti kami akan melakukan edukasi kepada masyarakat bagaimana memanfaatkan sampah untuk menjadi kerajinan” ungkapnya.

Sejatinya banyak tayangan di youtube yang bisa dicontoh untuk proses daur ulang. Hanya saja kerap dilihat atau ditonton saja, tidak ada tindaklanjutnya.

“Kita harus mulai kreatif dan inovatif. Jangan hanya wacana. Semua harus bergerak. Jadi nanti dengan melihat hasilnya langsung semoga masyarakat bisa terbuka. Edukasi memang harus terus dilakukan agar masyarakat lebih kreatif. (Komang Tole)

Leave a Comment

Your email address will not be published.