Pertengkaran Politisi Italia Membuat Migran Terlunta-Lunta di Laut

Para anggota dinas Penjagaan Pantai Italia mengangkut makanan untuk dibawa ke kapal Sea Watch 3 di Siracusa, Italia, 27 Januari 2019. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Balinetizen.com, Lampedusa, Italia

Sebuah kapal penyelamat berisi 134 migran, sebagian besar orang Afrika, terpaksa menunggu di lepas pantai Italia pada Jumat gara-gara perseteruan antara kelompok politik di Roma menyebabkan kapal tersebut tidak dapat berlabuh di selatan Pulau Lampedusa.

Menteri Dalam Negeri Matteo Salvini telah memerintahkan para pejabatnya untuk mencegah kapal, milik sebuah badan amal, itu mendaratkan para migran yang diselamatkan dari pantai Libya 16 hari lalu. Perintah Salvini itu bertentangan dengan posisi perdana menterinya sendiri.

Sebanyak enam negara Uni Eropa sebenarnya sudah menyatakan setuju untuk menampung para migran tersebut.

Masalah migran menjadi sumber pertengkaran dan kehancuran koalisi yang berkuasa di Italia. Migran telah menjadi isu utama dalam rencana Salvini untuk membawa Partai Liga-nya, yang beraliran sayap kanan, keluar dari pemerintahan dan menyeret negara itu untuk menggelar pemilihan umum serta kembali berkuasa sebagai perdana menteri.

Lima orang yang mengalami trauma parah dipindahkan pada Kamis (15/8) dari kapal Open Arms, yang dikemudikan oleh kelompok amal Spanyol dengan nama yang sama, ditemani oleh empat kerabat.

Tiga orang lagi membutuhkan perhatian medis yang mendesak untuk dibawa ke darat pada malam hari bersama dengan seorang rekan, demikian dinyatakan Open Arms di akun Twitter.

“Mereka melukai diri sendiri dan marah kepada orang lain yang ada di kelompok tersebut,” kata Alessandro di Benedetto, seorang psikolog dari kelompok amal Italia, Emergency.

“Beberapa dari mereka berniat untuk bunuh diri, jadi mereka pikir lebih baik mati di sini daripada kembali ke sana,” tambahnya.

Baca Juga :
Wajib Pajak Kendaraan Bermotor Dihimbau Manfaatkan E-Samsat Batasi Interaksi Cegah Covid-19

Sikap keras antiimigrasi yang dijalankan Salvini telah membantunya meningkatkan popularitas dengan mengorbankan mitra koalisi Gerakan Bintang-5. Tetapi, upaya mengejutkan Salvini untuk menjatuhkan pemerintah dan menyerukan pemilihan telah menimbulkan masalah.

Perdana Menteri Giuseppe Conte, yang bukan anggota partai politik tetapi dekat dengan Bintang-5, pada Kamis menuduh Salvini  mengeksploitasi masalah itu. Conte mengatakan ia telah meyakinkan enam negara Eropa untuk menerima migran.

Menteri Pertahanan Elisabetta Trenta, yang berasal dari Bintang-5, menolak untuk menandatangani surat keputusan darurat yang dibuat Salvini.

Open Arms berlabuh di lepas pantai Lampedusa, yang merupakan tempat kedatangan massal selama bertahun-tahun, sebelum Salvini menutup pelabuhan Italia bagi kapal amal yang menyelamatkan orang-orang yang berangkat dari Afrika– untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa.

Salvini berpendapat bahwa Italia, yang dekat dengan pantai Libya, seharusnya tidak lagi menjadi pintu gerbang utama bagi para migran yang melarikan diri dari Afrika ke Eropa. Dia menuduh badan amal itu menjadi “taksi” bagi geng penyelundupan manusia.

Kapal Open Arms diizinkan masuk ke perairan Italia pada Kamis setelah pengadilan administratif di Roma membatalkan larangan, yang diberlakukan sebelumnya terhadap mereka.

Sumber: Reuters

Leave a Comment

Your email address will not be published.