Digeber Lewat Opera Cabaret, Pembukaan Festival Seni Bali Jani 2019

Gladi resik Pembukaan Festival Seni Bali Jani 2019

Jenaka , kocak penuh ekpresif dan menghibur , dalam garapan Operet siap menyapa panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya , Sabtu (26/10) malam besok. Seni kolaborasi kolosal bertajuk ‘Babad Gumatat Gumitit’ akan mewarnai rangkaian pembukaan Festival Seni Bali Jani 2019 . Ratusan seniman muda akan menyajikan garapan Opera Cabaret yang dlpersembahan Kelompok Teater Kini Berseri (Tekiber) serta aktor-aktor teater terbaik setingkat SMA se-Denpasar akan memberikan sajian seni artistic yang menghibur.

Opera ini dikemas dalam sajian seni kekinian yang tetap berada dalam bingkai tema festival yaitu Hulu – Teben, Dialektikal Lokal – Global. Sajian seni ini menjadi sangat menarik, karena didukung dengan artistik ligthing mereka gabungan dari alumni Insitut Seni Indonesia (ISI) Denpasar jurusan seni rupa, alumni dan mahasiswa aktif jurusan musik dan seniman video mapping dari paperclip motion.
Seni kolaborasi ini juga didukung Sanggar, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar, Teater Blabar SMAN 4 Denpasar, Teater Limas SMAN 5 Denpasar, Teater Kirana SMAN 6 Denpasar, Teater Bagol SMKTI Bali Global Denpasar, Teater Teras SMAN 1 Kuta, Teater Sumukhi SMKN 2 Denpasar, Teater Orok Unud, Komunitas Djamur dan BTS Production.
Ketua Kini Berseri, I Putu Gede Indra Parusha S.Sn. mengatakan, operet yang didukung oleh total 80 orang seniman dan crew itu menggunakan konsep operet cabaret yang telah melewati proses dubbing.
Pada saat dipanggung, para pemain hanya lipsync saja. “Belakangan ini sangat banyak pertunjukan dengan konsep dubbing lipsync. Keunggulannya, pertunjukan lebih aman dan taat time line, menggunakan mic wireless atau clip on yang beresiko tinggi mengalami gangguan teknis. Via vallen juga harus lipsync saat Asean Games lalu,” ucapnya disela gladi , Jumat (25/10)
Babad Gumatat Gumitit ini mengisahkan tentang serangga-serangga dan mahluk kecil lainnya yang sedang mengumpulkan enam mustika dari enam tempat, yaitu hutan, danau, laut, gunung sesuai visi Gubernu Bali ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.
Untuk memberikan nuansa kekinian, garapan ini digarap bernuansa komedi seperti ciri khas Teater Kini Berseri atau tekiber yang telah konsisten berkarya sejak 2010, dengan bentuk pementasan yang sama yaitu opera cabaret.
Untuk mendukung suasana, jelas Indra Parusa, garapan ini menampilkan kostum modifikasi sendiri untuk memudahkan aktor menari sambil berdrama. Opera cabaret ini, tidak ada pesan khusus yang ingin disampaikan. Hal itu, karena masyarakat saat ini butuh lebih banyak hiburan dari pada nasehat-nasehat. “Masyarakat sudah biasa bahkan sering mendengarkan dharma wacana. Saya rasa, masyarakat kini sudah pandai bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang lain,” paparnya.
Operet yang disutradarai oleh Benny Dipo ini diyakini akan dapat memberikan hiburan kepada pengunjung frestival, karena betul-betul digarap secara apik. Garapan ini juga berkolaborasi dengan Marching Band Universitas Udayana dan Orchestra dari alumni dan mahasiswa aktif Jurusan Musik ISI Denpasar. “Kini Berseri sempat bubar, namun karena rasa rindu ingin berkesenian lagi, lalu kami memutuskan untuk berkumpul kembali dengan generasi baru,” paparnya. (*)

Baca Juga :
SETARA Definisikan Pacaran Sehat dan Batasan Yang Tak Boleh Dilampaui

Leave a Comment

Your email address will not be published.