Perlindungan Terhadap Pekerja di Bawah Umur Dianggap Lembek

Sidak satpol PP di Kafe daerah Medahan Blahbatuh pada bulan Desember 2019 lalu. 
Balinetizen.com, Gianyar-  
Beberapa pihak mempertanyakan tentang perlindungan terhadap para pekerja di bawah umur di Kabupaten Gianyar yang dinilai masih lembek, dimana dipertanyakan sikap tim sidak gabungan Pemkab Gianyar yang dirasa tidak tegas dalam menindak lanjuti sidak Cafe di kawasan By Pass Ida Bagus Mantra, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar pada bulan Desember 2019 lalu.
Dalam sidak gabungan itu, disalah sati kafe ditemukan pekerja yang masih dibawah umur. Namun saat ini, anak dibawah umur tersebut sudah tidak ditemui lagi namun kafe tersebut masih tetap buka.
Dalam sidak gabungan terhadap kafe tersebut dilibatkan pihak dari Satpol PP, BNN Gianyar,  Disdukcapil Gianyar, Badan Kesbangpol Gianyar, Camat Blahbatuh, Perbekel Keramas, Babinkantibmas, Babinsa, serta Pecalang setempat ditemukan seorang pekerja kafe yang masih dibawah umur serta beberapa pekerja tanpa memiliki identitas yang jelas.
“Temuan sidak pekerja di bawah umur tak ada tindak lanjut tegas. Anak tersebut sudah tidak ada, katanya dipulangkan entah kemana, yang jelas bukan anak dari Gianyar. Kami sangat sayangkan BB ( barang bukti) sudah hilang, harusnya begitu ditangkap, anaknya diamankan dulu untuk proses lebih lanjut,” ujar sumber yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut.
Komisioner Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bali, I Kadek Ariasa mengecam adanya pihak yang mempekerjakan anak di bawah umur. Pihaknya jugta mendorong aparat sipil supaya tegas dalam menindaklanjuti peraturan daerah terkait dengan Perlindungan Anak dan Pendidikan. Terlebih lagi, Kabupaten Gianyar saat ini menyandang status Kota Layak Anak.
“Peraturan harus ditegakkan, sehingga anak-anak kita terlindungi hak-haknya termasuk pendidikan dan hak lain sesuai undang-undang, meskipun anak tersebut bukan dari daerah Gianyar. Sekali lagi ditegaskan, kepada pemerintah, kami tetap mengimbau agar sikap yang tegas dan jelas atas adanya penyimpangan kegiatan di tepat usaha,” ujarnya.
Pihaknya juga mengimbau para pemilik kafe, supaya berpikir keras sebelum mempekerjakan anak di bawah umur. “Tolong sadari, andai anak kita ada di posisi seperti itu. Cobaa dan karma phala bisa saja terjadi pada kita kapan saja. Maka, marilah ikut bertanggung jawab melindungi anak-anak karena semua anak adalah anak kita,” tandasnya.
Sedangkan Kepala Satpol PP Gianyar, Made Watha mengatakan, pihaknya bersama Disnaker Gianyar sudah memanggil pemilik kafe, dan yang bersangkutan telah diberikan pembinaan. Pihaknya tidak langsung membawa ke jalur hukum, lantaran ada tahap pembinaan.
“Kemarin kita sudah penggil dengan Disnaker, kita panggil pengelola. Kalau memang terjadi lagi seperti itu, kita akan tindak secara hukum. Awalnya dibina dulu, kalau sidak kedua lagi ditemukan seperti itu, baru kita ambil tindakan . Yang bersangkutan (anak, red) sudah dipulangkan,” ujarnya.
Saat ini, kafe yang mempekerjakan anak di bawah umur tersebut masih beroperasi. Hannya saja, kata dia, intensitas pengunjung menurun. “Kafe masih beroperasi, tapi sudah berkurang pengunjungnya,” ujarnya. Watah berharap desa membuat peraturan tegas terkait keberadaan kafe di wilayahnya. Sebab pemerintah tidak memiliki peraturan formal atas keberadaan kafe. Selama ini, kata dia, yang ada hanya izin keramain.
Pewarta : Catur
Editor : Whraspati Radha
Baca Juga :
Raja Thailand Lucuti Gelar Kebangsawanan Selirnya

Leave a Comment

Your email address will not be published.