Berbagi Kisah, Merah Abu Guru Honorer di Bali

Avatar
I Nyoman Swastika, S.Pd., guru mata pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Cipta Dharma Denpasar.

 

Balinetizen.com,Denpasar-

 

Rupanya, titik berat dan peran vital guru dalam kehidupan pendidikan di Indonesia memang tidak mudah. Jelas tercantum dalam amanat Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa”, merupakan cita-cita luhur negara Indonesia dalam hal pendidikan. Maka memberikan pendidikan dan proses transfer ilmu dalam kegiatan mengajar kepada masyarakat merupakan satu-satunya solusi untuk mencapai cita-cita tersebut. Begitu juga dalam proses pembelajaran, sosok guru memegang kunci penting yang menentukan keberhasilan pemberian ilmu di semua jenjang sekolah.

Belum cukup disitu, penggalan satu dari tiga semboyan pendidikan yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu “Tut Wuri Handayani”, yang melekat pada badge seragam sekolah, topi dan dasi, yang juga menjadi logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan harapan dapat tercipta semangat pendidikan yang tinggi bagi masyarakat Indonesia, semakin menegaskan pentingnya keberadaan dan andil seorang guru.

Tiga semboyan pendidikan lengkap – yang saking menginspirasinya, oleh Tex Saverio dijadikan tema dalam pagelaran fashion show tunggal perdananya- berbunyi; Ing Ngarsa Sung Tuladha, dengan arti “Di depan, seorang guru harus memberi teladan”. Kemudian Ing Madya Maun Karsa yang bermakna “Di tengah guru harus membangkitkan kemauan atau niat”, dan terakhir Tut Wuri Handayani, “Di belakang guru harus memberi dorongan atau semangat”. Dari arti semboyan tersebut, cukup menegaskan tanggung jawab seorang guru bukanlah hal yang mudah. Ia dituntut sebagai seorang teladan, inovator bahkan motivator dalam satu waktu yang bersamaan.

Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di urutan ke 111 dari 158 negara. Angka IPM erat kaitannya dengan 3 faktor, salah satunya yaitu pendidikan. Guru merupakan elemen penting dalam menentukan kualitas pendidikan, peran guru merupakan peran sentral dalam pembangunan karakter anak bangsa dan keberjalanan pendidikan. Menurut Data Pokok Pendidikan Nasional (Dapodik) Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, jumlah guru di Indonesia sebanyak 2.728.793 dan sebanyak 1.070.662 guru masih berstatus sebagai guru honorer, khususnya di Bali sebanyak 14.243 guru masih berstatus sebagai guru honorer. Mayoritas dari mereka hidup dalam kondisi prasejahtera dengan upah di bawah Rp 1.000.000/bulan, dan tak sedikit dari mereka yang melakukan kerja sampingan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Juga :
Manggala Music Art Festival 2019, Ajang Generasi Muda Tunjukkan Jati Diri

Selain itu, seringkali masalah pendidikan luput dari perhatian masyarakat, dan bencana hanya dipahami sebagai wujud psikis seperti gempa, banjir atau bencana psikis lainnya. Padahal masalah pendidikan, kebodohan, buta huruf, keadaan prasejahtera para guru, merupakan hal yang penting dan krusial peranannya.

Berlandaskan hal demikian, Program Sahabat Guru Indonesia, yang digagas oleh lembaga kemanusiaan nirlaba Aksi Cepat Tanggap (ACT) dengan motivasi untuk memberikan kontribusi perbaikan terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia agar lebih baik, serta untuk meningkatkan kesejahteraan para guru. Menjamin para guru tidak mengalami kekurangan ketika mengajar, melalui program Sahabat Guru Indonesia (SGI) ACT Bali menghadirkan bantuan biaya hidup guru. Program ini secara berkelanjutan terus diimplementasikan dan merupakan komitmen kuat ACT dalam memberikan sumbangsih untuk perbaikan masalah pendidikan di Indonesia.

I Nyoman Swastika, S.Pd., guru mata pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Cipta Dharma Denpasar, merupakan guru honorer yang telah mengabdi sejak tahun 2004 dengan gaji di bawah 1 juta perbulan, menuturkan, “Umur saya 56 tahun, tapi tetap ingin mengabdi walaupun dibayar seadanya. Karena prinsip saya ingin mencerdaskan anak bangsa dari hal spiritual maupun dari hal karakter,”

“Saya sekali lagi mengucapkan rasa banyak terima kasih atas perhatian terhadap guru honorer. Harapan saya supaya bisa berlanjut program ini kepada teman-teman guru honorer di Bali yang jumlahnya ribuan. Tidak sedikit guru honorer di Bali,” pungkasnya.

Sementara itu, harapan yang sama disampaikan oleh Kepala Sekolah SD Cipta Dharma Ibu Rinun Ni Luh, S.Pd., M.Pd “Semoga kegiatan ini dapat tetap berjalan dan rutin setiap tahun, tidak hanya di Denpasar namun juga di kota-kota lain di Bali,” ujarnya kepada Tim Aksi Cepat Tanggap Bali.

Baca Juga :
Batik Air Datangkan Pesawat Baru Airbus 320-200CEO ke-43

 

Pewarta : Hidayat
Editor : Hana Sutiawati

Leave a Comment

Your email address will not be published.