Forum Bentang Alam Global merilis daftar “16 Perempuan Pemelihara Bumi” bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional

Avatar
daftar 16 Perempuan Pemelihara Bumi dari Forum Bentang Alam Global (GLF) yang energik, antusias dan kaya pengalaman. Termasuk dalam daftar yaitu Lina Pohl, mantan menteri lingkungan di El Salvador, aktivis air Indigenous belia dari Kanada Autumn Peltier dan Constance Okollet dari Uganda.

Balinetizen.com, Nusantara-

 

Inilah daftar 16 Perempuan Pemelihara Bumi dari Forum Bentang Alam Global (GLF) yang energik, antusias dan kaya pengalaman. Termasuk dalam daftar yaitu Lina Pohl, mantan menteri lingkungan di El Salvador, aktivis air Indigenous belia dari Kanada Autumn Peltier dan Constance Okollet dari Uganda.

GLF merilis daftar 16 aktivis perempuan istimewa ini bersamaan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2020, sekaligus mengakui dan merayakan pencapaian sosial, ekonomi, kultural dan politik perempuan serta peningkatan upaya kesetaraan jender.

Di seluruh dunia, setiap hari perempuan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk berhadapan dengan dampak perubahan iklim, kata Okollet, Ketua Jaringan Persatuan Perempuan Osukuru (OWU) di Uganda Timur.
“Masuk dalam daftar GLF adalah kehormatan, sekaligus peluang untuk menyuarakan bagaimana perubahan iklim dapat berdampak bagi perempuan dan keluarga,” kata Okollet. “Bila kami terus bersuara, perlahan akan terjadi perubahan dan kami akan punya jaminan pangan tahun ini dan tahun nanti. Anak-anak kami bisa makan.”

Terpilih dari sektor keuangan, restorasi bentang alam, keamanan pangan dan penghidupan – serta lintas generasi, komunitas dan wilayah–16 Perempuan Pemelihara Bumi berada di garis depan upaya menghadapi krisis iklim dunia dan restorasi ekosistem yang menjadi fondasi kesejahteraan bagi ratusan keluarga, perempuan dan remaja putri.

Sebanyak 16 perempuan yang termasuk dalam daftar GLF ini adalah: Inger Andersen, Julie Becker, Jolene Marie Cholock-Rotinsulu, Fe Cortez, Amy Duchelle, Joselyn Dumas, Hindou Oumarou Ibrahim, Wanjira Mathai, Jennifer Morris, Constance Okollet, Autumn Peltier, Lina Pohl, Jennifer Pryce, Jo Puri, Alexandria Villaseñor, Janene Yazzie. (tiap nama bisa di-klik untuk membaca biografi masing-masingnya).

Perubahan mendasar perlu didorong pada bagaimana perbankan tradisional dan sektor keuangan memandang investasi proyek restorasi bentang alam, kata Pryce, Presiden dan Direktur Utama Calvert Impact Capital. “Kita perlu mengedukasi keuangan biasa mengenai apa yang bisa dilakukan. Sistem yang ada saat ini tidak dibangun untuk kebermaknaan; tidak secara tepat mempertimbangkan dampak investasi dari proyek ini.”

Baca Juga :
Minta Dikarantina, Dua Orang Datangi Satgas Covid-19 Kota Denpasar

Organisasi dan negara juga perlu penyesuaian, karena sering kali hak diakui secara legal, namun tidak terimplementasi di lapangan dengan alasan tradisi, budaya atau norma sosial, kata Iliana Monterroso, ilmuwan dan koordinator penelitian jender dan inklusi sosial Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). “Ini bukan hanya soal memiliki hak, namun menjamin hak yang diperoleh itu aman… (kita perlu) mengidentifikasi masalah struktural kekuasaan dan ketidaksetaraan lain yang mempengaruhi implementasi dan hasil.”

GLF terus mendorong keseimbangan jender dan keberagaman dalam keseharian, dalam tiap aktivitas, konferensi, program pembelajaran, pertemuan tingkat tinggi dan acara digital, termasuk acara penting keuangan, GLF Luksemburg: Simposium Masalah Investasi. Dalam acara tersebut, daftar audiens dan partisipasi menunjukkan lebih dari 40 persen perempuan – proporsi yang jarang terdengar dalam lingkup finansial.
Sejak 2013, lebih dari 7.000 perempuan yang menjadi pakar di bidangnya masing-masing telah berpartisipasi dan mengikuti Forum Bentang Alam Global. Ini tidak termasuk peserta daring.

 

Editor : SUT

Leave a Comment

Your email address will not be published.