Berkedok Koperasi, Rugikan Nasabah 155 M Lebih

Avatar
kordinator korban, I Made Budi Artawan.

Balinetizen.com, Denpasar-

 

Masih ingat heboh investasi bodong yang dilakukan Koperasi Karangasem Membangun (KKM)?. Kini kasus serupa muncul lagi di Bali bahkan korban dan nilai kerugiannya jauh lebih banyak. Sejatinya kasus ini muncul sejak 2018 lalu namun tidak jelas penanganan di kepolisian. Kini korban berjumlah 700 orang lebih tersebut berniat membongkar kasus mangkrak itu meski prosesnya panjang. Langkah pertama yang dilakukan korban sekitar lima puluh orang, Senin sore (10/8) mendatangi ASA Law Firm untuk memohon bantuan hukum.

Dijelaskan kordinator korban, I Made Budi Artawan, pelaku mengeruk aset korban menggunakan sebelas nama koperasi tersebar di lima kabupaten di Bali. Beberapa koperasi ada di Tabanan diantaranya Mahamulia Mandiri, Mahasuci. KSP Tirta Rahayu, Maha Wisesa (Denpasar), Maha Kasih (Badung), Maha Agung Mandiri (Mengwi), dan Sinar Suci (Klungkung). “Hanya itu yang saya tahu.Kami sudah melaporkan kasus itu ke pihak kepolisian, bahkan sampai ke pengadilan tiga kali, namun tak kunjung ada penyelesaian,”keluhnya.
Kata Made, bedasarkan penuturan dari para oknum pegawai koperasi, aliran dana nasabah mengarah ke rekening satu orang yang berinisial AJW orang yang sebagai pemilik koperasi.

Sesungguhnya, kata dia korban penipuan perbankan itu mencapai 726 orang yang tersebar di berbagai daerah. Tak sedikit orang yang menyerah dan putus asa atas musibah itu. “Bahkan ada yang sampai bunuh diri akibat penipuan ini, yang meninggal akibat stroke atau depresi pun banyak,”ungkapnya.

Selama dua tahun berjuang, ini merupakan ke lima kalinya pihak korban menyerahkan kasus ini kepada tim hukum. Dijelaskan, kesebelas koperasi itu sudah mulai berdiri sejak tahun 2015 namun hingga dinyatakan collapse pada 2018, tidak ada dinas terkait yang mengetahui keberadaanya. Kini koperasi-koperasi itu dingatakan sudah bangkrut.

Baca Juga :
Curhat WNA Irlandia, Mohon Dukungan Moril Kasus Yang Menimpanya di PN Denpasar

Agus Samijaya selaku kuasa hukum pun mengutarakan akan mendalami kasus ini. “Mendengar kronologi dari korban, ini merupaka kejahatan by desain sedari awal,”ungkap, Agus Samijaya.
“Kami sangat menduga ini bukan kerja kriminal biasa tapi kejahatan terorganisir dengan sindikasi perbankan dan pihak koperasi bodong,”ungkapnya.
Terlebih pihak terkait seperti Dinas koperasi baru memgetahui keberadaan koperasi itu setelah terjadi kasus ini. Kedepan pihaknya akan mencoba komunikasi dengan pihak terkait, untuk selanjutnya melakukan langkah-langkah hukum.

Bos Koperasi Meninggal Misterius

DENPASAR-Modus koperasi menjerat korbannya dikatakan korban I Gusti Made Suastama. Pada tahun 2018, oknum koperasi mendatangi rumahnya dan merayunya untuk berinvestasi penyelamatan aset. “Saya dijanjikan bunga 1% cashback nya 3 % perbulannya, atas dukungan dari keluarga sayapun tertarik,”ungkapnya.

Ia sempat curiga lantaran bunga dari investasi itu bisa lebih dari 1 persen. Namun, saat pihak koperasi menjelaskan bahwa pemilik memiliki berbagai bermacam usaha, ia pun mantap.
“Di awal di iming-imingi penyelamatan aset, tapi di akhir aset kami yang hilang. Saya mengalami kerugian hingga 500 juta,”keluhnya.

Agaknya, kasus ini diselubungi berbagai keanehan. Bahkan dijelaskan pada 29 Agustus 2018, AJW telah melakukan penandatanganan cek senilai 3,5 milyar untuk membayar bunga anggota. Keseeokan harinya, ia dikabarkan meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Lebih misteri lagi, jenazah AJW langsung di kremasi secara tertutup. Cek senilai 3,5 milyar itupun raib tanpa jejak. “Ini akan terus kita dalami, semoga kita bisa menemukan penyelesaiannya,”pungkas Agus Samijaya. (Nanto)

 

Editor : SUT

Leave a Comment

Your email address will not be published.