Menkumham Yasonna Laoly Kunjungi Prapen Wesi Aji

Avatar

 

Keris Celedu Nginyah Prapen Wesi Aji untuk Menkumham Yasonna Laoly

Balinetizen.com, Denpasar

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memuji dan mengapresiasi Prapen Wesiaji sebagai sentra pelestari budaya keris Bali yang telah mendaftarkan merek ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

“Saya harap merek tersebut dapat menjadi nilai tambah untuk Prapen Wesiaji. Saya senang Prapen Wesiaji sudah paham soal sertifikat hak merek, ini menjadi ciri khas. Tidak bisa ditiru pihak lain,” ucap saat berkunjung ke prapen yang terletak di Jalan Kenyeri, Tegal Kuwalon, Desa Sumerta Kaja, Denpasar Timur, Bali, Senin (10/8/2020).

Pada kunjungan tersebut Yasonna menerima keris Celedu Nginyah atau kalajengking yang berjemur dari Mpu Keris Pande Made Gede Suardika.

Dalam pidatonya, Yasonna mengaku baru mengetahui bahwa proses pembuatan keris ternyata tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dia juga mengaku terpesoa pada paparan mengenai keris yang memiliki filosofi yang sangat dalam, karena dibuat bukan semata sebagai senjata untuk menghadapi musuh, tetapi untuk menghadapi hawa nafsu dan keakuan di dalam diri.

Selaku Menkumham, Yasonna berharap tradisi seni dan budaya ini terus dilanjutkan ke generasi muda. Dia juga berharap cerita di balik pembuatan keris pusaka tersebut dirumuskan dengan baik, ditulis dan disebarkan pada khalayak melalui berbagai platform yang untuk meluaskan informasi mengenai keris.

“Selain untuk meluaskan informasi upaya ini sekaligus menjadi bagian turisme dan literasi bagi publik sehingga warisan leluhur ini lestari,” ujarnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Pande Made Gede Suardika menyampaikan, Prapen Wesiaji didedikasikan untuk menempa besi, khususnya untuk keris pusaka.

Dia mulai meneruskan tradisi membuat keris pada 2005, setelah sempat hilang dari tradisi Bali.

Baca Juga :
Di Bali, 119.525 Debitur Telah Terlayani KUR

Pande Made memulainya dengan otodidak sebab buku tentang pembuatan keris khas Bali tidak ada, atau lenyap pasca-penjajahan Belanda. Sebelum menjadi perajin keris, Pande Made Suardika adalah eksportir furnitur.

“Wesiaji (kemuliaan besi) yang diwujudkan dalam keris. Selain menempa besi jadi keris, Prapen ini bagian dari menempa diri. Prapen ini tidak untuk memproduksi keris komersial,” ucap Pande Made.

“Kalau mau pesan keris, pemesan adalah orang yang pertama memukulkan logam yang akan dibentuk sebagai keris agar pemesan menjadi orang yang membuat keris sendiri dengan tujuan jiwa si pemesan menyatu dengan kerisnya,” sambung dia.

Waktu pembuatan sebuah keris, ucap Pande Made, sekitar satu tahun, bahkan ada keris yang waktu pembuatannya mencapai empat tahun.

“Tapi kami membuat keris bukan untuk dijual,” tegas Pande Made.

Prapen Wesiaji adalah salah satu pelestari budaya di Bali yang bergerak dalam bidang seni dan budaya, yang bercita-cita melestarikan budaya keris yang merupakan salah satu karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia menurut UNESCO.

“Kami juga sudah mendapatkan sertifikat merek yang disahkan Kementerian Hukum dan HAM,” kata Pande Made.

Editor : Whraspati Radha

Leave a Comment

Your email address will not be published.