Menggali Teologi Hindu untuk Toleransi

Avatar

I Gede Sutarya

Polemik Hare Krishna di Bali menyisakan perdebatan teologi. Beberapa kalangan memandang Teologi Hare Krishna berbeda dengan Teologi Hindu pada umumnya, sehingga dipandang sebagai agama berbeda, tetapi ada yang menyatakan Teologi Hare Krishna masih berada dalam wilayah Teologi Hindu. Bagaimanakah Teologi Hindu itu? Apakah Teologi Hare Krishna masuk ke dalam Teologi Hindu?

Teologi Hindu adalah teologi yang melakukan perjalanan panjang. Fase awalnya adalah apa yang disebut dengan Zaman Brahmana, di mana Catur Veda merupakan otoritas tertinggi. Pada umumnya, Catur Veda berpijak kepada pemujaan Dewa-dewa di mana Indra, Agni, Soma, Asvin, Varuna dan Marut sebagai dewa-dewa utama. Rig Veda menyatakan Ekam Sat Viprah Bahuda Vadhanti, yang artinya hanya ada satu Tuhan, orang bijaksana menyebutkannya dengan banyak nama.
Pada zaman Brahmana ini, ungkapan Aham Brahmasmi (Aku adalah Tuhan), belum ada sehingga Teologi Catur Veda dapat digolongkan sebagai Dvaita, di mana antara pemuja dan yang dipuja berbeda. Karena itu, tujuan Moksha belum disebutkan secara sempurna dalam Catur Veda. Pemuja hanya berhak mencapai kesenangan di Sorga bersama para dewa.
Pada fase kedua, muncul zaman Upanisad. Pada zaman ini, pemujaan terhadap dewa-dewa mendapatkan kritik. Pada fase kedua ini, umat Hindu lebih banyak bertanya tentang siapakah diri kita? Pertanyaan itu yang kemudian dijawab sebagai Atman yang berasal dari Brahman. Karena itu, atman dan Brahman sesungguhnya adalah satu. Teologi ini yang disebut dengan Advaita. Ungkapan Upanisad yang terkenal adalah Atman Brahman Aikyam. Pada fase kedua ini, tujuan Moksha yaitu menyatu dengan Tuhan semakin jelas.
Pada fase ketiga muncul zaman pembaruan Dvaita dan Advaita. Kalangan Dvaita sibuk menyusun purana-purana untuk mengisahkan pengalaman memuja dewa-dewa, sedangkan kalangan Advaita sibuk menyusun buku-buku filsafat ketuhanan. Pada fase ketiga ini, Dvaita dan Advaita mendapatkan bentuk-bentuk baru, ini yang disebut fase percampuran. Tujuan Moksha pada fase ini ditafsirkan menjadi dua, yaitu bersatu dengan Tuhan dan hidup bersama Tuhan. Kalangan Dvaita mengartikan Moksha sebagai hidup bersama Tuhan dan kalangan Advaita mengartikan Moksha sebagai bersatu dengan Tuhan.
Pada kalangan Dvaita, muncul era baru yang disebut dengan Zaman Purana. Pemujaan terhadap Tuhan, dijelaskan melalui cerita-cerita purana. Pada kalangan pengikut Shiva muncul Shiva Purana, pada kalangan Vaisnawa muncul Visnu Purana, dan pada kalangan pengikut Sakta muncul Mahabhagawata Purana. Zaman Purana ini memunculkan dewa pemujaan baru yang disebut Shiva, yang dikaitkan dalam Catur Veda sebagai Rudra.
Pada kalangan Vaisnava, Itihasa Ramayana dan Mahabharata memengaruhi munculnya dewa baru yaitu Rama dan Krishna. Pemujaan Rama dan Krishna sangat umum di India mulai sekitar abad ke-14 Masehi setelah Ramayana diciptakan kembali dalam bahasa Hindi yang disebut dengan Ramacaritmanas. Jayadeva kemudian juga memasyarakatkan Mahabharata dengan Bahasa Hindi, sehingga memunculkan pemujaan terhadap Krishna dalam puisinya Jaya Govinda.
Apakah pemujaan terhadap dewa-dewa baru itu masuk ke dalam Teologi Hindu? Jawabannya adalah bahwa seluruh dewa-dewa baru itu dikaitkan dengan Catur Veda. Pemujaan terhadap Rama dan Krishna dikaitkan dengan Visnu dalam Rig Veda. Jadi apa yang terjadi di kalangan pemuja Shiva yang dikaitkan dengan Rudra dalam Rig Veda, terjadi juga pada pengikut Vaisnava. Pada kalangan Sakta, pemujaan terhadap Durga dikaitkan dengan Devi Suktam dalam Rig Veda. Karena itu, semua dewa yang muncul pada zaman Purana ini mendapatkan pengesahan dari Catur Veda.
Zaman Purana ini kemudian menjadi zaman untuk mengaitkan semua dewa pujaan ke dalam Catur Veda, terutama Rig Veda. Karena itu, muncul juga kecenderungan untuk menyusun purana dewa-dewa lokal, yang dikaitkan dengan Rig Veda. Penyusunan Purana ini merupakan cara orang-orang bijak Hindu mengajarkan agama kepada masyarakat, sehingga mereka bisa menerima dharma. Di India, banyak dewa lokal yang dibuatkan cerita sebagai penjelasan dari Visnu, Shiva atau Sakti. Salah satu contohnya adalah Mariamma yang dikaitkan dengan Durga. Penyusunan Purana dewa-dewa lokal untuk dikaitkan dengan Catur Veda terjadi juga sampai ke Indonesia, sehingga dewa-dewa lokal seperti Ratu Niang Sakti, kemudian dikaitkan dengan Durga.
Perkembangan ini menjadikan Hindu memiliki banyak dewa pujaan, yang dianggap Tuhan oleh masing-masing penyembahnya. Karena itu, muncul kemudian istilah Kula Devata, Grama Devata, dan Ista Devata. Kula Devata adalah dewa yang dipuja keluarga, dalam konteks ini leluhur bisa dianggap sebagai devata. Grama Devata adalah dewa yang dipuja pada suatu desa, sedangkan Ista Devata adalah dewa umum yang dipuja dalam suatu pemujaan dengan maksud khusus.
Catatan perkembangan Teologi ini menunjukkan bahwa pemujaan terhadap Krishna atau Rama juga masuk dalam Teologi Hindu, karena berbasis kepada Purana yang dikaitkan dengan Catur Veda. Mahabharata dan Ramayana adalah Itihasa dalam Hindu. Itihasa artinya adalah cerita sejarah, yang berisi cerita pengalaman para orang-orang bijak di masa lalu. Pengalaman Kunti dan Drupadi dalam Mahabharata menunjukkan bahwa Krishna adalah Tuhan, karena selalu melindunginya dari mara bahaya.
Akan tetapi, dalam penghayatan terhadap Tuhan, umat Hindu harus menjadi bijak. Umat Hindu harus bisa menempatkan dirinya dalam masyarakat. Dalam konteks pribadi, umat bisa mengekspresikan pengalamannya dalam memuja bentuk dewa apa pun. Tetapi dalam konteks umum, umat Hindu harus bisa menyesuaikan dirinya dengan umat Hindu pada umumnya. Karena dewa pribadi akan selalu berhubungan dengan dewa umum. Misalnya leluhur selalu berhubungan dengan kepercayaan umum bahwa leluhur umat manusia adalah Tuhan itu sendiri, tetapi melihat leluhur sebagai Tuhan dan Tuhan sebagai leluhur adalah rasa yang terbangun dalam pemujaan.
Tradisi
Pemujaan terhadap dewa dengan bentuk yang berbeda ini memunculkan tradisi pada keluarga, perguruan agama, desa, dan masyarakat luas. Karena itu, Hindu memiliki banyak tradisi. Umat Hindu di India juga memiliki banyak tradisi. Tradisi yang utama adalah tradisi India utara, India Barat, India Timur dan India selatan, tetapi varian-varian dari tradisi tersebut sangat banyak. Demikian juga, Hindu di Indonesia memiliki banyak tradisi, seperti tradisi Bali, Jawa, Kaharingan dan lain sebagainya.
Pada era global ini, tradisi-tradisi ini saling mempengaruhi. Pada abad ke-19, setelah Svami Vivekananda berpidato ke Amerika maka Rsi-Rsi dari India sangat aktif mengajarkan Dharma ke dunia barat. Penyebaran dharma nya dilakukan melalui jalan yoga. Pada penyebaran ini, tradisi-tradisi mereka yang baik ikut terbawa ke dunia barat. Tradisi ini kemudian menyebar lagi ke dunia timur.
Bali, yang mengembangkan pariwisata, tak luput dari pengaruh tradisi ini. Mulai tahun 1980-an, wisman dari Eropa dan Amerika telah datang ke Bali dengan guru-guru yoga mereka. Wisman ini mempengaruhi orang-orang lokal untuk mengikuti tradisi-tradisi keagamaan mereka. Melalui pariwisata ini, Hare Krishna, Sai Baba, dan yang lainnya menyebar ke Bali. Pada abad ke-21 ini, keadaannya terbalik, wisman justru mencari tradisi-tradisi lokal di Bali sehingga berkembang yoga-yoga lokal seperti Markendya Yoga dan Tantra Yoga.
Bali sebagai daerah pariwisata tak akan bisa menutup pengaruh ini, tetapi sebaliknya pengaruh Bali juga mempengaruhi wisman. Saling mempengaruhi akan terjadi dalam pergaulan global ini. Karena itu, umat Hindu harus bijak dalam hal ini. Kebijakannya adalah mampu menempatkan diri dan toleran terhadap umat Hindu lainnya. Pariwisata mengajarkan umat Hindu di Bali untuk toleran terhadap perilaku wisman, karena itu kenapa tidak belajar toleran terhadap perilaku beragama saudara sendiri? Pergaulan Bali dalam arena global ini seharusnya mengajarkan toleransi yang baik.

Baca Juga :
Sandiaga Uno: Apapun Keputusan MK, itulah yang Terbaik bagi Bangsa

Penulis, Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Leave a Comment

Your email address will not be published.