Gelar Parade Budaya Sekar Alit dan Sekar Agung di Tengah Pandemi Lewat Aplikasi Zello, Cara Kreatif Ambara Gandeng Generasi Muda Lestarikan Seni Budaya

Avatar
Pembukaan "Parade Budaya Sekar Alit dan Sekar Agung" Jumat (30/9/2020) di Denpasar.

Balinetizen.com, Denpasar-

 

Dirgahayu Ambara Swari menggelar Utsawa Dharma Gita parade budaya dan lomba pesantian bertajuk “Parade Budaya Sekar Alit dan Sekar Agung” sebagai wadah pelestarian Adat dan Budaya Bali.”

Acara parade budaya dimulai Rabu 30 September 2020 digelar secara daring/online berbasis aplikasi Zello pada Channel “Dirgahayu Ambara Swari 5.” Acara pembukaan juga disiarkan melalui live daring/online di Zoom.

Sementara lomba Sekar Alit dan Sekar Agung digelar Jumat 2 Oktober 2020 di “Channel “Dirgahayu Ambara Swari 5” pada aplikasi Zello.

Acara parade budaya yang digelar serangkaian HUT ke-9 Dirgahayu Ambara Swari dan HUT ke-75 RI ini juga melibatkan Widyasabha Kota Denpasar, Widyasabha masing-masing kecamatan se-Kota Denpasar, para pembina dari masing-masing Widyasabha kecamatan se-Kota Denpasar dan pecinta seni budaya khususnya Sekar Alit dan Sekar Agung.

Pendiri Dirgahayu Ambara Swari, Gede Ngurah Ambara Putra di sela-sela pembukaan acara pada Rabu (30/9/2020) menuturkan walau kita dilanda pandemi Covid-19, pelestarian seni adat budaya tidak boleh berhenti.

Pada pandemi Covid-19 sekarang ini, lomba tidak akan mungkin diselenggarakan secara langsung sehingga Dirgahayu Ambara Swari, melaksanakannya dengan menggunakan aplikasi berbasis aplikasi “Zello”.

“Untuk memberikan wadah dalam pelestarian adat dan budaya tersebut, maka diselenggarakan Parade Budaya Sekar Alit dan Sekar Agung lewat aplikasi Zello,” ungkap Ambara yang juga merupakan Calon Walikota Denpasar yang berpasangan dengan Calon Wakil Walikota Denpasar Made Bagus Kerta Negara (Paket Amerta) ini.

Parade Budaya Sekar Alit dan Sekar Agung lewat aplikasi Zello ini pun menjadi cara kreatif Ambara melestarikan seni budaya di tengah keterbatasan ruang gerak dan menggelar acara melibatkan banyak orang di tengah pandemi Covid-19.

Ini juga menjadi cara kreatif dan kekinian serta lebih mengasyikkan dari Ambara untuk menggandeng generasi muda lebih mencintai seni budaya sendiri seperti pesantian Sekar Alit dan Sekar Agung.

“Pandemi ini juga mengajarkan kita bagaimana responsif dan adaptif dengan perubahan, tetap kreatif berkarya termasuk dalam hal pelestarian budaya di kalangan generasi muda,” kata Ambara.

Baca Juga :
Menko Luhut : MotoGP 2021 Mandalika Akan Menggaungkan Lagi Pariwisata Indonesia

Pria yang juga pengusaha money changer ini menuturkan, ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dari parade budaya ini. Pertama memotivasi pembentukan sikap terhadap adat dan seni budaya. Kedua, untuk mempertahankan adat dan budaya Bali khususnya seni tatembangan.

“Ketiga, kami ingin mengembangkan semangat dalam pengembangan kesenian tradisional Bali,” kata Ambara yang mendirikan Dirgahayu Ambara Swari tepatnya 9 tahun lalu.

Selain itu acara lomba dan parade budaya yang digelar rutin tiap tahun ini  juga sebagai upaya menambah kekreatifan pecinta adat dan seni budaya dalam melaksanakan suatu pergelaran yang menarik.

“Termasuk sebagai benteng arus globalisasi budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keluhuran budaya,” kata Ambara.

Ambara menuturkan, kegiatan ini dilatarbelakangi karena perkembangan kehidupan manusia yang serba modern semakin menunjukan bahwa pola hidup harus sesuai dengan tuntutan zaman.

Di tengah tuntutan zaman ini, masyarakatnya telah meninggalkan adat dan kebudayaan yang menjadi roh dalam tatanan masyarakat bangsa Indonesia.

“Ini adalah salah satu contoh dimana kebudayaan itu terkikis mulai dari segi penampilan sehingga bergeser ke adat istiadat yang menjadi kebiasaan, sampai pada segi budaya tradisional,” tutur Ambara.

Baginya, budaya adalah roh kehidupan yang harus dijaga. “Ini adalah imbauan yang secara etimologis memiliki kekuatan spiritual yang perlu diberdayakan, maka secara terminologis kehidupan ini harus memiliki kebudayaan yang jelas bukan budaya campuran apalagi budaya cangkokan,” paparnya.

Demikian juga halnya dengan adat dan budaya Bali yang sangat beragam dari masing-masing wilayah, sehingga memberikan sebuah warna tersendiri bagi masyarakatnya.

Khususnya budaya dalam bidang kesusastraan Bali pada seni tatembangan (nyanyian) yang terdiri dari Sekar Alit, Sekar Madya dan Sekar Agung yang bisa dipakai sebagai cerminan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Denpasar khususnya, kata Ambara, sebagai salah satu wilayah di Bali yang berkomitmen dalam pelestarian adat dan budaya Bali. Hal itu karena Kota Denpasar mempunyai visi sebagai “Kota Berwawasan Budaya”.

Baca Juga :
Baliho Himbauan Covid di Sukawati Dirusak Oknum Tak Dikenal, Saat Ini Tengah Diselidiki Pihak Kepolisian

Seiring dengan itu, Dirgahayu Ambara Swari dengan visi “Pelestarian Adat dan Budaya Bali” juga terus berupaya untuk tetap melaksanakan pelestarian budaya tersebut.

Populerkan Pesantian di Aplikasi Zello

Ambara menuturkan, Dirgahayu Ambara Swari dibentuk pada 2011 dan kini sudah berusia sembilan tahun. Lahirnya Dirgahayu Ambara Swari ini dikarenakan pihaknya melihat kurang disosialikasikannya berbagai ajaran filsafat kehidupan dan etika di masyarakat.

“Pemerintah kami lihat hanya mengandalkan seperti secara resemonial di generasi muda. Setelah itu tidak ada berkelanjutan,” tuturnya.

Guna menggaet generasi muda untuk ikut melestarikan budaya khususnya di bidang pesantian ini, Ngurah Ambara mulai mengembangkannya menggunakan aplikasi Zello Walkie Talkie sejak pandemi Covid-19.

Aplikasi ini, kata Ambara, lebih efektif dari pada menggunakan radio pancar ulang (RPU). Sebab di RPU sendiri terdapat blank spot, yakni masih ada daerah-daerah yang belum bisa dijangkau.

Di aplikasi Zello Walkie Talkie, Dirgahayu Ambara Swari mempunyai sebanyak lima channel. Channel pertama untuk sekar alit, kedua untuk sekar agung, ketiga untuk lagu Bali, keempat lagu-lagu generasi muda, serta yang kelima channel khusus untuk Denpasar.

Zello Walkie Talkie sendiri merupakan aplikasi yang dapat mengubah ponsel atau tablet menjadi walkie talkie dengan aplikasi radio push to talk (PTT) yang super cepat dan gratis.

Dalam aplikasi ini terdapat berbagai fitur seperti streaming seketika dengan suara berkualitas tinggi, ketersediaan kontak dan status teks,kenal publik dan pribadi hingga 6.000 pengguna.

Tak hanya itu, Zello Walkie Talkie juga memiliki fitur opsi memetakan tombol PPT pada perangkat keras, dukungan headset bluetooth, riwayat suara, peringatan pemanggilan, gambar, notifikasi paksa dan bekerja melalui wifi dan data selular 2G, 3G, atau 4G.

Ambara menuturkan, dikembangkannya Dirgahayu Ambara Swari ke Zello Walkie Talkie sebagai upaya untuk menggaet generasi muda untuk ikut melestarikan budaya, khususnya di bidang pesantian.

Baca Juga :
Meski Pemimpin Ditangkap, Oposisi Rusia Tetap Berencana Unjuk Rasa

“Generasi muda ini semua pegang smartphone. Kalau ada lomba atau apa dia sudah bisa dari rumahnya lomba, dari sekolahnya,” kata dia.

Selain itu, dalam aktivitas di Zello Walkie Talkie itu pihaknya juga mengembangkan kuis-kuis bahkan dengan pemberian kuota. Hal ini bertujuan agar para pemuda yang sudah gabung di sana secara terus menerus terkoneksi.

“Itu salah satu kenapa kami lari ke Zello, karena generasi mudanya yang banyak membawa hp. Biayanya juga murah,” paparnya.

Tak hanya itu, keuntungan di aplikasi Zello Walkie Talkie ini bisa mengundang anggota lebih banyak. Ketika pihaknya mengadakan lomba akhirnya juga lebih banyak diikuti oleh generasi muda.

“Kalau dulu kan orang tuanya yang mencari (generasi muda untuk ikut lomba). Sekarang sudah mulai (ada inisiatif. Kita sudah berikan pemancing, pemanis berupa hadiah-hadiah,” kata dia.

Bagi Ambara, tantangan saat ini adalah bagaimana menjadikan generasi muda yang suputra dan menjadikan anak yang berguna untuk keluarga, masyarakat dan bangsa muupun negaranya. Baginya, hal itu harus ditanamkan dengan konteks kekinian.

Maka dari itu, ke depan dia akan menyiapkan portal khusus sehingga berbagai sumber sastra  bisa diakses langsung oleh generasi muda. “Ke depan bisa kontenya dibuatkan di Cloud sehingga bosa diakses,” kata dia.

Namun sejauh ini, sumber sastra bagi pesantian ini masih melalui buku fisik.  Berbagai sumber itu seperti arjunaa wiwaha, adi parwa, bhisma parwa. Dari 18 parwa, pihaknya memiliki sebanyak 10 parwa yang kerap ditembangkan dalam pesantian.

Begitu juga dengan sumber wirama bersumber dari arjuna wiwaha, bratha yudha, sutasoma, niti aastra dan hal lainnya.

“Maksud kami ini ingin menularkan. Ingin menjangkiti, supaya generasi muda ini bisa senang dengan kearfian lokal,” harapnya. (dan)

 

Editor : SUT

Leave a Comment

Your email address will not be published.