Renungan Purnama Kapat : Jangan Biarkan Rakyat Kelaparan

Avatar
Oleh: I Gde Sudibya

Hari ini Kamis, 1 Oktober 2020 adalah bulan penuh, bulan purnama di bulan Kartika sasih Kapat. Telah mentradisi di masyarakat Bali, piodalan Purnama Kapat, dan sejumlah desa dengan tradisi Bali Mula, piodalan pemujaan Tuhan dengan simbolik Cri Narayana, Tuhan Wisnu. Menyebut dua di antaranya: piodalan ring Pura Pucak Tegeh Penulisan, tepatnya – Pura Panarajon, Gunung Ngewangun Urip, Penulisan -, dan di Pura Pucak Sinunggal, tepatnya – Pura Pucak Bukit Gunung Sinunggal -.

Dalam kondisi epidemi Covid-19 yang memerlukan persyaratan ketat Protokol Kesehatan, berikan kesempatan ke pengempon pengarep untuk menyelenggarakan Aci dengan protokol kesehatan ketat, sedangkan krama lainnya cukup ngacep dari mrajan di rumah masing-masing.
Dan telah mentradisi piodalan  Bethara Turun Kabeh di Pura Besakih. Dengan ” putaran ” waktu setiap sepuluh tahun Piodalan  Panca Wali Krama.  ” Putaran ” waktu setiap 100 tahun Piodalan Eka Dasa Rudra. ” Putaran ” waktu setiap 1000 tahun Piodalan Blega Gumi.
Krisis Multi Dimensi
Bhakti dan proses yasa kerthi dalam piodalan Purnama Kapat di hari-hari ini, ditandai oleh krisis multi dimensi yang dibawakan oleh epidemi Covid-19. Jumlah korban terpapar di 235 negara per tanggal 27 September 2020 mencapai lebih dari 33 juta orang, dan jumlah meninggal lebih dari 1 juta orang. Epidemi yang sangat dashyat yang sedang menimpa dunia. Krisis multi dimensi yang dibawakannya, krisis kesehatan/kemanusiaan, krisis ekonomi dan seluruh dampak ikutannya, kalau tidak diwaspadai bisa muncul krisis politik, dan jika berkepanjangan bisa lahir krisis kebudayaan.
 Pemimpin Pemberi Teladan
Dalam piodalan Purnama Kapat hari ini, di Pura Pucak Tegeh Penulisan dan Pura Pucak Simunggal, kita dapat merujuk ke keteladanan kepemimpinan  raja Cri Aji Jaya Pangus yang membangun ke dua pura di atas. Di samping Pura Dalem Balingkang dan Pura Bale Agung Cenigaan.
Keteladanan yang diwariskan oleh raja besar  Bali Mula ini:
1. Penghargaan terhadap pengetahuan ( menurut catatan di akhir abad ke 10 dan di awal abad ke 11 pada masa kepemimpinannya, beliau berminat dan juga mendalami astronomi ).
2.Komitmen total ke kesejahteraan rakyat. Pengaturan terhadap perdagangan kapas, untuk melindungi kepentingan ekonomi petani Kapas. Bhisamanya yang sangat terkenal, jika piodalan berlangsung di pura-pura yang beliau bangun, tidak boleh ada rakyat kekurangan makan saat upacara berlangsung. Pesan moralnya adalah komitment sangat kuat kepemimpinan untuk membela  orang – orang miskin.
3. Penegakan etika dan moralitas kehidupan, sebagaima diteladankan dalam kepemimpinan beliau. Seorang pengawi dalam masa kepemimpinan beliau menulis: Ikang sapta negara, Swabhawa ning kadi sira, Prabu nyakra werthi, Raja Diraja Bali Dwipa Mandala.
Dalam krisis multi dimensi yang sedang berlangsung di negeri ini dan juga di Bali, dan kalau tidak diwaspadai krisis ini akan membesar. Keteladanan kepemimpinan yang diwariskan Cri Aji Jaya Pangus, tentang: penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, komitment untuk kesejahteraan rakyat, penegakan etika dan moralitas kehidupan, akan sangat bermakna dalam mengarungi tantangan kehidupan ke depan.
Warisan keteladanan ini, sudah tentu bermakna agak khusus bagi krama pengempon Pura Pucak Tegeh Penulisan: krama gebog domas ( 800 kk ) dari Desa Sukawana, Bantang, Selulung dan Kintamani. Ada 11 Desa pengempon Pura Pucak Sinunggal: Tajun, Tunjung, Depeha, Tegal Mengening, Bayad,Tamblang, Tangkid,Klampuak,  Bangkah, Pacung dan Sembiran.
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, pengasuh Dharma Sala ” Bali Werdhi Budaya ” – Rsi Markandya’ Ashram -, Br.Pasek, Ds.Tajun, Den Bukit, Bali Utara.
Baca Juga :
Ny. Putri Koster Langsung Salurkan Sembako di Desa Tampaksiring Gianyar 

Leave a Comment

Your email address will not be published.