Tampil Kalem dan Bersahaja, Jaya Negara Tekuni Hobi Megambel Sejak Kecil

Avatar

 

Balinetizen.com, Denpasar

IGN Jaya Negara is currently the preferred figure to become Mayor of Denpasar. Many people already know him as a calm and unpretentious official figure. Apparently he had shown this attitude since he was a teenager.

“Since he was in junior high school, his children have been calm, there is not much talk at school, but when it comes to good academic and non-academic achievements,” said Jaya Negara Junior High School Teacher Pande Ketut Sudiari in a Webinar entitled ‘More Familiar with Jaya Negara’. by SAPAMA Center, Friday (24/10) evening.

Jaya Negara, menghabiskan masa SMP di SMP Dwijendra Denpasar. Selama disana, Jaya Negara, kata Ibu Sudiari, sering mewakili sekolah dalam ajang olahraga pingpong . Diluar prestasi non akademik itu, nilai akademik Jaya Negara selama tiga tahun di SMP Dwijendra terbilang memuaskan.

“Jiwa seninya dari dulu sudah ada, selain prestasi akademik dan non akademik berupa olahraga pingpong tadi, dia juga gemar sekali menabuh. Bahkan kemampuan dalam menabuh itu sudah mulai terlihat sejak saat itu,” jelas Sudiari.

Sama seperti Sudiari, Ida Bagus Anom yang merupakan guru SMA Jaya Negara juga bicara hal serupa. Selama mengenyam pendidikan di SMA I Denpasar, tokoh politisi asal Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur itu juga dikenal sebagai pribadi yang santun dan tak banyak bicara.

“Makanya karakter kepemimpinan beliau itu memang sudah terlihat sejak dari SMA, sikap yang tenang dalam mengambil keputusan itu yang dibutuhkan oleh masyarakat ditengah situasi sulit yang dialami oleh hampir seluruh daerah saat ini. Kita doakan yang terbaik untuk Jaya Negara,” terang Pak Anom masih dalam diskusi yang sama.

Baca Juga :
Wabup Sanjaya Lepas Ratusan KKN Undiknas

Berbeda dari Pak Anom, teman SMA Jaya Negara yakni Ida Bagus Sweta Kamajaya menjelaskan sosok seorang Wakil Wali Kota Denpasar dua periode itu dari sisi yang berbeda. Selain mengenal Jaya Negara yang memiliki kepedulian akan dunia seninya sangat besar, Sweta mengaku lingkaran pertemanan SMA Jaya Negara mengenalnya sebagai pribadi yang gampang berbaur.

“Contohnya dulu, saat masih SMA I itu kita sering nongkrong di kantin, setiap setelah selesai kelas pasti itu. Belum lagi kalau weekend itu hari Sabtu kita main Billiard, kalau minggu biasanya sering ke acara-acara teman SMA entah itu ulang tahun dan acara yang lain,” jelas Sweta.

Sweta mengatakan pribadi Jaya Negara memang dikenal sebagai pribadi yang sangat low profile. Sikap yang demikian, terus melekat saat masuk ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS) Denpasar.

“Waktu masih kuliah di UNDIKNAS dulu saya akrab sekali sama beliau, saya ingat betul ada satu momen dimana kita berangkat ke kampus bareng dengan menggunakan motor bebek, terus motornya mogok, akhirnya di dorong itu motornya, beruntung sampai kampus tak ada yang telat,” kenang Nyoman Putra, sahabat Jaya Negara selama kuliah.

Meanwhile, in the eyes of his wife, Sagung Antari, Jaya Negara is a figure who always attaches importance to equality even after having a political position. “So we no longer recognize Saturdays and Sundays. As a wife, I have to understand. Because husbands already belong to the community,” she explained. (RLS)

Leave a Comment

Your email address will not be published.