Meraih Harta dan Mencapai Moksha Sakala, Kekeliruan Menafsir Tujuan Hidup 

Oleh: I Gde Sudibya

Moksha dalam Perspektif Catur Purusa Artha terdiri dari Dharma adalah doktrin agama Hindu ( Sanatana Dharma ), dasar rujukan moralitas, rujukan aturan prilaku ( code of conducts ). Artha, Partha, tujuan hidup dan kehidupan itu sendiri ( pengertian luas ). Seluruh instrumen yang dibutuhkan, diperlukan dan diinginkan  untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan ( pengertian sempit ).

Sedangkan, Kama, spirit, vitalitas hidup dan kehidupan untuk mencapai  tujuan kehidupan Moksha ( pengertian luas ). Stimulasi keinginan yang direlasikan dengan hubungan intim sepasang insan manusia ( pengertian sempit dan dikenal umum ).
Sementara itu, Moksha: kebebasan spiritual, terbebas dari ikatan dunia kebendaan, kemelekatan ( vairagya ),  spirit untuk tidak menjadi terikat ( detachment spirit ), di dunia maya ini.
Moksha sebagai tujuan final kehidupan di sini, di dunia maya ini.
Sedangkan, Catur Purusa Artha sebagai Etika dan Ethos Kerja mencakupi Dharma, Artha dan Kama sebagai landasan etika kerja. Sebagai rujukan prilaku ( code of conducts ) dalam totalitas kegiatan ekonomi: produksi, pemasaran, pengaturan persaingan, motif mencari keuntungan dan idealisme dalam pengelolaan usaha.
Artha dan Moksha sebagai spirit dan ethos kerja, pengetahuan dan bahkan keyakinan terhadap cita-cita hidup dan kehidupan ini menjadi kekuatan motivasi tanpa batas untuk berprestasi dan berkarya dalam kehidupan.
Moksha sebagai spirit untuk menggerakan roda perekonomian dan tantangannya.
Dari tokoh penggerak perekonomian dan inovator ekonomi ( apapun keyakinan keagamaannya ), kita bisa menyimak dan belajar, motivasi pokok dari kegiatan bisnisnya tidak semata-mata pencarian keuntungan pribadi, tetapi kepada hal-hal yang berdimensi sosial: memperluas kesempatan kerja, membuat karyawan lebih sejahtera, berkontribusi nyata untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya, dan tidak terlalu terikat pada pencapaian di atas. Tetapi tidak pernah berhenti untuk berbuat, dengan pamrih pribadi yang rendah. Spirit kehidupan yang sebenarnya dekat dengan Moksha.
Dharma dan Artha sebagai landasan etik prilaku, termasuk prilaku ekonomi. Sedangkan Kama dan Moksha sebagai energi penggerrak dari ethos kerja. Kama dalam pengertiannya yang luas: vitalitas energi kehidupan untuk berkarya dan menuju Moksha, di sini, di dunia maya ini.
Ada sejumlah tantangan yang dihadapi untuk mencapai kondisi ideal di atas.
1. Masyarakat umum tidak terlalu memahami konsepsi Moksha ini, dengan sejumlah alasan: terlalu abstrak mengawang-awang, sehingga tidak bisa berfungsi sebagai instrument motivator kehidupan.
2. Ada persepsi umum pada sebagian masyarakat, kegiatan ekonomi dengan motif mencari keuntungan, janganlah dikaitkan terlalu jauh dengan sastra keagamaan, terlebih-lebih cita-cita kehidupan Moksha, sehingga sastra keagamaan tidak menjadi landasan dan motivasi dalam dalam prilaku ekonomi.
3. Karena keterbatasn pengetahuan sebagian umat dan keengganannya untuk lebih serius belajar agama, muncul fenomena penafsiran yang salah tentang vairagya ( ketidak terikatan ), kerja tanpa pamrih, menjadi landasan pembenar, rasionalisasi dari kerja setengah hati, kemalasan kerja, kemasabodoan akan prestasi, ketakutan mengambil risiko yang ke semuanya destruktif terhadap pengembangan ethos kerja dan kemampuan bersaing.

Baca Juga :
Menhan: Negara Utang Budi Pada 53 Prajurit KRI Nanggala-402 Yang Gugur

Tujuan kehidupan menurut agama Hindu: Moksartam Jagathita kesejahteraan lahir dan batin, adalah tujuan kehidupan yang holistik. Tujuan kehidupan yang harmonis, tidak mempertentangkan antara nilai materi dan nilai rokhani.

Semestinya tujuan kehidupan menurut Hindu bisa menjadi energi penggerak, motivasi berkelanjutan – sustainable motivatian – bagi umat Hindu untuk berprestasi besar dalam kehidupan, termasuk prestasi di bidang ekonomi,tanpa keluar dari ” poros” cita-cita rokhani.
Sedangkan, Catur Purusha Artha dan juga Panca Sradha perlu ditafsirkan kembali secara benar, holistik untuk menjawab tantangan kini dan masa depan, bisa menjadi landasan kaya, memotivasi dari ajaran  Hukum Karma ( Karma Doktrin ) yang umumnya dijadikan rujukan  umat untuk berprilaku.
Dengan memegang teguh Moksatam Jagadhita, dengan rujukan etis dan ethos kerja  Catur Purusa Artha, umat Hindu semestinya dapat berprestasi besar dalam kehidupan termasuk di bidang ekonomi bisnis, tetapi tetap di jalur rokhani.
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, Ketua Pusat Kajian Hindu, penulis epilog dalam buku: Baliku Tersayang, Baliku Malang, Potret Otokritik Pembangunan Bali Satu Dasa Warsa  ( Dasa warsa 90’an ).

Leave a Comment

Your email address will not be published.