Pentingnya Memahami Pola Alam dalam Mendesain Kebun

Tanam Saja yang melakukan sekolah lapang bersama Perpustakaan Jalanan Tabanan.

Balinetizen.com, Tabanan-

 

Keselarasan dengan alam dapat dilihat dari upaya membangun perkebunan permakultur. Langkah ini terus diperjuangkan kawan-kawan Perpustakaan Jalanan Tabanan. Meskipun berbagai macam masalah kerap dihadapi, seperti kebun yang kekurangan sinar matahari, tanaman yang kerdil dan layu, hingga hama yang menyerang tanaman. Permasalahan ini tidak terlepas dari pengetahuan dalam mendesain kebun.

Untuk itu, Sabtu, 29 November 2020, Tanam Saja melakukan sekolah lapang bersama Perpustakaan Jalanan Tabanan. Bersama Roberto Hutabarat sebagai pakar dari Tanam Saja, sekolah lapang kali ini membahas desain kebun dengan konsep permakultur. “Berkebun adalah membangun ekosistem,” ungkap Roberto kepada kawan-kawan Perpustakaan Jalanan Tabanan.

Berangkat dari konsep tersebut, Roberto menyarankan pola kebun yang semestinya mengikuti alam. Pola tersebut antara lain, bentuk bedeng yang melingkar. Posisi bedeng pun lebih baik mengikuti arah datangnya sinar matahari. Hal ini merujuk pada permasalahan kebun Perjal Tabanan yang ditutupi pohon dan bangunan tinggi, sehingga kebun hanya terkena sinar matahari pada pagi hingga siang hari.

Hadirnya bedeng di kebun yang terletak di Kota Tabanan ini nantinya akan menghemat biaya dan menjaga nutrisi tanah agar tidak hanyut ke areal lainnya. Pembatas bedeng yang biasanya menggunakan genteng, batu, ataupun sabut kelapa selain menahan tanah, juga memberikan akses lebih baik untuk berkebun. “Pada prinsipnya tanah untuk berkebun tidak boleh terlepas,” kata Roberto. Maka dari itu kehadiran bedeng pada perkebunan permakultur sangatlah penting.

Sesudah bedeng terbentuk, langkah selanjutnya yaitu penentuan tanaman yang akan ditanam. Dalam hal ini, keanekaragaman ataupun variasi tanaman sangatlah penting. Roberto pun menyarankan untuk menanam tanaman herbal dan umbi-umbian yang tidak terlalu memerlukan perawatan yang intens. Kemudian tanaman bunga, seperti matahari yang posisinya ditaruh pada pinggiran bedeng untuk melindungi tanaman di dalamnya, seperti sayur. “Menanam bunga akan mengundang kupu-kupu, lebah, dan kumbang yang akan memangsa hama dan menyerbukan tanaman,” jelas Roberto.

Baca Juga :
I Gede Agustawan,SH Terpilih Sebagai Perbekel Antar Waktu Desa Tajun

Langkah selanjutnya yaitu mengetahui unsur-unsur yang terkandung dalam tanah. Kebun di villa yang sudah tidak beroperasi ini memiliki tanah yang netral cenderung asam. Maka dari itu, perlu penambahan kompos dan bahan-bahan organik lainnya. Selain untuk menetralkan tanah, kompos juga akan menambah unsur hara pada tanah. Kemudian penambahan mulsa pada bedeng juga mampu melembabkan tanah, menyimpan panas dan air, menangkal gulma, terlebih mulsa juga tempat di mana predator hama bersarang.

Setelah memperhatikan tanah dan sinar matahari dalam mendesain kebun, penting juga memperhitungkan aliran air di kebun. Sistem irigasi dalam permakultur perlu memperhatikan tiga prinsip yaitu memperlambat, menyebar, dan menenggelamkan. Ketiga prinsip tersebut merupakan adopsi dari sistem yang diciptakan alam.

Dari sekolah lapang ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain kebun yaitu kesanggupan pemilik kebun dalam merawat tanamannya, sistem yang mengikuti pola alam, dan upaya-upaya untuk memaksimalkan energi yang diberikan alam. “Pola alam bukan hanya untuk dekorasi, namun mengikuti energi, seperti arah matahari dan aliran air,” jelas Roberto sebelum mengakhiri sesi pemaparan materi sekolah lapang.

 

Editor : Mahatma Tantra

Leave a Comment

Your email address will not be published.