Pesona Mercedes-Benz Classic Dalam Guratan Kanvas 10 Seniman Bali

Avatar
Yudha Bantono, Penggiat Seni dan Budaya serta penulis tinggal di Bali di Kebon Cars Vintage.

Balinetizen.com, Denpasar-

 

Mobil Mercy itu tampilannya yang elegan dan sangat sexy, Tak heran sudah jutaan orang menggoreskan lekuk bodynya melalui goresan lukisan diseluruh dunia, Kali ini Kebon Vintage Cars di Kawasan Biaung Denpasar juga mencatatkan sejarah inspirasi mobil klasik asal negara Jerman tersebut Pada pameran yang digagas oleh Mercedes-Benz Classic Club Bali (MCCB), bahkan Wagub Bali Cok Ace juga mendukung kegiatan yang mengarah kepada promosi wisata Pulau Dewata tersebut, tentu ada pertanyaan yang mengendap di kepala bagi siapapun yang melihat karya-karya lukisan dari 10 seniman Bali ini. Mengapa Mercedes-Benz Classic menarik minat seniman yang rata-rata memiliki perjalananan panjang berkesenian ini kiranya ingin dihadirkan dihadapan publik penikmat seni rupa maupun Mercedes-Benz ?.

Jelasnya ada perhatian dan gairah yang serius dari setiap seniman ketika disodori gagasan untuk menghasilkan karya dengan tema “spirit dari seni mendedikasikan diri bagi kecintaan pada Mercedes-Benz Classic”.

“Saya kira, inilah pameran dari sepuluh seniman diantaranya I Made Budhiana, Made Wiradana, Made Anyon Muliastra, Made Romi Sukadana, V. Dedy Reru, Pande Nyoman Alit Wijaya Suta, Made Palguna, Made Duatmika, Kadek Armika dan Made Oka. Mereka bertolak dari gaya maupun teknik melukis yang ditekuni. Sangat terlihat jelas nafas-nafas karya yang merefleksikan bagaimana masing-masing dari mereka berkarya,” kata Yudha Bantono, Penggiat Seni dan Budaya serta penulis tinggal di Bali di Kebon Cars Vintage.

Materi akrilik, cat air mapun kopi di atas kanvas yang rata-rata berukuran 60×50 CM berhasil meletakkan visualisasi Mercedes-Benz klasik dengan latar atmosphere Bali. Karya V Dedy Reru dengan memadukan acrylic dan kopi di atas kanvas seperti menghadirkan suasana Bali masa lampau pada zaman kerjaan sangat pas dipadukan dengan type Mercedes-Benz klasik.

Baca Juga :
Perkuat Hubungan Bisnis dan Pendidikan, Equity Life Indonesia dan Politeknik Negeri Bali Tandatangani Naskah Kerjasama

Berikut pula I Made Romi Sukadana sapuan cat air dalam lapisan warna-warnanya solah mengalir bebas menemukan padanan serasi antara alam Bali dan Mercede-Benz Classic. Made Wiradana menghadirkan garis-garis yang menonjol dan kuat dalam menggarap Mercedes-Benz klasik terpadu bersama bangunan pura-pura. Karakter garis-garis Wiradana sangat nampak ingin menghadirkan harmonisasi karakter Mercedes-Benz klasik dengan arsitektur pura-pura yang ada di Bali.

Made Anyon Muliastra menghadirkan identitas kultur Bali melalui tari, barong dan arsitektur pura sebagai citraan “Mercedes-Menz Classic” dan elemen budaya Bali. Made Palguna dengan suasana Bali dalam dinamika perubahannya dengan simbolisme orang-orang maupun huniannya sebagai dunia urban kekiniaan ia dekatkan dengan Mercedes-Benz klasik. Karya Made Palguna disamping indah disini ada kesan pula ia ingin menyampaikan gagasan kritis terhadap tanah kelahirannya.

Karya Pande Nyoman Alit Wijaya Suta ingin mengajak penikmat karyanya untuk berkontemplatif terhadap memori visual dari alam pedesaan Bali. Hadirnya Mercedes-Benz klasik seolah memiliki kecenderungan yang sama terhadap memori visual pada usia mobil yang ia lekatkan.

Made Duatmika, melalui karyanya ingin menampilkan kesan kekaguman terhadap Mercedes Benz klasik yang menjadi pesona tersendiri bila dihadirkan dalam balutan suasana dinamika kehidupan masyarakat. Kadek Dwi Armika sebagai seorang perupa yang juga arsitek sadar benar ingin menghadirkan Mercedes-Benz klasik secara utuh maupun bersinggungan dengan garis-garis yang membagi sekaligus meredam dalam meletakkan Mercedes-Benz klasik dalam sebuah bidang.

Made Oka, pelukis dari Bali Timur atau Karangasem dengan tegas ingin memberikan pencitraan terhadap alam Bali timur dengan menghadirkan Gunung Agung berdialog dengan Mercedes-Benz klasik. Made Oka saya kira tidak menyia-nyiakan kesempatan dalam membingkai gagasannya antara keindahan alam dan Mercedes-Benz menyatu dalam kesatuan yang harmonis.

Baca Juga :
Desa Adat Jenah di Evaluasi Tim Sabha Upadesa Kota Denpasar

Pada karya Made Budhiana, sapuan kuasnya yang khas dengan menghadirkan warna biru dan hitam melintasi garis-garis yang bersinggungan dengan Mercedes-Benz klasik, saya kira adalah bagian dari upayanya menerjemahkan dua objek yang sama-sama memiliki inspirasi kuat antara alam dan kendaraan. Budhiana yang sudah terbiasa melukis di alam terbuka sangat mudah memberikan citra kuat menghadirkan Mercedes-Benz klasik di tanah Bali.

Terbayang, jika dalam penggarapan karya hanya menampilkan keutuhan bentuk-bentuk desain Mercedes-Benz klasik saya kira sudah banyak terpublikasikan dalam karya drawing maupun fotografi. Inilah menariknya pameran 10 seniman yang memiliki semangat bersama dalam menghasilkan karya baru menghadirkan Mercedes-Benz klasik yang melekat dengan Bali dalam pembicaraan, alam, kultur, arsitektural dan masyarakatnya.

Dengan demikian, sesungguhnya dalam pameran semacam ini, yang menarik tidak hanya hasil karyanya, namun lebih dari itu adalah “proses menjadikan”-nya yang saya yakin sangat seru. Saya menyadari setiap seniman memiliki prinsip maupun ego yang berbeda-beda, selanjutnya bagaimana prinsip dan ego itu harus bertemu dalam spirit yang sama dengan saling menyesuaikan. Contoh kecil pengalaman V. Dedy Reru yang menggarap Mercedes Benz klasik ia ketemukan dengan ingatan masa lalu Bali. Sebuah lompatan yang jauh dalam menganalogikan Mercedes-Benz dan Kultur Bali yang keduanya memiliki peradaban kuat dalam perjalanannya. Ini baru berbicara tentang dua peradaban kultur dan otomotif. Belum pengalaman seniman lainnya, dan sekali lagi inilah menariknya pameran ini.

Dengan mengusung spirit Bali dan Mercedes-Benz, kesepuluh seniman yang berpameran lebih tahu apa yang harus ditampilkan untuk menjadikan pameran kali ini penuh surprise dan tidak biasa. (hd)

 

Editor : Mahatma Tantra

Leave a Comment

Your email address will not be published.