Renungan Akhir Tahun, Risiko Krisis Diri dan Bayang-bayang Corona

Avatar

Oleh: I Gde Sudibya

Tidak sedikit pengamat memberikan  label tahun 2020 yang akan segera berakhir sebagai  tahun Corona, karena selama 10 bulan , manusia di bumi sangat direpotkan dengan upaya menanggulangi pandemi Covid-19 baik dari sisi kesehatan dan juga dampak besar sosial ekonomi yang menyertainya. Berdasarkan data per 15 Desember 2020, jumlah orang yang terpapar di seluruh dunia: sekitar 71,69 juta orang dan jumlah korban meninggal sekitar 1.6 juta orang.
Diberitakan vaksin untuk melawan virus telah diketemukan oleh: Pfizer dan Moderna, yang masing-masing mengklaim punya efekrivitas 95 persen dan 94.1 persen tingkat efektivitasnya mencegah munculnya gejala terkait Covid-19. Penemuan vaksin, memberikan harapan, tetapi bukanlah panasea ( obat mujarab menyelesaikan segalanya ), karena sejumlah faktor: ketersediaan vaksin yang dibutuhkan, distribusinya, time table ketat untuk vaksinasi untuk menjamin vaksinasi efektif, proses vaksinasi bisa menjadi agenda politik, bisa menjadi kekuatan lunak ( soft power ) dalam percaturan kepentingan antar negara, yang membuat vaksinasi menjadi berkepanjangan, biayanya mahal dan bisa tidak efektif.
Di samping banyak negara, masa pandeminya belum di masa puncak, sehingga proses vaksinasi berbarengan dengan  upaya penanggulangan pandemi, yang segi kebijakan, kondisi ini tidaklah mudah. Sudah muncul strain, varian virus baru penyebab Covid-19, yang telah menjadi pandemi gelombang ke dua di beberapa negara, yang diperkirakan berdampak tidak kalah serius dibandingkan dengan gelombang pertama, dalam hal: penularan dan dampak sosial ekonomi yang menyertainya. Sehingga di tahun 2021 yang akan segera hadir, isu tentang: vaksin, vaksinasi, isu politicking yang menyertainya, kerja lanjutan untuk menanggulangi pandemi, ” warisan ” tahun 2020, akan menjadi isu utama di bulan-bulan pertama tahun 2021.

Keadaan yang kelihatannya  belum begitu menggembiran di bulan-bulan pertama tahun 2021 terhadap: upaya penanggulangan pandemi dan juga pemulihan ekonomi. Tetapi patut dicatat: prediksi pemerintah tentang pertumbuhan ekonomi nasional  tahun depan, dan juga prediksi Bank Dunia, IMF, Bank Pembangunan Asia terhadap ekonomi dunia pada umumnya, sangat positif, pertumbuhan ekonomi akan pulih kembali seperti sebelum pandemi. Ini berarti asumsinya: pandemi secara efektif dapat dikendalikan dan pemulihan ekonomi berlangsung lebih cepat tahun 2021. Apakah prediksi ekonomi yang optimis ini akan menjadi kenyataan, kita simak realitasnya di tahun depan. bersambung.

Baca Juga :
SMP Negeri 2 Banjarangkan Ikuti Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional
 Media Sosial: Ancaman dan Peluang
Algorithma komputer yang melahirkan internet is everythings, memberikan kesempatan luar biasa bagi netizen cerdas, kemauan dan kemampuan belajar tinggi untuk trials and erors pada begitu banyak kesempatan, untuk melakukan inovasi dan invensi pada seluruh sisi kehidupan. Inovasi, invensi yang memberikan kegairahan kehidupan, harapan, motivasi berkelanjutan di tengah arus deras perubahan yang berlangsung begitu cepat.
Idola kalangan netizen muda umumnya, inovator dan inventor di dunia industri IT yang karena:  kecerdasannya, keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca peluang global sehingga mampu berprestasi besar termasuk dalam artian finansial dalam kurun waktu yang cepat.
Tetapi era ini, juga ditandai oleh ” rimba raya ” media sosial yang kontennya penuh sesak dengan: pornografi,kebohongan, ujaran kebencian, berita  ulasan palsu yang secara sengaja diciptakan dengan target tertentu, keisengan, dan ikut arus komunitas yang diikuti. Sehingga ” menu ” info yang kita terima setiap harinya, berlangsung deras, bermuatan: kepalsuan, kebohongan, kebencian, rasa iri hati yang ke semuanya ini nir kecerdasan. Merasuki, pikiran,cara berpikir, suasana hati dan bahkan sistem keyakinan kita. Kalau netizen tidak menyadarinya, kurang cerdas memilahnya, pribadi yang kurang kuat ( rentan stres, mudah galau, gampang hanyut dengan sensasi, embrio depresi ), bisa menjadi ” mangsa ” dan kemudian jadi korban dari ” keganasan ” informasi di ” rimba raya ” media sosial. Ironi dan tragisnya, ” produsen ” dari konten destruktif di atas, datang dari kalangan yang mengklaim dirinya: agamawan, ilmuwan, dan juga politisi yang ngakunya negarawan, dan netizen lainnya dengan kategori beragam.
Pribadi rapuh ini, yang ” disumbangkan ” oleh media sosial ini,  sebetulnya sedang mengalami apa yang disebut dalam Veda/Vedanta dengan: self destruction, penghancuran diri sendiri secara mental psikologis.
 Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung 10 bulan, telah membuka kotak pandora kehidupan manusia pada umumnya, meminjam istilah sejarahwan ternama: Yuval Noah Harari, dalam SAPIENS, pertumbuhan ekonomi telah menjadi agama baru, dimana tolok ukur kehidupan sangat ditentukan oleh: pertumbuhan ekonomi itu sendiri, produktivitas, efisiensi, investasi dan ukuran-ukuran lainnya, yang intinya: uang dan nilai uang menjadi tolok ukur yang begitu dominan dalam me motivasi manusia. Dalam pandangan ilmuwan sosial penganut Marxian: hubungan produksi yang merupakan bangunan ” bawah”masyarakat, akan menentukan bangunan ” atasnya”: cara berpikir masyarakat dan kebijakan negara.
Dalam uraian singkat dan sederhana di atas, pandemi Covid-19, kegagalan dalam penanganannya dari sisi: penularan dan upaya pemulihan ekonomi, ” keganasan ” media sosial yang tidak terkendalikan, bisa berakibat: proses penghancuran diri warga berlangsung dengan intensitas lebih tinggi, bisa berwujud luar: homo homini lupus, manusia menjadi srigala ke sesamanya, dalam lingkup luas dengan intensitas tinggi.
Dalam masa liburan tahun baru 2021 yang semestinya stayvacation, ” liburan di rumah saja ” untuk menekan penyebaran pandemi, risiko self destruction, menjadi pantas untuk bahan perenungan dalam memasuki dan menapaki tahun baru 2021.
Sebagai penutup renungan ini, menjadi menarik untuk disimak pemikiran filsof Yunani: Epicurus yang diperkirakan hidup beberapa abad sebelum masehi, termuat dalam buku sejarahwan Yuval Noah Harari dalam:  HOMO DEUS, Masa Depan Umat Manusia: ” Pencarian membabi buta terhadap uang, ketenaran, dan kesenangan hanya akan membuat kita menderita. Kebahagiaan adalah kebaikan yang tertinggi, dan kerja keraslah yang bisa membawa kebahagiaan “. Selamat Tahun Baru 2021.
Rahayu.
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, ekonom, konsultan dan pembicara publik untuk pengembangan SDM.

Leave a Comment

Your email address will not be published.