Asuransi Ternak Lampaui Target, Asuransi Pertanian Belum Maksimal

Avatar
Kadis Pertanian dan Pangan Pemkab Jembrana Wayan Sutama

Balinetizen.com, Jembrana-

 

Minat petani subak di Kabupaten Jembrana untuk mengikuti asuransi pertanian belum maksimal. Disisi lain asuransi usaha ternak sapi (UTS) melebihi target.

Kadis Pertanian dan Pangan Pemkab Jembrana Wayan Sutama mengatakan bahwa tujuan dari asuransi pertanian atau asuransi usaha tani padi (AUTP) untuk melindungi petani dari kerugian lebih fatal akibat gagal panen. Namun hingga memasuki awal tahun 2021 ini, target 5000 hektar belum juga tercapai.

“Memang sudah lebih dari 50 persen. Data sampai awal tahun ini baru 3000 hektar yang sudah diasuransikan. Ini belum maksimal karena belum mencapai target” ujar Sutama belum lama.

Ada beberapa faktor disebutnya sebagai penyebab sehingga masih banyak anggota subak yang belum mengikuti AUTP. Salah satunya sebagian anggota subak beranggapan bahkan berkeyakinan bahwa padi yang ditanam tidak akan bermasalah. Anggapan ini ditemukan disetiap melakukan sosialisasi ke subak-subak di Jembrana, termasuk oleh petugas penyuluh pertanian.

“Kita rutin melaksanakan sosialisasi. Respon mereka sangat bagus. Cuma mereka tetap beranggapan bahwa padi yang ditanam tidak ada masalah” jelas Sutama.

Anggota subak yang ikut asuransi pertanian (AUTP) sambungnya, tidak membayar penuh sesuai premi yang ditetapkan. Namun hanya sebesar Rp.36 ribu per hektar per musim dari premi sebesar Rp.186 ribu karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Sedangkan klaim yang didapat akibat gagal panen lanjutnya, mencapai Rp.6 juta per hektar per musim. “Untuk mendapatkan klaim asuransi nanti dilihat dari tingkat kerusakan padi. Ini ada timnya” imbuhnya.

Ditambahkan Sutama untuk bisa mengikuti asuransi pertanian (AUTP) sebenarnya sangat mudah. Petani atau anggota subak cukup menyerahkan fotocopy KTP dan mengisi formulir. “Formulirnya sudah ada. Kalau tidak bisa nanti dibantu petugas penyuluh” tandasnya.

Baca Juga :
Berkekuatan Hukum Tetap, Kejaksaan Musnahkan Barang Bukti Ganja dan Sabu

Selain asuransi pertanian kata Sutama, pemerintah juga menggelontorkan asuransi usaha ternak sapi (AUTS). Klaim dari asuransi ini sebesar Rp.10 juta per ekor, jika ternak sapi peliharaan mati. Untuk dapat mengikuti asuransi ini peternak sapi harus sebagai anggota kelompok sapi dengan jumlah sapi minimal 20 ekor.

“Yang ikut asuransi ini sudah melebihi target. Target kita 300 ekor, tapi yang ikut 401 ekor dengan 14 kelompok. Setiap kelompok jumlah sapinya berbeda-beda” terang Sutama.

Dalam hal pembayaran premi, kelompok sapi yang ikut AUTS juga mendapat subsidi sebesar Rp.160 ribu. Sehingga dari premi Rp.200 ribu per ekor sapi per tahun yang harus dibayar, kelompok sapi hanya membayar Rp.40 ribu.

Sementara sapi yang diasuransikan menurutnya sapi yang sudah berumur 2 tahun dan beranak sampai delapan kali atau berusia 14 tahun. “Untuk (mendapatkan) klaim, begitu sapi mati segera dilaporkan karena harus dibuatkan berita acara. Ini juga ada timnya, termasuk dari penyuluh ternak dan dokter hewan” pungkasnya. (Komang Tole)

 

Editor : Mahatma Tantra

Leave a Comment

Your email address will not be published.