Umbu Landu Paranggi Tutup Usia

Avatar

 

Almarhum Umbu Landu Paranggi

 

Balinetizen.com, Denpasar

Umbu Landu Paranggi (Presiden Malioboro) menghembuskan nafas terakhir Selasa (6/4) dini hari sekitar pukul 03.55 di Rumah Sakit Bali Mandara. Sejumlah sahabatnya telah mengunggah kepergian penyair besar itu di sejumlah media sosial. Selamat jalan bang Umbu. Semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

Umbu Wulang Landu Paranggi (lahir  di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur, 10 Agustus 1943; umur 77 tahun)adalah seniman berkebangsaan Indonesia yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisi yang dipublikasikan di berbagai media massa. Umbu merupakan penyair sekaligus guru bagi para penyair muda pada zamannya, antara lain Emha Ainun NadjibEko TunasLinus Suryadi AG, dan lain-lain.
Umbu Landu Paranggi “Presiden Malioboro” dikenal sebagai tokoh misterius dalam Dunia Sastra Indonesia sejak 1960-an. Ia seperti berusaha menjauh dari popularitas dan publik, konon sering “menggelandang” sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya.

Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “PUPUK” saja. “Kalau ada kata untuk mengungkapkan yang lebih sederhana, saya akan memakainya”.

Begitu kata salah satu muridnya ketika menggambarkan kesederhaan gurunya. “Kamu boleh mengidolakan seseorang, tapi jadilah dirimu sendiri”. Itulah salah satu kata yang pernah keluar dari bibir Umbu Landu Paranggi.

Mungkin bagi sebagian orang nama tersebut cukup asing, namun perlu diketahui dialah yang turut menjadi perantara lahirnya beberapa Sastrawan kenamaan Indonesia seperti Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, Linus Suryadi AG, Ebiet G Ade dan lain-lain.

Bagi Cak Nun (Emha Ainun Najib), Umbu Landu Paranggi adalah tokoh yang dikaguminya dan sangatlah berpengaruh dalam banyak hal. Dialah Sang Presiden Malioboro yang dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisi yang pernah dipublikasikan di berbagai media massa.

Baca Juga :
Cegah Covid-19, Satgas Yonif 642 Bersama Stakeholder Laksanakan Apel Sterilisasi dan Penegakan Protokol Kesehatan di Wilayah Perbatasan

Umbu Wulang Landu Paranggi adalah nama lengkap tokoh ini. Dia adalah seorang bangsawan yang pernah dilahirkan di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada 10 Agustus 1943. Petualangannya dimulai sejak SMP, dimana dia bermaksud melanjutkan pendidikan di pulau Jawa, tepatnya di Taman Siswa Yogyakarta.

Umbu sangatlah tertarik bersekolah di Taman Siswa terlebih karena terkesan dengan model pengajaran Ki Hajar Dewantara yang diterapkan di Taman Siswa. Hanya saja saat itu perjalanan kapal laut mengalami keterlambatan, sehingga sampai di Jogja pendaftaran di Taman Siswa sudah ditutup.

Akhirnya dia memilih mendaftar di SMA BOPKRI I. Ketika bersekolah di SMA Bopkri itulah kebiasaannya menulis puisi tumbuh subur. Di sekolah SMA itu pula Umbu menemukan seorang guru yang baginya ikut mempengaruhi jalan hidupnya kemudian.

Setiap kali ada pelajaran guru itu, Umbu suka diam-diam menulis puisi. Sejak saat itu Umbu rajin menulis puisi dan kemudian di muat di beberapa koran. Setelah lulus ia melanjutkan ke Fakultas Sosial Politik di Universitas Gadjah Mada jurusan Sosiatri dan di Universitas Janabadra jurusan hukum.

Tetapi kuliahnya di 2 universitas itu gagal, tidak dilanjutkan. Gagal juga memenuhi harapan orang tuanya untuk menggantikan kedudukan di kampung halamannya. Umbu dikenal sebagai tokoh misterius dalam Dunia Sastra Indonesia sejak 1960-an.

Ia seperti berusaha menjauh dari popularitas dan publik. Konon sering “menggelandang” sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas. Tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “PUPUK” saja.

“Kalau ada kata untuk mengungkapkan yang lebih sederhana, saya akan memakainya”, begitu kata salah satu muridnya ketika menggambarkan kesederhaan gurunya. “Kamu boleh mengidolakan seseorang, tapi jadilah dirimu sendiri”. Itulah salah satu kata yang pernah keluar dari bibir Umbu Landu Paranggi.

Baca Juga :
Tinjau NTT, Panglima dan Kapolri Fokuskan Evakuasi Korban dan Kirim Bantuan

Biografi Umbu Landu Paranggi

Mungkin bagi sebagian orang nama tersebut cukup asing, namun perlu diketahui dialah yang turut menjadi perantara lahirnya beberapa Sastrawan kenamaan Indonesia seperti Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, Linus Suryadi AG, Ebiet G Ade dan lain-lain.

Bagi Cak Nun (Emha Ainun Najib), Umbu Landu Paranggi adalah tokoh yang dikaguminya dan sangatlah berpengaruh dalam banyak hal. Dialah Sang Presiden Malioboro yang dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisi yang pernah dipublikasikan di berbagai media massa.

Umbu Wulang Landu Paranggi adalah nama lengkap tokoh ini. Dia adalah seorang bangsawan yang pernah dilahirkan di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada 10 Agustus 1943. Petualangannya dimulai sejak SMP, dimana dia bermaksud melanjutkan pendidikan di pulau Jawa, tepatnya di Taman Siswa Yogyakarta.

Umbu sangatlah tertarik bersekolah di Taman Siswa terlebih karena terkesan dengan model pengajaran Ki Hajar Dewantara yang diterapkan di Taman Siswa. Hanya saja saat itu perjalanan kapal laut mengalami keterlambatan, sehingga sampai di Jogja pendaftaran di Taman Siswa sudah ditutup.

Akhirnya dia memilih mendaftar di SMA BOPKRI I. Ketika bersekolah di SMA Bopkri itulah kebiasaannya menulis puisi tumbuh subur. Di sekolah SMA itu pula Umbu menemukan seorang guru yang baginya ikut mempengaruhi jalan hidupnya kemudian.

Setiap kali ada pelajaran guru itu, Umbu suka diam-diam menulis puisi. Sejak saat itu Umbu rajin menulis puisi dan kemudian di muat di beberapa koran. Setelah lulus ia melanjutkan ke Fakultas Sosial Politik di Universitas Gadjah Mada jurusan Sosiatri dan di Universitas Janabadra jurusan hukum.

Tetapi kuliahnya di 2 universitas itu gagal, tidak dilanjutkan. Gagal juga memenuhi harapan orang tuanya untuk menggantikan kedudukan di kampung halamannya. Umbu dikenal sebagai tokoh misterius dalam Dunia Sastra Indonesia sejak 1960-an.

Baca Juga :
Rai Mantra Buka Gelar Seni Budaya ST. Tunjung Mekar, Br. Abianangka Klod, Gugah Semangat Kreatifitas Generasi Muda, Tekankan Pelestarian Seni Berkelanjutan

Ia seperti berusaha menjauh dari popularitas dan publik. Konon sering “menggelandang” sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas. Tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “PUPUK” saja.

“Kalau ada kata untuk mengungkapkan yang lebih sederhana, saya akan memakainya”, begitu kata salah satu muridnya ketika menggambarkan kesederhaan gurunya. “Kamu boleh mengidolakan seseorang, tapi jadilah dirimu sendiri”. Itulah salah satu kata yang pernah keluar dari bibir Umbu Landu Paranggi.

Julukan Presiden Malioboro

Julukan tersebut didapat ketika Umbu pada kisaran tahun 1970-an membentuk Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas penyair, sastrawan, seniman yang berpusat di Malioboro Yogyakarta. Melalui PSK,  ia turun ke kampung-kampung, ke kampus-kampus, ke sekolah-sekolah, ke surau dan masjid, ke pasar, ke pasar swalayan, ke kantor-kantor pemerintah, ke kantor swasta, ke pesantren, panti asuhan, dan se­ba­gainya.

Oleh karena anggota PSK tidak hanya terbatas di Yogyakarta, maka kegiatan itu dilakukan hampir serempak di seluruh Indonesia. Itulah sebabnya, tak salah rekan-rekan menggelarinya “Presiden Malioboro”. Komunitas yang dibentuknya tersebut di kemudian hari dikenal sebagai salah satu komunitas sastra yang sangat mempengaruhi perjalanan sastrawan-sastrawan besar di Indonesia.

Umbu dahulu juga dikenal sebagai seorang pemegang rubrik puisi dan sastra di Mingguan “Pelopor Yogya” yang berkantor di ujung utara Jl Malioboro Yogyakarta. Adapun pada kisaran tahun 1979, sosok penyair yang tulus terhadap karyanya ini kemudian pindah ke Bali dan menghabiskan masa tuanya sembari mengasuh rubrik Apresiasi di Bali Post. (Sut-dari berbagai sumber)

Leave a Comment

Your email address will not be published.