Tingkatkan Skil dan Kompetensi, Ratusan Medical Professional Ikuti Webinar Regenesis Open Education

 

Balinetizen.com, Jakarta
Ratusan medical professional ambil bagian dalam webinar dengan tema sunscreen atau losion tabir surya, belum lama ini. Webinar ini merupakan program dari Regenesis Open Education (ROE), sebuah platform edukasi dibawah PT Regenesis Indonesia.

Sunscreen dipilih menjadi tema webinar karena banyak hal yang harus diluruskan terkait pemakaian sunscreen ketika terjadi tren berjemur diri untuk mendapatkan vitamin D dimasa pandemi COVID 19 ini.

“Diharapkan para peserrta webinar yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, terapis dan para pengusaha bisnis estetik, menjadi lebih paham dan memiliki kesamaan persepsi tentang pentingnya sunscreen dan bagaimana aplikasinya. Terlebih lagi di masa pandemi COVID 19 sunbathing (berjemur) menjadi suatu keharusan,” demikian pernyataan resmi pihak Regenesis Indonesia.

Tampil sebagai pembicara antara lain Pimpinan bidang Edukasi Profesional dan Penelitian Rumah Sakit Pendidikan Dr Soetomo Surabaya, Prof. Cita Prakoeswa, MD, Ph.D, dan Kepala Divisi Dermatopatologi, KSM Dermatologi dan Venereologi RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dr. Sondang Panjaitan Sirait Sp.KK (K), Mpd.

Dalam webinar terungkap, paparan radiasi ultraviolet dari sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan pada kulit yang dinamakan photodamaged. Derajat kerusakan berbeda tergantung dari spectrum sinar ultraviolet yang memapar kulit.

Berdasarkan panjang gelombangnya, ultraviolet dibagi menjadi tiga yaitu, UVA, UVB, dan UVC. UVA mendominasi 95 persen sinar matahari, bisa masuk ke permukaan bumi dan menembus ozon, awan, jendela kaca dan menembus ke kulit bagian dalam. Ini bisa memicu terjadinya photoaging dan resiko kanker kulit.

Sedangkan UVB hanya 5 persen dari sinar matahari, dapat menyebabkan kulit terbakar dan berwarna gelap.

Efektifitas sunscreen untuk melindungi kulit ditentukan oleh nilai sun protection factor (SPF). Sejauh ini ada beberapa jenis tabir surya dengan kandungan Sun Protection Factor (SPF) berbeda, misalnya SPF 15, SPF 30, SPF 50, dan SPF 100. Semakin tinggi kandungan SPF dalam sunscreen atau maka semakin efektif untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet.

Baca Juga :
BNPB Akan Berikan Dana Stimulan Bagi Rumah Rusak Akibat Gempa Sulbar

Terdapat dua jenis sunscreen yakni physical dan chemical. Physical sunscreen umumnya berwarna putih, dengan kandungan titanium oxide dan zinc oxide. Bekerja dengan memantulkan radiasi ultraviolet, direkomendasikan penggunaannya untuk anak.

Sedangkan chemical sunscreen umumnya berwarna menyerupai dasar bedak, bekerja dengan menyerap radiasi ultraviolet dan mengubahnya menjadi panas. Kandungannya antara lain avobenzone, oxybenzone .

Yang perlu dicatat, penggunaan sunscreen tidak menghambat penyerapan vitamin D dari paparan ultraviolet B, saat kita berjemur. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published.