Refleksi 30 Tahun Gung Widiada Berpolitik, Jadikan Galungan Momentum Mulat Sarira, Kalahkan Sad Ripu, Berpolitik di Jalan Dharma

Foto: Ketua Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Denpasar yang juga  Wakil Ketua Bidang Pemilihan Umum DPW Partai NasDem Provinsi Bali AA Ngurah Gede Widiada yang akrab disapa Gung Widiada, mengucapkan selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Balinetizen.com, Denpasar

Setiap perayaan Hari Suci Galungan menjadi momentum yang istimewa bagi panglingsir Puri Peguyangan Denpasar dan politisi kawakan AA Ngurah Gede Widiada yang akrab disapa Gung Widiada.

Sebagai seorang politisi dengan pengalaman panjang selama 30 tahun bergelut di panggung politik, momentum Galungan selalu dijadikan kesempatan untuk melakukan introspeksi diri, mulat sarira sesuai makna dan filosofi hari suci Galungan sebagai perayaan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma.

“Bagi saya yang sudah 30 tahun berpolitik,  setiap enam bulan penampahan Galungan dan Galungan adalah momentum introspeksi diri, mulat sarira. Dalam tafsir lontar yang ada Galungan adalah  momentum kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma, kemenangan mengalahkan enam musuh dalam diri manusia yang disebut Sad Ripu,” tutur Gung Widiada ditemui di Puri Peguyangan Denpasar, Selasa (9/11/2021) bertepatan dengan Hari Penampahan Galungan, sehari jelang Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu (10/11/2021).

Adapun bagian-bagian dari Sad Ripu, yaitu kama atau hawa nafsu, lobha atau rakus, kroda atau marah, mada atau mabuk, matsarya atau iri hati, dan moha atau bingung. Sad Ripu sebagai enam musuh dalam diri ini tentunya lebih berbahaya dari musuh di luar diri yang kasat mata.

Sebagai seorang politisi senior yang sudah 30 tahun di politik, pergulatan melawan Sad Ripu menjadi bagian proses perjalanan politik Gung Widiada dimulai saat dirinya masuk Golkar, lalu menjadi wakil rakyat di DPRD Kota Denpasar selama empat periode dan pernah menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar dari Golkar.

Baca Juga :
Intensitas Penyebaran Covid-19 di Denpasar Meningkat, Walikota Keluarkan SE, Sistem Kerja ASN Ikuti Zona Resiko Wilayah

Dinamika politik di tubuh Partai Beringin kemudian mengantarkan Gung Widiada bernaung di bawah bendera Partai NasDem dan terpilih kembali sebagai Anggota DPRD Kota Denpasar dari NasDem pada Pileg 2014. Selanjutnya pada Pileg 2019, Gung Widiada terpilih kembali sebagai Anggota Dewan, yang menjadi periode kedua sebagai wakil rakyat dari NasDem.

“Dalam 30 tahun itu saya berada di dua periode partai politik. Periode pertama saya di Golkar, periode kedua yang hampir satu dekade saya ada di NasDem,” kata Gung Widiada yang kini bertugas di Komisi IV DPRD Kota Denpasar.

Sebagai politisi, Gung Widiada setiap enam bulan memaknai Galungan sebagai refleksi dan tolak ukur proses perjalanan politiknya yang kini sudah hampir satu dekade di bawah bendera NasDem yang mengusung gerakan restorasi, gerakan perubahan dan kini NasDem juga memasuki usia 10 tahun dan bersiap merayakan HUT ke-10 pada 11 November 2021 ini.

“Saya hampir satu dekade di NasDem dengan misi politik gerakan restorasi dan perubahan. Saya mensyukuri atas proses berjalan karena selalu diberikan kesempatan dalam perayaan Hari Suci Galungan untuk mengendalikan Sad Ripu, enam musuh yang ada dalam diri. Ada pameo punya satu musuh saja sudah berat, apalagi ini ada enam musuh yang harus kita lawan dalam diri,” ungkapnya.

Gung Widiada mengaku bersyukur bisa menjalani proses perjalanan dan pendewasaan politik dengan baik namun tentu diakuinya masih banyak ada kekurangan yang menjadi catatan dan bahan perenungan untuk melakukan perubahan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat Denpasar.

Dalam mengemban tugas di Partai NasDem dengan mengusung gerakan perubahan, Gung Widiada berusaha mengimplementasikan secara nyata spirit gerakan restorasi, gerakan perubahan. “Walaupun tidak gampang dan kita melihat setiap tahun perkembangan politik dinamika semakin berbeda,” ujar Ketua Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Denpasar ini.

Baca Juga :
Bhakti Penganyar Pemkab Bangli di Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang

Di sisi lain Gung Widiada mengaku berbangga dengan politik gagasan yang tetap dipegang teguh Partai NasDem di bawah kepemimpinan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.

“Beliau Ketua Partai yang selalu mengharapkan kadernya bisa memegang teguh kejujuran, bersikap rendah hati, sesuai juga dengan makna Hari Suci Galungan agar kader NasDem mampu mengendalikan Sad Ripu, melawan musuh dalam diri sehingga kita tetap berada di jalan Dharma, jalan kebenaran. Tentu Dharma, kebenaran yang utama buat kita dalam menjalani politik,” papar Gung Widiada.

Menurutnya yang menonjol dalam persaingan politik memang Sad Ripu ini. Yang paling jelas adanya nafsu kekuasaan dan juga praktik korupsi yang akarnya adalah ketamakan.  “Korupsi itu kan jelas ketamakan, bahkan korupsi seperti menjadi sebuah trend dalam kehidupan kekuasaan. Yang banyak korupsi pejabat di pusat, di nasional dan jangan sampai merembet di daerah,” urai Gung Widiada.

“Tentu saya sebagai kader Partai NasDem, berusaha tidak terjebak oleh enam musuh itu. Ini memang berat, dibutuhkan etika moralitas dan partai NasDem ada di track itu.  Dibutuhkan kader NasDem bersikap rendah hati, berada di tengah-tengah masyarakat, berbagi seikhlasnya, semampunya, dan mari Bersatu Membangun Bali,” imbuh Wakil Ketua Bidang Pemilihan Umum DPW Partai NasDem Provinsi Bali ini.

Terkait upaya mengalahkan Sad Ripu itu, momentum Galungan bagi Gung Widiada tentu menjadi kesempatan kontemplatif. “Sebab kebenaran itu bersifat transendental, kaitannya dengan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan kepercayaan adanya karma pala sebagaimana yang diyakini umat Hindu di Bali,” sambungnya.

Di sisi lain Gung Widiada juga menyadari di tengah suasana pandemi Covid-19 membawa ide gagasan dan suatu gerakan perubahan merupakan suatu hal yang sangat sulit apalagi masyarakat tengah mengalami situasi cukup berat dalam memenuhi kebutuhannya. Secara psikologis, masyarakat juga berada dalam kondisi lelah, jenuh dengan kondisi pandemi.

Baca Juga :
Bupati Suwirta Pantau Perencanaan Pelayanan 100% Air Bersih di Kabupaten Klungkung

Namun Gung Widiada mengajak segenap elemen masyarakat jangan sampai menyerah apalagi lengah. “Kita harus tetap bersyukur Bali berada pada level yang tidak rentan. Tapi yang paling perlu mendapat perhatian kita di tengah adanya ancaman penyebaran Covid-19 gelombang ketiga, tentu kondisi ini harus jadi kewaspadaan semua pihak baik pemerintah dan masyarakat agar tetap menjaga prokes. Umat sedharma, warga Bali, kita tidak boleh lengah,” pungkasnya. (dan)

Leave a Comment

Your email address will not be published.