Pentingnya Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber bagi Bali

Oleh : I Dewa Putu Gandita Rai Anom*

Dalam sebuah webinar yang hangat di bulan Juni 2021 lalu, Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Prof. Dr. Medrilzam mengatakan, Bali kini darurat sampah. Banyak tempat yang dulunya sangat disucikan kini dicemari sampah. Selokan air, saluran irigasi, sumber air, sungai, danau, laut, bahkan beji tempat melukat dicemari sampah plastik. Semua tempat pembuangan akhir (TPA) yang dibangun pemerintah kabupaten/kota juga sudah kelebihan sampah.
Sebelum Prof Medrilzam menyampaikan itu, sangat sering petani sawah kita mengeluh, petak sawah yang sudah mereka tanami padi rusak tertimpa banjir dan sampah, terutama sampah plastik. Saluran irigasi yang merupakan warisan subak sejak berabad-abad lalu juga tersumbat sampah. Di musim hujan, saluran irigasi itu meluapkan air ke petak sawah yang sudah ditanami padi — yang sesungguhnya sangat disucikan karena itu adalah personifikasi Dewi Sri sumber kehidupan dan kemakmuran — mengakibatkan tercabutnya padi, kemudian hanyut dan rusaknya sawah. Jika sudah demikian, petani yang semestinya segera melihat padinya menghijau terpaksa harus merapikan petak sawahnya lagi kemudian menanam padi kembali agar tidak kosong.

Penulis memiliki pengalaman betapa sampah menjadi pemicu meluapnya air selokan hingga merusak badan jalan beton yang dibangun dengan dana swadaya murni dan gotong royong warga. Saat itu penulis menjadi ketua tempek warga rantauan di Gang Walet Utara, Batubulan Kangin. Badan jalan dekat tembuku (titik pembagian air yang dibangun subak) rusak karena melubernya air selokan. Bersama pengurus lain penulis membersihkan sampah itu dengan cangkul. Ternyata sampah plastik lebih banyak daripada sampah alami. Yang sangat mengecewakan, dalam tumpukan sampah itu terdapat lima kampil dan tas kresek besar yang didalamnya berisi bangkai anjing (2 kampil), bangkai babi, dan bangkai ayam (2 bungkus) yang sudah membusuk. Begitu banyaknya tumpukan sampah, menyebabkan kami mandi keringat–karena harus membuat lubang untuk menanam bangkai anjing, babi dan ayam — bahkan keseleo urat pinggang.

Baca Juga :
Paparkan Kinerja Empat Tahun, Ny. Putri Koster Undang TP PKK, Dekranasda, PAKIS, serta PAI Se-Bali

Sumber sampah itu ternyata mudah dilacak, diantaranya adalah rumah tangga dan warung di tepi selokan air. Warga dan pemilik warung dengan sengaja membuang sampahnya ke selokan saat membersihkan rumah dan warung. Saat ditegur dengan enteng pemilik warung menjawab,”Beh ten tiyang gen Jik, nika di luanan akeh ngutang leluu di telabah. Bangken cicing mase kutanga meriki (Beh bukan saya saja Jik, itu di hulu banyak buang sampah ke selokan. Bangkai anjing pun dibuang ke selokan).” Warga lainnya menjawab berbeda. “Ten wenten genah Tu. Benjang yen sampun wenten tukang sampah tiyang nyarengin (Tak ada tempat Tu. Besok besok jika sudah ada tukang sampah, Saya mengikuti,” katanya.

Itulah sebagian gambaran persoalan sampah di Bali, menggambarkan betapa penghasil sampah dengan sengaja berperilaku membuang sampahnya ke selokan air dan tidak melakukan penanganan awal. Petani sawah menjadi korban dari perilaku penghasil sampah itu. Hal yang sama menimpa sungai, danau, tegalan dan laut kita. Khusus di tempat suci beji, sampah justeru dihasilkan oleh para pemedek yang menghaturkan sesajen berbungkus plastik serta oleh warga yang mandi membawa sampah plastik. Pengalaman penulis menjadi anggota Tim Desa Sadar Lingkungkan pada 2004 dan 2005 mendapatkan, kebanyakan sampah plastik di pur abeji berupa tas kresek, kantong plastik PPE, kemasan snack, dan kemasan sampo.

Volume sampah yang dihasilkan titik sampah itu memang tidak banyak. Namun, jika dikumpulkan menurut wilayah banjar, desa/kelurahan, kecamatan dan kabupaten/kota, menjadi sangat banyak. Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali melaporkan sampah yang masuk ke TPA Suwung saja mencapai 900 ton per hari! Sampah-sampah itu berasal dari rumah tangga, warung/toko, pasar, perkantoran, sekolah, ruang publik dan lingkungan di luar itu dari dua wilayah administrasi yakni Denpasar dan Badung. Itu menyebabkan TPA Suwung dengan luas sekitar 24 Ha kelebihan daya tampung. Tinggi tumpukan sampah mencapai 20 meter lebih. Itu sebabnya TPA Suwung ditutup.

Baca Juga :
Kejagung tetapkan 8 tersangka kasus korupsi Asabri

TPA Mandung Tabanan yang dibangun pada 2018 juga overload dengan tinggi tumpukan sampah lebih dari 15 meter dan disebut sebagai paling parah di Bali. Hal sama terjadi di TPA Bestala di Buleleng, TPA Peh di Jembrana dan TPA Linggasana di Karangasem. Gianyar tak mengalami hal itu karena sejak 2019 melakukan pengelolaan dan pengolahan sampah terpadu berbasis sumber. Klungkung telah menutup TPA Sente dan gencar melakukan pengelolaan sampah terpadu berbasis sumber. Kalau tak begitu, kedua wilayah mengalami nasib yang sama.

Ini menggambarkan betapa seriusnya permasalahan sampah di Bali. Hampir semua TPA sudah kelebihan daya muat. Padahal, ratusan ton sampah diproduksi terus per hari per kabupaten/kota. Belum yang tak terangkut. Itulah sebabnya Bali sudah darurat sampah. Mau kemana sampah itu dibuang? Di sembarangan tempat seperti kejadian 2018 saat TPA Suwung ditutup sementara, jelas bukan solusi. Bisa hancur reputasi Bali sebagai Pulau Dewata, daerah tujuan wisata internasional. Diolah jadi listrik? Ah itu hanya wacana sejak bertahun-tahun.

Mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kegagalan menjadikan listrik itu, membuat Pemerintah Provinsi Bali sampai pada kesimpulan bahwa sudah tidak efektif menangani dan mengolah sampah dengan sistem hilir seperti selama ini. Sudah tidak efektif lagi menangani dengan melepas begitu saja sampah untuk langsung dibuang ke TPS dan TPA. Keterbatasan lahan, peralatan, dampak pencemaran lingkungan dan dampak kesehatan baik di tingkat penghasil sampah — rumah tangga, warung/toko, pasar, sekolah, perkantoran, hotel/restoran, ruang publik, dan sebagainya — maupuan pada TPA pemerintah memaksa pemerintah harus cepat ambil solusi. Dan diterbitkannya Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Penanganan Sampah Berbasis Sumber.

Baca Juga :
Bantu Sembako, Seluruh Personil Polres Karangasem Sisihkan Gaji

Inti dari Pergub itu adalah mengubah tata cara penanganan dan pengelolaan sampah dari bertumpu pada penanganan di hilir menjadi penanganan dan pengelolaan di hulu, yaitu penanganan dan pengelolaan sampah dengan cara memilah jenis jenis sampah di tingkat produsen pertama sampah : rumah tangga. Dengan pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi pembuangan sampah ke TPA hingga 70% volume sampah harian. TPA pun tak lagi overload. Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga ini merupakan solusi terbaik untuk menangani masalah sampah Bali saat ini. Untuk mendukung hal ini pemerintah tengah gencar membangun TPS 3R dan TPS terpadu di tingkat desa/kelurahan dan kabupaten/kota. Ayo tangani sampahmu sendiri tanpa harus mengotori tetangga apalagi sawah pak tani kita.
*= Penulis : Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Madya Bappeda Provinsi Bali

Leave a Comment

Your email address will not be published.