Dituntut 3 Tahun, Zainal Tayeb Acungkan Jempol

Balinetizen.com, Denpasar

Sidang perkara tindak pidana dugaan memasukkan keterangan palsu dengan terdakwa, Zainal Tayeb, 65, sampai pada agenda pembacaan tuntutan dari tim jaksa penuntut umum (JPU) Imam Ramdhoni dkk, Selasa (16/11). Dalam sidang online dengan majelis hakim diketuai hakim Wayan Yasa, tiga orang jaksa yakni Dewa Lanang Raharja, Putu Sugiawan dan Imam Ramdhoni membacakan tuntutan secara bergantian.

Pada intinya, tim jaksa menyatakan Zainal Tayeb terbukti bersalah melakukan tindak pidana memasukkan keterangan palsu pada akta autentik sebagaimana dibeberkan dalam dakwaan kesatu. “Sesuai fakta-fakta di persidangan, berdasarkan keterangan saksi, keterangan ahli, keterangan terdakwa dan kesesuaian alat bukti yang diajukan di persidangan, penuntut umum berpendapat terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 266 ayat (1) KUHP,”kata jaksa.
Oleh Karena itu, jaksa memohon pada majelis hakim agar menjatuhkan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, dengan menetapkan lamanya masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan, dan menyatakan terdakwa untuk tetap ditahan. Penuntut umum juga menyatakan barang bukti semuanya dikembalikan kepada saksi korban Hedar Giacomo Boy Syam.

Disisi lain, Mahkmah Agung (MA) pada 3 November 2021 telah memutus menolak kasasi jaksa atas putusan bebas PN Denpasar pada terdakwa Yuri Pranatomo. Yuri sebelumnya dilaporkan oleh Hedar Giacomo Boy Syam memasukkan keterangan palsu dalam akta 33, terkait kerjasama antara Zainal Tayeb dengan Hedar dalam pengelolaan dan penjualan perumahan di Cemagi, Badung. Oleh jaksa Agung Teja dari Kejari Badung, Yuri dituntut 2 tahun penjara. Majelis hakim PN Denpasar yang diketuai Hari Supriyanto tidak sependapat dengan jaksa dan memutus bebas murni. Atas putusan ini, jaksa ajukan kasasi namun kembali ditolak oleh majelis hakim MA yakni Hidayat Manau, Brigjen TNI Sugeng Sutrisno dan Burhan Dahlan.
Kembali ke tuntutan Zainal Tayeb, jaksa juga menyampaikan pertimbangan memberatkan dan meringankan. Pertimbangan memberatkan, jaksa menyebut perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, terdakwa tidak mengakui perbuatannya, terdakwa tidak kooperatif dalam memberikan keterangan. Sedangkan yang meringankan, terdakwa bersikap sopan pada saat persidangan, terdakwa merupakan tulang punggung keluarga dan terdakwa belum pernah dihukum.

Baca Juga :
Bersih-bersih Teluk Gilimanuk, Terkumpul 1 Kwintal Lebih Sampah Plastik

Usai sidang ditutup untuk dilanjutkan Kamis depan dengan agenda pembelaan (pledoi), Zainal Tayeb yang berbaju putih langsung angkat jempolnya. “Ya saya nggak apa-apa, saya serahkan pada pengacara saya,”ucap mantan promotor Chris John itu sambil meninggalkan ruang sidang.
Apakah tuntutan jaksa ini terlalu berat, pengusaha kelahiran Mamasa, Subar itu menyerahkan sepenuhnya pada tim pembelanya yang akan menyapaikan pembelaan pada Kamis depan. Sementara tim pembela Zainal Tayeb menyatakan pembuktian jaksa pada pasal 266 ayat 1 KUHP dianggap bertentangan karena jaksa hanya berpatokan pada segi formil saja. “Jaksa memakai hitungan matematika saja. Hanya melihat luasan, pembayaran dan 8 sertifikat. Sementara masih ada materiil dan kronologi dibalik itu,”ujar Mila Tayeb.
Mila pun membantah tuduhan jaksa bahwa kliennya memang sejak awal berniat untuk menipu saksi korban Hedar Giacomo Boy Sam yang masih keponakan Zainal. “Semua itu tidak benar dan fakta persidangan sudah menjelaskan itu.Kalau memang niat mau nipu kenapa Hedar dikasih pekerjaan, karena semua aset tanah dan bisnis itu milik Pak Zainal,”sebut Mila.
Perseteruan antara Zainal dan keponakannya Hedar ini bermula dalam perjanjian kerjasama penjualan dan pembangunan perumahan di Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung yang tertuang dalam akta nomor 33 tahun 2017.

Sebagai pihak yang mengerjakan proyek dalam luas tanah 13.700 meter persegi, Hedar telah membayar seluruhnya mencapai Rp61,65 miliar. Kenyataannya dalam 8 sertifikat atas nama Zainal Tayeb sebagaimana tercantum dalam akta 33 memiliki luas 8.892 meter persegi, dengan harga per meter persegi yang telah disepakati Rp4,5 juta.
Hedar mengklaim telah rugi 21,6 miliar. Sementara dari Zainal membantah ada kekurangan luas tanah. Bahkan untuk membuktikannya, Zainal telah memohon kepada majelis hakim agar tanah dapat diukur ulang namun permintaan itu ditolak. (RED-BN)

Baca Juga :
Sekda Adi Arnawa Ikuti Launching Pelaksanaan Kompetisi P4 Secara Virtual

Leave a Comment

Your email address will not be published.