Korupsi Masih Jadi Ancaman Dalam Dunia Pendidikan, Kemendikbudristek Luncurkan RUMAH CEGAH

 

Balinetizen.com, Mangupura

 

Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi belakangan ini makin fokus melakukan upaya pencegahan korupsi yang terjadi dilingkup pendidikan, menyusul diluncurkannya program RUMAH CEGAH, sebuah aplikasi terapan berbasis teknologi Informasi dengan sasaran awal sosialisasi kepada 67 Juta individu di kalangan siswa, mahasiswa, guru, dosen, tenaga kependidikan, keluarga serta pemangku kepentingan dunia pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kami memang sedang fokus dalam strategi pencegahan ketimbang tindakan represif meskipun tetap tidak menghilangkan tindakan represif tersebut, untuk itulah kami rangkaikan jalinan sinergitas berupa suatu pemahaman bahwa korupsi haruslah menjadi musuh bersama,” kata Dr Chatarina Muliana, Inspektur Jenderal Kemendikbudristek RI saat digelar acara Ngobrass (Ngobrol Bareng Asyik Saat Senja) yang berlangsung di Hotel Holiday Inn Baruna, Kuta, Selasa (16/11/2021).

Sejak diluncurkannya program RUMAH CEGAH di kota Kupang Nusa Tenggara Timur akhir bulan lalu, sambutan publik yang terpantau melalui media analitik ternyata cukup menggembirakan yang terlihat melalui antusiasme para siswa, mahasiswa, guru, dosen dan tenaga kependidikan yang secara masiv saling berbagi upaya pencegahan korupsi sesuai porsi dan kapasitas masing-masing sehingga tercapai target awal bahwa opini korupsi adalah musuh dunia pendidikan dan menjadi tanggung jawab bersama sudah merambah kesemua lapisan.

Program RUMAH CEGAH, sebenarnya tidak hanya satu dimensi persoalan pencegahan korupsi semata tetapi akan bergerak bersamaan dengan persoalan krusial dunia pendidikan lainnya seperti pencegahan intoleransi, radikalisme, perundungan, kekerangan seksual, penyuapan, gratifikasi, dan fraud serta dimensi lain yang dinilai sebagai pengganggu utama jalannya dunia pendidikan berkualitas.

“Tidak mungkin Indonesia sukses memperbaiki kualitas pendidikan sepanjang parasit-parasit tersebut belum kita hapuskan bersama,” tegas Chatarina.

Baca Juga :
Jokowi Menang Telak 90 Persen Lebih, Oka Gunastawa: Terima Kasih Rakyat Bali

Hal tersebut selalu dikemukakannya diberbagai kesempatan ketika menanggapi apresiasi positif dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kementerian PANRB tentang RUMAH CEGAH yang nantinya secara sistemik akan berdampak positif dalam hal pemberantasan korupsi di Indonesia melalui pantauan tim RUMAH CEGAH yang selalu dievaluasi setiap hari, terlihat adanya keberanian kalangan siswa, yang bersuara menegakkan kebenaran dalam hal kegiatan belajar mengajar yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai kejujuran hakiki.

Menurutnya, saat ini mahasiswa, guru dan dosen juga tidak kalah kritisnya sudah memberikan pandangan tentang perilaku korup yang sama-sama dipandang sebagai tindakan tercela dan jauh dari nilai kejujuran.

Tidak dapat dimungkiri bahwa pandangan negatif masyarakat tentang perilaku korupsi tersebut masih saja mengancam dunia pendidikan, karena konstribusi dana untuk pembiayaan fungsi pendidikan dari APBN begitu besardan dan ini perlu pengawasan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Alokasi dana dimaksud untuk tahun 2021 sebesar Rp 541 Triliun lebih yang mana Rp 299,1 Triliuan diantaranya di transfer ke daerah-daerah, Rp 55,9 Triliuan diberikan kepada Kementerian Agama, sementara dana yang diberikan untuk Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sebesar Rp.73 Triliuan dan diberikan kepada Kementerian dan Lembaga lainnya sebesar Rp.23,9 Triliun.

Inspektorat Jenderal Kemendikbudristek tetap membuka ruang pengawasan kepada seluruh pemangku kepentingan, khususnya bagi aparatur pengawasan di provinsi, kabupaten dan kota untuk bersama-sama mengawal peruntukan alokasi dana pendidikan tersbut sampai kealamatnya dalam upaya mendukung terciptanya pendidikan berkualitas bebas dari aroma korupsi.

Konsep pencegahan korupsi melalui RUMAH CEGAH, mengenyampingkan anggapan bahwa seolah korupsi itu adalah sebuah kebutuhan karena siapapun pelakunya karakter RAKUS terus saja melekat, begitu pula anggapan bahwa tindak kejahatan korupsi seolah sebuah system dalam dunia birokrasi. Yang jelas RUMAH CEGAH berupaya membangun kejujuran dengan pendekatan melentur dari akar, sehingga suatu saat para siswa ataupun mahasiswa yang ada hari ini kemudian suatu saat menjadi publi pigur akan turut melakukan upaya pencegahan sekaligus memberikan konstribusi menurunkan index persepsi korupsi yang belakangan ini begitu buruk dilabelkan kepada Indonesia.

Baca Juga :
Desa Dauh Puri Kauh Lakukan Monitoring Pelaksanaan Protokol Kesehatan, 140 Pelaku Usaha Melakukan Pelanggaran Prokes

Untuk mendukung proses sosialisasi Rumah Cegah sekaligus mengasah kreativitas anak bangsa melalui berbagai kegiatan positif yang bertujuan untuk memperkuat nilai integritas di dunia Pendidikan. (hd)

Leave a Comment

Your email address will not be published.