Harga Ternak “Anjlok” Menjadi Atensi Komisi II DPRD Jembrana

 

Balinetizen.com, Jembrana 

Keluhan para peternak di Kabupaten Jembrana khususnya ternak babi terkait rusaknya harga jual babi menjadi atensi Komisi II DPRD Jembrana. Terlebih peternakan dan pertanian menjadi alternatif pendapatan di Bali sejak pandemi Covid 19 mengguncang Bali.

Anjloknya harga jual babi ditingkat peternak sangat disesalkan Ketua Komisi II DPRD Jembrana, I Ketut Suastika. Dan ia meminta agar pemerintah segera turun tangan menanganinya.

Menurutnya akibat dampak pandemi Covid-19 banyak warga yang dulunya bekerja di sektor pariwisata harus pulang ke Jembrana. Mereka ada yang berusaha disektor peternakan atau pertanian.

Di sektor peternakan ada yang memulainya dengan memelihara babi dan sapi. Namun disaat panen dengan harapan mendapatkan hasil, justru dihantam dengan harga jual yang rusak. Dan tentunya ini sangat merugikan para peternak.

“Mereka kecewa. Ini semestinya menjadi perhatian khusus, minimal harga tetap terjaga” ujar Suastika belum lama.

Terlebih sambungnya, beberapa wilayah di luar Bali masih sangat tergantung dari hasil peternakan dari Bali seperti babi dan sapi. “Para peternak harus mendapat perlindungan. Jangan sampai ada oknum yang berkepentingan menghancurkan harapan para peternak” tandas pria yang akrab disapa Cohok.

Di Jembrana disebutnya hampir sebagian besar warganya bahkan sampai di pedesaan memelihara babi dan sapi. Bahkan peternak rumah tangga, baik sapi dan babi tercatat sebagai paling besar di Dinas Pertanian dan Pangan. “Selama dua tahun beternak, ketika panen saat ini mereka dihantam dengan harga jual yang rendah. Kasihan peternaknya” imbuhnya.

Ia juga berharap agar para pengusaha pengiriman ternak antarpulau tidak dipersulit. “Ada masukan, proses perijinan yang sangat sulit, bukan mekanisme, tapi lebih ke permainan pengusaha besar. Dan disinyalir melibatkan ke aparat mencari kesalahan pengusaha pengiriman ternak” terangnya.

Baca Juga :
Mengenal Aktris India Zaira Wasim yang Keluar Bollywood Demi Agama

Dugaan praktek tersebut akhirnya membuat ketakutan para pengirim dan ternak susah dikirim keluar Bali. Sehingga jangan salahkan ketika ketahanan pangan di daerah pengiriman ternak menjadi menurun. “Jangan salahkan ketika pemerintah kemudian melakukan kebijakan sapi impor misalnya” ujar Cohok.

Karena itu, ia berharap agar harga tetap stabil, baik menjelang dan setelah hari raya. Di momen hari raya para peternak bisa mendapatkan hasil lebih agar jangan dipersulit. Dan akan sangat disayangkan, ketika kuota pengiriman keluar Bali masih ada, namun pengiriman tidak bisa dilakukan karena kesulitan ijin. (Komang Tole)

Leave a Comment

Your email address will not be published.