Raina Tumpek Wariga, Belajar Agama Alam dari Alas Penulisan

Balinetizen.com, Denpasar

Sabtu, 10 Desrmber 2022 merupakan raina Tumpek Wariga, dalam sosiologi agama masyarakat Bali ditandai dengan persembahan bhakti kepada alam, pasca merawat alam secara bertanggung-jawab, mohon kemakmuran Nya di menjelang hari raya Galungan dan Kuningan yang akan segera tiba.

Tradisi keagamaan yang berangkat dari respek pada alam, melandasi ethos kerja masyarakatnya, menjadi sangat penting dan relevan dalam krisis iklim yang melanda dunia dewasa ini, yang pangkal penyebabnya kesewenang-wenangan manusia pada alam yang dilandasi oleh keserakahan manusia. Dampak krisis iklim kita rasakan bersama.

Dalam tantangan krisis iklim, meminjam istilah Sekjen PBB Antonio Guterres dalam konferensi internasional PBB tentang Perubahan Iklim di Mesir awal November 2022 yang lalu, krisis iklim yang sedang melanda dunia, telah memasuki jalan tol menuju neraka iklim. Pernyataan lugas tentang risiko iklim yang dihadapi dunia.

Dalam konteks ini, kita di Bali, bisa menggali kembali sistem keyakinan Tuhan yang melekat dengan alam pada tradisi masyarakat Bali Pegunungan, yang dalam perjalanan sejarahnya pengampu dan penjaga tradisi Bali Permulaan.

Tetua Bali menyebutnya sebagai Agama Alam dari Alas Penulisan. Alas Penulisan (bentangan garis hutan), secara sederhananya mulai dari: Desa Blandingan di sisi Timur Danau Batur – Pinggan – Batih- Subaya – Alas Menahun – Balingkang – Paketan – Sukawana – Kintamani – Bantang – Selulung.
Agama Alam Alas Penulisan yang al.bercirikan:

Pertama, berangkat dari prasasti tua yang menyatakan; “Gunung Ngewangun Urip kaseleka Batu Karu, Munduk Lantang Tulung Giing Jagat Bali”.

Maknanya: tulang sumsum Pulau Bali adalah hamparan (jejer kemiri) hutan.

Kedua, Hutan Penulisan adalah “panggungan” untuk memuja Tuhan, bahasa sederhanya, dengan merawat dan melestarikan hutan, mengolahnya secara bertanggung-jawab adalah bentuk paling nyata secara skala dalam puja bhakti pada Tuhan. Dalam ungkapan sederhana semeton Sukawana tempo dulu, ada ucapan populer di masanya, masyarakat tidak bisa menyanyi dan menari, tetapi “menyanyi dan menari ” merawat dan mengolah alam dan berguru kepada Nya.

Baca Juga :
BRI salurkan beasiswa untuk 36 insan media

Ketiga, sistem keyakinan akan agama alam ini, meninspirasi kepemimpinan di era Bali Permulaan (lebih dari 1.000 tahiun yang lalu) pada raja-raja: Cri Jaya Cakti, Cri Aji Jaya Pangus, Cri Jaya Kasunu, yang inti kepemimpinannya memihak rakyat. Dalam bahasa sekarang alasan keberadaan sang pemimpin (raison d’etre) karena ada dan hadirnya rakyat.

Bhisama Cri Aji Jayapangus yang sangat terkenal kepada Mekele Gede di setiap desa, jika terjadi kemiskinan di desa, pemimpin desa telah gagal menjalankan dharmanya. Bhisama ini menjadi komitmen batin bagi sang raja, memasuki relung hatinya yang paling dalam.

Jro Gde Sudibya, Pengasuh Dharma Sala ” Bali Werdhi Budaya”, Pasraman Rsi Markandya, Br.Pasek, Ds.Tajun, Den Bukit, Bali Utara.

Leave a Comment

Your email address will not be published.