Salah Besar dan Berpikir Keliru, Jika Kawasan Besakih Dijadikan Peradaban Baru Bali

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Menggunakan ukuran kemegahan bangunan fisik dalam proyek yang dinamakan renovasi dan menjaga kesucian Besakih, sebagai bentuk baru peradaban baru Bali, adalah SALAH BESAR dan CARA BERPIKIR YANG KELIRU.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali, anggota BP MPR RI 1999 – 2004, Minggu (22/1) di Denpasar menanggapi bangunan mall bertingkat di pura Besakih sebagai peradaban Bali baru.

Mengapa dibilang salah besar dan cara berpikir yang keliru?

Menurut Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali, anggota BP MPR RI 1999 – 2004, bahwa entang alam spiritual Besakih telah dirusak, dengan bangunan besar nan “angkuh” berfungsi komersiil ngungkulin Pura Titi Gonggang yang disakralkan umat Hindu suku Bali yang masih percaya upakara nyegara – gunung pasca upakara pengabenan/pitra jajna. Demikian juga bangunan komersiil ring ulu Pura Ulun Kulkul yang sangat DISAKRALKAN umat.

“Bangunan mall bertingkat itu sudah berdampak “Pengrusakan” spiritualisme Besakih. Ini merupakan bukti nyata, spiritualisme Besakih telah dikalahkan oleh pertimbangan ekonomi turistik yang justru inisiatifnya dilakukan oleh penguasa dan tanpa rasa bersalah,” kata Jro Gde Sudibya yang pernah mendampingi Gubernur Dewa Made Beratha selama kepemimpinanya untuk bidang sosial ekonomi dan kebudayaan.

Dikatakan, bangunan megah di areal suci Besakih adalah peristiwa ini bentuk malapetaka yang diderita Besakih, semenjak pemendeman Panca Datu oleh Rsi Markandya lebih dari 1.000 tahun lalu.

Bangunan megah ini, kata dia juga melanggar uger-uger perlindungan Besakih oleh Mpu Semeru, orang suci yang sampai hari ini sangat dihormati dan dimuliaka oleh keturunan masyarakat di Bali.

Ditambahkan, merujuk pemikiran sejarahwan ternama Inggris Arnold Toyenbee, bahwa peradaban akan berkontribusi besar dalam perkembangan kebudayaan, cara gegabah dalam memperlakukan Besakih akan memerosotkan kebudayaan Bali ke titik nadirnya.

Baca Juga :
Bulan Bung Karno, Tamba Ipat Sasar Ekosistem Pantai

Tidak cukup dengan menangis, karena menangis tidak menyelesaikan krisis yang menimpa Besakih. PHDI mesti mengambil langkah menegakkan Bhisama Kesucian Pura yang telah masuk dlm.Perda RTRW Bali. Dan masyarakat hendaknya memberikan moral support untuk Parisadha. (SUT)

Editor : Suana

Leave a Comment

Your email address will not be published.