Bali harus Belajar dari Krisis Pariwisata yang Menimpa Kepulauan Canary, Spanyol

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Siapapun pemimpin Bali harus Belajar dari Krisis Pariwisata yang Menimpa Kepulauan Canary, Spanyol. Krisis keuangan Spanyol tahun 2008–2014 , juga dikenal sebagai Resesi Hebat di Spanyol atau Depresi Besar Spanyol , dimulai pada tahun 2008 selama krisis keuangan dunia tahun 2007–2008 .

Hal itu dikatakan I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pembangunan dan pariwisata Bali, Sabtu 20 Apri 2024 di Denpasar.

Dikatakan, pada tahun 2012, hal ini membuat Spanyol terlambat terlibat dalam krisis utang negara Eropa ketika negara tersebut tidak mampu memberikan dana talangan (bail out) pada sektor keuangannya dan harus mengajukan paket penyelamatan sebesar €100 miliar yang disediakan oleh Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM).

Menurutnya, jika kita melihat kondisi ekonomi Indonesia umumnya dan Bali khususnya, kita mesti belajar dari krisis Spanyol. Saat ini tercatat, penduduk lokal Bali sebanyak 2,2 juta orang, wisatawan 16 juta orang (2023). Kompas, 19 April 2024.

Menurutnya, krisis Spanyol ini mulai dari lingkungan kepulauan Canary yang rusak parah, harga properti kian naik tinggi, sehingga penduduk lokal tidak mampu membelinya.

Dikatakan, pada saat itu penduduk Canary protes keras terhadap investasi di sektor industri pariwisata, melakukan mogok makan, sehingga pemerintah setempat menghentikan pembangunan 2 proyek hotel baru.

Menurutnya, Kasus di Kepulauan Canary, merupakan peringatan keras (waktu up call) dan untuk pariwisata Bali harus keras berbenah.

“Menata kembali ulang kembali konsep pariwisata Bali yang bersahabat dengan lingkungan, menjinakkan kapitalisme pariwisata yang tidak ramah alam dan budaya,” katanya.

Diingatkan, kebijakan visioner pariwisata yang berdimensi penyelamatan (safeguard clausule policies) terhadap Alam, Manusia dan Kebudayaan.

“Spirit Perda Pariwisata Budaya tahun 1974 perlu direvitalisasi, jangan menganggap enteng (undur estimate) dari dampak negatif struktural dari kapitalisme pariwisata yang “memuja” pencarian keuntungan,” kayanya.

Baca Juga :
40 Pasang Kerbau Adu Cepat di Sirkuit Berlumpur 

Menurut I Gde Sudibya, elite penguasa di Bali saat sekarang dan semua “stake holders” pariwisata, mesti belajar kembali tentang isu strategis: Pembangunan Bali Berkelanjutan, Industri Pariwisata Berkeadilan Ramah dan Bersahabat dengan Lingkungan.

“Supaya generasi sekarang, tidak dituduh oleh generasi berikut, sebagai generasi “perusak” dan atau mewariskan “bom waktu” pengrusakan bagi Bali ke depan,” kata I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pembangunan dan pariwisata Bali. (Adi Putra).

Leave a Comment

Your email address will not be published.