Fenomena Hujan Es Di Batur, Terjadinya Sangat lokal dan dan Waktunya singkat

0
646

 

Balinetizen.com, Denpasar 

 

Fenomena hujan es atau hail merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi dan termasuk dalam kejadian cuaca ekstrim. Adapun kejadian hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi atau musim pancaroba dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Dapat dimungkinkan terjadi pada musim hujan dengan kondisi cuaca sama seperti masa transisi atau pancaroba.

Fenomena hujan es atau hail ini disebabkan adanya awan cumulonimbus (CB). Pada awan ini terdapat tiga macam partikel (yaitu) butir air, butir air super dingin, dan partikel es, sehingga hujan lebat yang masih berupa partikel padat baik es atan hail dapat terjadi tergantung dari pembentukan dan pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) tersebut.

Proses Pembentukan Es

Pergerakan massa udara yang kuat. Adanya proses pergerakan massa udara naik dan turun yang sangat kuat, dikenal dengan istilah strong updraft and downdraft di dalam awan CB. Pergerakan massa udara naik (updraft) yang cukup kuat dapat membawa uap air naik hingga mencapai ketinggian dimana suhu udara menjadi sangat dingin hingga uap air membeku menjadi partikel es. Partikel es dan partikel air super dingin akan bercampur dan teraduk-aduk akibat proses updraft dan downdraft hingga membentuk butiran yang semakin membesar. Saat butiran es sudah terlalu besar, maka pergerakan massa udara naik tersebut tidak akan mampu lagi mengangkatnya sehingga butiran es akan jatuh ke permukaan bumi menjadi hail/hujan es. Strong updraft di suatu daerah dapat terbentuk akibat adanya pemanasan matahari yang intens, pemanasannya sangat optimal/kuat, antara pagi hingga siang hari, serta dapat dipengaruhi oleh topografi suatu daerah.

Baca Juga :  Waspada Bencana Hidrometeorologi Dampak Siklon Tropis Choi-Wan di Beberapa Wilayah Indonesia

Tingkat pembekuan yang rendah.

Adanya lapisan yang tingkat pembekuan yang lebih rendah, dikenal dengan istilah Lower Freezing Level. Pada fenomena hujan es hail, lapisan tingkat pembekuan (freezing level) mempunyai kecenderungan turun lebih rendah dari ketinggian normalnya. Hal ini menyebabkan butir es yang jatuh ke permukaan bumi tidak mencair sempurna. Lapisan tingkat pembekuan (freezing level) merupakan lapisan pada ketinggian tertentu diatas permukaan bumi dimana suhu udara bernilai nol derajat celsius. Pada ketinggian ini, butiran air umumnya akan membeku menjadi partikel es. Di Indonesia, umumnya lapisan tingkat pembekuan (freezing level) berada pada kisaran ketinggian antara 4-5 km diatas permukaan laut.

Sifat Fenomena Hujan Es

Hujan baru dikatakan hujan es jika memenuhi sifat-sifat fenomena hujan es atau hail, Terjadinya Sangat lokal. Luasannya berkisar 5-10 km dan Waktunya singkat sekitar kurang dari 10 menit.

Lebih sering terjadi pada peralihan musim, dapat dimungkinkan terjadi pada musim hujan dengan kondisi cuaca sama seperti masa transisi atau pancaroba.

Lebih sering terjadi antara siang dan sore hari dan Tidak bisa diprediksi secara spesifik, hanya bisa diprediksi 0.5-1 jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda-tandanya dengan tingkat keakuratan <50 persen.

Hanya berasal dari awan Cumulonimbus, tetapi tidak semua awan Cb menimbulkan hujan es atau hail. Dan hail Kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama dan dalam waktu yang singkat.

BMKG menghimbau kepada Masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak bencana yang dapat ditimbulkan dari cuaca ekstrem seperti banjir, genangan air, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang dan kilat/petir dan Agar selalu memperhatikan Informasi BMKG khususnya peringatan dini cuaca/iklim ekstrem. Telp (0361) 751122, Whatsapp 082147011360. (RED-BN)

Baca Juga :  Komisi I DPRD Buleleng Turun Ke Lahan Bukit Ser Pemuteran, Warga Pemohon, Aparat Desa, NGO Serta Kuasa Hukum Tunjukkan Bukti Data Sesungguhnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here