Balinetizen.com, DenpasarÂ
Pada 21-23 Februari 2022 sebanyak 4500 produsen tahu dan tempe akan melakukan aksi mogok produksi sebagai bentuk protes mahalnya harga kedelai. Harga kedelai di kalangan perajin mencapai Rp11.300 per kg.
Seperti yang kita ketahui beberapa waktu lalu udah banyak desas desus mengenai banyaknya perajin tempe dan tahu yang gulung tikar karena harga kedelai yang mencekik. Kemendag memperkirakan kenaikan kemungkinan terjadi sampai Mei 2022 ke level US$15,79 usd per bushel. Harga itu kemungkinan baru turun pada Juli mendatang dan itu pun tak signifikan.
Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin menyatakan para perajin tahu dan tempe akan mogok produksi pada 21-23 Februari 2022. Ketua Puskopti DKI Jakarta Sutaryo menjelaskan aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes mahalnya harga kedelai. Ia menyebut harga kedelai mencapai Rp11.300 per kg. Aksi rencananya akan diikuti oleh 4.500 produsen tahu dan tempe.
Terdapat dua tuntutan yang ingin disampaikan para perajin tahu dan tempe melalui aksi tersebut. “Tuntutannya pertama stabilitas harga, kedua turunkan harga. Karena dengan harga tinggi, pembeli tempe dan tahu lemah (daya beli).” kata Ketua Puskopti DKI Jakarta, Rabu (16/2) lalu.
Pihaknya juga akan mengeluarkan pernyataan produsen tempe dan tahu di Jakarta yang akan menaikkan harga jual selepas 23 Februari 2022 untuk menutup ongkos produksi. Hal ini dilakukan sebagai pilihan terakhir karena kenaikan harga kedelai impor yang membanjiri pasaran tidak kunjung turun.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan mengatakan kenaikan harga di level internasional itu berdampak ke Indonesia karena 80 persen kebutuhan kedelai di dalam negeri yang salah satunya untuk tahu tempe, didatangkan dari impor.
Anggota Komisi VI DPR RI sampai mengusulkan pemerintah untuk membuat kebijakan “out of the box” seperti menawarkan barter komoditas kedelai dengan batu bara dari Indonesia kepada negara pengekspor kedelai. Gimana menurut teman-teman kalau batu bara kita dibarter sama kedelai?
Semoga kedepannya kita tidak cuma mengandalkan kedelai impor untuk produksi tempe dan tahu ya. Peluang untuk mengurangi impor kedelai bisa saja dikurangi jika produksi kedelai dalam negeri juga bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang bisa bersaing di pasaran. (hd)
