Balinetizen.com, Jembrana
Kayu gelondongan sisa material banjir bandang Sungai Bilukpoh mulai dipotong-potong, Selasa (18/10/2022). Aktivitas pemotongan kayu belakangan dipertanyakan.
Sedikitnya sepuluh gergaji mesin (chainsaw) digunakan untuk memotong kayu yang berserakan disisi selatan Jembatan Bilukpoh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo.
Sebelum dipecah, kayu gelondongan dipotong-potong dengan ukuran bervariasi mulai ukuran 2 meter hingga 3 meter lebih.
Kadek Pardana (37), Koordinator relawan mengatakan pembersihan kayu gelondongan yang menutupi pekarangan rumah warga adalah inisiatifnya sendiri.
“Kami membantu warga disini untuk memindahkan kayu yang menutupi halaman maupun rumah warga. Ini murni kegiatan kemanusiaan. Tidak ada maksud apapun dibalik kegiatan kami disini” jelasnya.
Kayu yang sudah dipotong menurutnya akan ditempatkan sesuai petunjuk dari BPBD Jembrana. “Masih menunggu keputusan Bupati dan BPBD kemana akan dibawa kayu-kayu ini. Nanti kita angkut menggunakan mobil dulu dan dikawal oleh BPBD ke lokasi tujuan” ungkapnya.
Aktivitas pemotongan kayu memunculkan pertanyaan, salah satunya dari I Gusti Made Putra Darmawan (51). Halaman rumahnya dipenuhi kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang.
Disebutnya kegiatan pemotongan kayu sebelumnya tidak ada sosialisasi.
“Tidak ada penjelasan terkait pemotongan kayu. Saya takutnya terulang kembali seperti kejadian empat tahun lalu saat banjir bandang 2018″ ujarnya.
Saat itu disebutnya puluhan orang yang mengaku relawan juga memotong dan mengambil kayu gelondongan dengan ukuran tertentu. Namun sisa sampah kayu yang telah dipotong dibiarkan berserakan tidak ada yang mengangkut.
“Kalau memang mau ambil kayu mestinya sekalian dengan sampahnya, itu baru membantu. Jangan hanya yang bagus-bagus saja diambil, tapi sampahnya dibiarkan” ujarnya.
Sementara itu Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra dikonfirmasi lewat telepon mengatakan hingga saat ini pihaknya dalam hal ini Pemkab Jembrana belum memutuskan langkah apapun terkait dengan keberadaan kayu-kayu gelondongan yang ada di pekarangan rumah warga terdampak banjir bandang.
Karema sambungnya, hingga saat ini Pemkab Jembrana fokus pada penanganan korban terdampak melalui penyaluran bantuan kemanusiaan serta penyediaan dapur umum.
“Kami masih fokus penangan korban. Belum ada keputusan terkait penanganan kayu gelondongan. Apalagi menunjuk relawan untuk mengerjakannya (pemotongan)” tandasnya.
Terkait aktivitas pemotongan kayu yang sempat dilakukan pagi tadi menurutnya sudah dihentikan hingga ada keputusan resmi dari Pemerintah Daerah.
Ia juga tidak menginginkan kejadian sebelumnya terulang kembali dan bahkan merugikan para korban. “Nanti kami akan bahas lebih lanjut. Sehingga menghasilkan keputusan yang terbaik bagi para korban” pungkasnya. (Komang Tole)

