Telah Terjadi pendangkalan Sraddha (Iman) pada Masyarakat Bali

0
226

Ilustrasi

 

Balinetizen.com, Denpasar

Pendangkalan Sraddha (iman) adalah Tantangan Masyarakat Bali Kini. Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, inteletual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali, Sabtu 18 November 2023 menanggapi perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat Bali saat ini.

“Perubahan pola pikir ini problem serius krama Bali, pada dasarnya nyaris mendekati Nastika (tidak percaya pada Tuhan) cenderung “memuja” berhala: kekuasaan, kekayaan dan kesenangan duniawi,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurut Jro Gde Sudibya, telah terjadi fenomena manusia “hilir – mudik”, di hilir (ulu) khusuk melakukan bhakti, sementara di hilir begitu suntuk memuja berhala kekuasaan dan yang lainnya.

” Hal ini merupakan gambaran dari kerapuhan karakter, kemenduaan dan bahkan kemunafikan. Persoalannya menjadi serius, ritual keagamaan sarat pamrih (semestinya lascarya, tulus), upaya “membasuh” dosa dan meninggikan status sosial,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurutnya, kini terjadi semacam lingkaran “setan” kehidupan: ketidak jujuran “tilar ring sesana”, memperoleh kekayaan dari ketidak jujuran, memperoleh pengakuan sosial palsu, memperbesar skala upakara untuk “membasuh ” dosa dan meninggikan status sosial, yang terus memerosotkan karakter dan meningkatkan intensitas dan skala ketidak jujuran.

“Dalam pandangan Veda/Vedanta merupakan penggambaran krisis kemanusiaan tingkat tinggi. Tantangan nyata masyarakat Bali dalam menyongsong masa depan,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, tidak ada yang salah dengan upakaranya, akan tetapi manusia-manusia yang melakukan upakara ini, yang karakternya bermasalsah, teledor dan melakukan asuba karma. Akibatnya upakaranya tidak lagi “sukla” , tidak berperan sebagai “Tarpana” mampu menghadirkan Para Dewa yang melahirkan ketenangan, ketentraman dan bahkan kesucian.

“Karena kualitas manusia yang merosot secara rokhani, lebih memuja berhala dan terjebak duniawi. Walaupun melakukan upakara besar, boros, akan tetapi upakara tersebut tidak mampu mentransformasi batin manusia yang kelebihan beban “Sad Ripu dan “Sapta Timira”,” katanya.

Baca Juga :  Gubernur Koster : Jajaran OPD Jangan ‘Macam-Macam’ dalam Kebijakan Alokasi Anggaran

Dikatakan, terjadi paradoks berkelanjutan, upakara besar berlangsung di sebuah Keluarga, Banjar, Dadia, Desa Pakraman tetapi kerukunan, persatuan tidak terjadi, bahkan terjadi hal sebaliknya.

“Kondisi ini mengakibatkan melahirkan insan-insan manusia Bali yang rapuh: berorientasi ke masa lalu, sikap feodalistik, iri dengki ke sesama, kurang menghargai proses, “suryak siu”, “milu-milu tuwung”, “nyongkokin tain kebo” ” kata Jro Gde Sudibya.

“Akibatnya dapat berupa: tingginya angka gangguan jiwa, angka bunuh diri dan persoalan kemanusiaan lainnya. Dalam “air bah” persoalan ini yang bisa menenggelam Bali, para cerdik cendikia, pemimpin formal – informal tampaknya tidak peduli, sudah asyik dan nikmat dengan privelege yang digenggamnya.” (Adi Putra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here