Dinkes Akui VAR Rabies Langka di November 2023, Ini Alasannya

0
148

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom

Balinetizen.com, Denpasar

Provinsi Bali tengah menghadapi tantangan serius terkait peningkatan kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR). Hingga 23 November 2023, tercatat sebanyak 62.672 kasus gigitan, dengan Varian Anti Rabies (VAR) 1 mencapai 45.504 kasus, VAR 2 sebanyak 24.397 kasus, dan VAR 3 mencapai 10.584 kasus. Meskipun ada laporan 6 orang meninggal akibat kasus Rabies (Lyssa), Pemerintah Provinsi Bali dan Dinas Kesehatan telah berupaya maksimal untuk pencegahan dan pengendalian rabies.

“Ketersediaan VAR 2000 vial 9 kabupaten/kota, sampai akhir tahun aman kan mau datang lagi 31 ribu sampai pertengahan tahun depan (2024) kita yakin aman,” ucap Kadiskes.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Nyoman Gd Anom, menjelaskan berbagai upaya yang telah dilakukan. Kampanye Informasi Edukasi (KIE), kerja sama lintas sektor, dan peningkatan peran serta masyarakat melalui Tim Siaga Rabies menjadi langkah strategis. Rabies Centre dibentuk untuk menangani kasus gigitan, sementara distribusi Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) ditingkatkan.

Hingga November 2023, katanya Provinsi Bali telah mengadakan VAR sebanyak 34.800, dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Dana Alokasi Umum (DAU). Bantuan VAR juga diterima dari Kementerian Kesehatan dan APBD kabupaten/kota. Meskipun mengalami kelangkaan VAR pada awal November, distribusi kembali normal setelah menerima bantuan 31.000 vial dari Kemenkes pada 20 November.

Peningkatan kasus gigitan terjadi dari Juni hingga September 2023, dipicu oleh pemberitaan di media sosial yang menimbulkan kepanikan. Keterlambatan distribusi VAR dari produsen luar negeri juga menyulitkan pengadaan VAR. Oleh karena itu, kebijakan selektif diterapkan dalam pemberian VAR, terutama pada manusia.

Peran masyarakat dalam pengendalian rabies sangat penting, termasuk pemeliharaan hewan peliharaan, vaksinasi reguler, dan tindakan cepat setelah gigitan HPR. Protokol tindakan di puskesmas menjadi kunci dalam memastikan pemberian VAR yang selektif. Eliminasi terhadap populasi anjing liar menjadi isu sensitif yang memerlukan kerjasama lintas sektor. (Tri Prasetiyo)

Baca Juga :  Wawali Arya Wibawa Tutup D’TIK Fest Ke-13, Ajang Kolaborasi dan Edukasi, Dorong Pembangunan Berkelanjutan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here