Refleksi Raina Anggarkasih Julungwangi, Menyimak Pidato Svami Vivekananda, 131 Tahun Lalu, di Parlemen Agama Dunia, Chicago, AS

0
173

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Hari ini, Selasa, 10 September 2024, raina Anggarkasih Julungwangi, 15 hari menjelang hari raya Galungan. Rainan yang direlasikan dengan spirit menyongsong “ategepan yasa kerthi” menuju raina Galungan.
Pada sisinya yang lain, 131 tahun yang lalu, 11 September 1897 Svami Vivekananda menyampaikan orasinya yang monumental dalam konferensi agama dunia di Chicago, AS. Pidato yang menggugah, tentang universalitas agama Hindu -Sanatana Dharma- pada umat manusia, tentang sejumlah nilai kehidupan: toleransi, kesamaan dan persamaan manusia, persaudaraan global dan pesan keadilan.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dewasa ini, kami ajak netizen menyimak kembali,muatan pidato yang sarat spirit, inspiratif menggugah, dari Svami Vivekananda dalam Parlemen Agama Dunia, di Chicago AS, 131 tahun yang lalu.
Pidato yang tetap relevan tentang: toleransi beragama, penerimaan universal terhadap agama, dihargainya nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam laku agama dan relasinya dengan orang lain.
Svamiji, mengutip himne tua dalam Veda: “Seperti aliran-aliran air yang berbeda yang bersumber dari tempat-tempat yang berbeda, semuanya menjadi air di laut, demikianlah, ya Tuhan, jalan-jalan yang diambil manusia melalui kecenderungan yang berbeda, bengkok atau lurus semuanya menuju kepada Mu.
Sastra tentang universalisme agama,yang menjadi semakin relevan, dalam masyarakat dengan kecenderungan “berkeping” secara sosial akibat penganutan agama yang “buta”, dan menggunakan agama sebagai perpanjangan ego manusia dan juga instrumen meraih kekuasaan, nyaris tidak peduli lagi terhadap sisi-sisi spiritualitas agama.]

Tentang paham fundamentalisme, sektarianisme dan fanatisme agama, Svamiji 131 tahun yang lalu berucap: “Sektarianisme, kefanatikan dan turunannya yang mengerikan, fanatisme , telah lama membasahi bumi yang indah ini. Mereka membasahi bumi dengan kekerasan, sering kali membasuhnya dengan darah manusia, menghancurkan peradaban, dan membuat seluruh bangsa putus asa”. Ucapan keras yang sampai hari ini tetap relevan dalam upaya bersama merawat peradaban.]
Svami Vivekanda yang dikagumi Soekarno, pada masa Soekarno nyaris putus asa di penjara Belanda Suka Miskin Bandung, awal dasa warsa 1930’an, bangkit kembali, setelah membaca buku, yang merupakan kumpulan ceramah dari Svamiji berjudul WAKE UP, Bangkit, yang memberikan penggambaran kebangkitan spirit Atman dalam diri batin manusia.

Baca Juga :  Resmikan Bandara Trunojoyo, Presiden: Tingkatkan Konektivitas Pulau-Pulau Sekitar Madura

Kebangkitan Diri, Self Wake Up, “Jagra”, yang melahirkan kekuatan mental, daya tahan resilensi dalam menghadapi disrupsi perubahan, menjadi sangat penting dewasa ini. Dalam prilaku politik yang begitu kotor, nir empati pada rakyat, politik sekadar instrumen dalam industri kekuasaan, untuk pelanggengan kekuasaan, power feed power-, maka kecerdasan pemilih, yang dalam bahasa Svamiji, kecerdasan intelektual (intelectual literate), dan kecerdasan spiritual (spiritual literate), menjadi begitu penting dalam “deru campur debunya” politik, menjelang pencoblolasan Pilkada Serentak 27 November 2024. Kecerdasan untuk bisa membedakan politisi demagog (pintar buat janji dan kemudian diingkari), dan politisi pedagog, mendidik pemilih tentang hak-haknya, dan berjuang bersama untuk mewujudkan cita-cita politik bersama tsb.

Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here