Teori Penghancuran Kreatif, Memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi 2025

0
368
ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar –

 

Inovasi dan invensi teknologi adalah sebuah keniscayaan di era krisis iklim dewasa ini. Merujuk pidato Sekjen PBB Antonio Guterres bulan Juni 2022 pada konferensi lingkungan hidup se dunia yang diselenggarakan PBB di Mesir, menyatakan: krisis iklim telah membawa umat manusia menuju “neraka”iklim. Peringatan keras dari Sekjen PBB tentang risiko iklim yang harus diwaspadai umat manusia dan tantangan untuk penemuan teknologi baru untuk penyelamatan planet bumi yang kita huni bersama.
Terjadi semacam “gayung bersambut”, Kesepakatan Bali 16 November 2022 yang merupakan Kesepakatan negara G20, menelorkan kesepakatan pengembangan teknologi yang tidak saja ramah lingkungan, tetapi teknologi yang mampu mengendalikan pemanasan global, menekan krisis iklim dan mampu menyelamatkan bumi yang kita huni bersama. Lahirlah Kesepakatan tentang pengembangan teknologi EBT (Energi Baru Terbarukan), strategi pembangunan zerro carbon, pengembangan ekonomi hijau (Green Economy).
Dalam konteks pentingnya inovasi teknologi, dan penemuan baru (invensi) teknologi, Panitia Pemberi Hadiah Nobel Swedia -The Royal Swedish Academy of Sciences-
menetapkan 3 ekonom: Joel Mokyr dari Northwestern University, AS, Philips Aghion dari London Shool of Economics, London, Inggris dan Peter Howitt Brown University Canada sebagai pemenang hadiah Nobel Ekonomi.
Sebagaimana diberitakan Kompas (15/10), Mokyr dengan menggunakan pendekatan sejarah selama dua dekade, dan dua ekonom lainnya menggunakan pendekatan matematika kompleks yang sampai pada kesimpulan, pertumbuhan berkelanjutan ekonomi selama dua dekade sangat ditentukan oleh penemuan teknologi, teknologi baru yang menggantikan teknologi lama, dalam apa yang disebut oleh tiga ekonom ini.sebagai Teori Penghancuran Kreatif -Inovative Destruction Theory-. Teknologi baru menggantikan teknologi lama, menghancurkan teknologi lama, berdampak terhadap kegiatan bisnis, pemerkerjaan – job creation opportunities- dan bahkan seluruh aspek kehidupan. Penemuan jaringan internet, telpon pintar, sekarang revolusi kecerdasan buatan menentukan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dalam pandangan Prof.Johab Janerstad dari The Royal Swedish Academy of Scienses dalam pemaparannya via Internet dari Stocklom Swedia menyatakan, pertumbuhan ekonomi tidak sebatas pertumbuhan produksi barang dan jasa dari semua sektor ekonomi, tetapi memberi kontribusi nyata pada: pelayanan kesehatan yang lebih baik (better healthcare), kesempatan pendidikan yang diperbaiki (improved educational opportunities), lebih banyak kemudahan dan waktu senggang (more leissure) kualitas produk dan jasa lebih baik (more product) dan komunikasi yang lebih berkualitas (moral efficient communication).
Pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dengan pemerataan, bersahabat dengan lingkungan menjadi pilihan bagi strategi pembangunan Bali ke depan, terlebih-lebih pasca banjir bandang 10 September 2025 yang membuka pandora darurat lingkungan yang sedang menimpa Bali.

Baca Juga :  Bupati Kembang Matangkan Aturan PBG dan Disinsentif Bangunan Fungsi Usaha

Jro Gde Sudibya, ekonom bermukim di Desa Tajun, Den Bukit, Bali Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here