Luka Ekologis Sumatra, Membuka Kembali Wacana Politik Federalisme

0
637

Ilustrasi : Banjir Bandang di Sumut

Oleh : Jro Gde Sudibya

Banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatera dan Sumbar, 28 November 2025 dalam bahasa metafora sebagai “Luka” Sumatra, sampai hari Minggu petang, 30 November 2025 menelan korban jiwa 303, dan 297 hilang, dengan jumlah pengungsian puluhan ribu warga.

Penyebab utama banjir bandang di daerah tersebut yakni pembabatan hutan secara tidak bertangung-jawab dalam besaran jutaan hektare yang nyaris tidak tersentuh hukum, meminggirkan masyarakat adat, untuk pengembangan terutama industri sawit dalam 20 tahun terakhir.

“Hasilnya” belasan taipan pengusaha sawit untung besar bersama penguasa yang menjadi patronnya, perselingkuhan jahat penguasa-pengusaha dan jutaan rakyat mengalami penderitaan, “buntung” kehidupannya.

“Luka” Sumatra menggambarkan ketidak-adilan struktural dalam beberapa dekade terakhir, lapisan tipis elite menguasai sumber daya, hidup melimpah darinya, lapisan massa rakyat hidup papa di seputar garis kemiskinan, nyaris mustahil mengalami mobilitas sosial karena ketidak-adilan struktural menghampiri mereka.

Kemiskinan, rendahnya pendidikan dan ketrampilan, terbatasnya penguasaan sumber daya, sempitnya kesempatan berusaha membuat massa rakyat sebatas pelengkap penderita dari “deru campur debunya” pengembangan industri sawit dalam 20 tahun terakhir.

Masyarakat terpinggirkan, tertimpa ketidak-adilan struktural, kehilangan harapan akan masa depan, dihinakan oleh ketimpangan pendapatan dan ketidak-adilan sosial ekonomi, memunculkan kembali gagasan tentang Federalisme, bentuk negara federal untuk melawan cengkeraman kekuasaan serakah dari “orang-orang” Jakarta beserta kroninya.

Gagasan yang untuk pertama kali muncul pada saat para perintis bangsa membangun design negara bangsa menjelang kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Gagasan yang muncul kembali di tengah penderitaan “Luka” Sumatra yang nyaris tak tertahankan bagi yang mengalaminya dan bagi banyak pihak yang berempati kepada mereka.

Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi, lingkungan dan kecenderungan masa depan.

Baca Juga :  Kemenhub Dukung Kegiatan Vaksinasi Massal di Purworejo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here