Balinetizen.com, Buleleng –
“Saat ini di himbau kepada masyarakat. Terutama yang bermukim di wilayah rawan banjir dan longsor, untuk tetap waspada. Lantaran cuaca masih berpotensi ekstrem”, demikian ditegaskan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng, I Gede Suyasa saat dikonfirmasi media ini diruang kerjanya pada Rabu (14/1/2026).
Lebih lanjut dikatakan
Kabupaten Buleleng dalam kurun waktu empat hari dilanda rangkaian bencana hidrometeorologi. Dan berdasarkan laporan sementara ke pihaknya di BPBD Buleleng, hingga Rabu (14/1/2026) Pukul 08.00 Wita, tercatat 40 kejadian bencana yang tersebar di sejumlah kecamatan.
“Data yang dihimpun tersebut, masih bersifat sementara dan berpotensi mengalami perubahan seiring proses pendataan lanjutan di lapangan,” ujarnya.
Ia menyebut dari 40 kejadian itu, tanah longsor menjadi bencana paling dominan dengan jumlah 23 kejadian.
“Longsor terjadi di enam kecamatan, dimana Kecamatan Banjar sebagai wilayah terdampak paling banyak, khususnya di Desa Munduk mencatat tujuh kejadian,” terang Suyasa.
Selain longsor, ujarnya lagi pihaknya di BPBD juga mencatat 9 kejadian pohon tumbang yang tersebar di Kecamatan Tejakula, Kubutambahan, Buleleng, Seririt, Busungbiu, dan Kecamatan Sawan.
Satu kejadian banjir dilaporkan terjadi di Desa Pancasari. Dan juga, pihaknya di BPBD juga mencatat tiga kejadian jalan jebol, yakni di Desa Ambengan (Kecamatan Sukasada), Desa Unggahan (Kecamatan Seririt), dan Desa Gesing (Kecamatan Banjar), juga terdapat tiga kejadian senderan jebol di Desa Sudaji (Kecamatan Sawan). Desa Wanagiri (Kecamatan Sukasada), serta Desa Sepang (Ke camatan Busungbiu).
“Petugas kami masih melakukan asesmen di lokasi-lokasi terdampak. Data kejadian dan dampak, termasuk estimasi kerugian, masih akan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan,” pungkas Suyasa. GS

