Refleksi Raina Tumpek Uye, “Racun” Kehidupan di Zaman Kali (Kali Yuga)

0
637

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan.

Sabtu, 7 Februari 2026, raina Tumpek Uye, ekspresi upakara penghormatan kepada dunia binatang bagian dari sistem flora – fauna dalam sistem kosmik Alam Raya. Respek pada binatang, memberikan penggambaran dari kesadaran manusia untuk menahan diri, tidak semena-mena pada makhluk lain, karena kepentingan dan keserakahan manusia. Kemampuan menahan diri mengendalikan keinginan, disiplin diri yang kemudian menjadi kebiasaan dan bahkan “tuntutan” dari dalam diri, menjadi sangat penting dalam menghadapi “racun” kehidupan yang dibawakan oleh zaman Kali.
“Racun” kehidupan yang kemudian terstimulasi dalam prilaku: keakuan, kesombongan dan keserakahan diri.
“Racun” kehidupan yang amat sangat sulit untuk dikendalikan, karena “hukum” waktu sedang “memihak” mereka.
Akibatnya, sejumlah prilaku yang tidak senonoh menjadi kebiasaan dan bahkan dengan bangga dipamerkan. Menyebut beberapa prilaku tsb.: pertama, Nitya Wacana, tidak satunya kata dengan perbuatan, bahkan kebohongan yang direkayasa, untuk memuaskan keakuan manusia. Kedua, A Suba Karma, perbuatan tidak baik dipamerkan, mulai dari “dasa muka” korupsi dan bahkan penyimpangan susila. Ketiga, kejujuran dipinggirkan, “dasa muka” tipu muslihat dimenangkan, dipertontonkan dengan rasa bangga, dan dengan menepuk dada.
Tetua Bali mengingatkan “gumine nungkalik”, dan selalu berpesan kepada keturunannya, dalam dialek Buleleng: “yen gumine buduh de bareng memuduh”. Dalam lingkungan yang gila, jangan ikut gila-gilaan. Ucapan sederhana dengan sikap rendah hati, merawat disiplin diri, kesadaran dan menuju JAGRA. Sadar diri di tengah kegilaan kehidupan.

 

Baca Juga :  Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 tahun 2019, Polda Bali Gelar Malam Budaya Bali, Papua dan Sulut Untuk Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here