Ilustrasi
Balinetizen.com, Denpasar
Bangsa yang sarat paradoks, mengklaim diri bangsa religius, tetapi faktanya negeri ini menjadi “juara” dalam korupsi.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual, pengamat sejarah bangsa dan kecenderungan masa depan, Jumat 10 April 2026.
Dikatakan, korupsi nyaris menjadi “budaya” memasuki relung hati kehidupan berbangsa dengan daya rusak luar biasa.
Menurut Jro Gde Sudibya, alam rusak parah untuk tambang: Emas, Batubara, Nikel dan jutaan hektare untuk industri sawit. Masyarakat Adat di kawasan industri tambang dan perkebunan sawit menderita, tergusur dari tanah leluhurnya.
“Kesenjangan pendapatan menganga, ketidak-adilan sosial nyaris tak tertahankan, melewati ambang batas kesabaran sosial,” katanya.
Tragisnya, lanjut Jro Gde Sudibya, kepemimpinan yang berempati pada rakyat sirna, spirit untuk mengabdi dan melayani rakyat antara ada dan tiada, tetapi ramai hiruk pikuk di masa kampanye politik dan kemudian menguap ditelan bumi.
Menurutnya, kepemimpinan dengan nurani -leadership by Consience- yang bercirikan: kepekaan rasa, hati dan nurani, melahirkan empati buat derita rakyat, dengan spirit mengabdi dan melayani menjadi sirna.
Menurut Jro Gde Sudibya, kepemimpinan dengan nurani langka karena sejumlah faktor.
Merujuk pemikiran Soekarno, pembangunan bangsa dan karakternya -nation and character building-, telah gagal melahirkan warga negara berkarakter kuat mencintai negeri (sikap patriotik), untuk mencapai cita-cita mulya proklamasi.
Menurut Jro Gde Sudibya, kesemarakan ritual agama tidak mampu mentransformasi batin warga untuk menjadi warga negara yang berkarakter jujur, taat pada hukum, berempati ke sesama.
Menurutnya, politik telah menjadi panglima, politik sekadar alat dalam sebuah industri kekuasaan yang melawan etika moral dan juga hukum untuk kelangsungan kekuasaan -power feed to.power-.
Dikatakan, pemikiran dan kekuatan alternatif penyeimbang kekuasaan yang “tend to corrupt” dibungkam dengan rekayasa opini yang banal dan bahkan dengan ancaman kekerasan fisik. Diciptakan suasana ketakutan -republic of fears’.
Menurutnya, sejarah politik negeri ini semenjak revolusi kemerdekaan tahun 1945, gerakan politik yang dimotori mahasiswa tahun 1966, 1998 memberikan pelajaran, kekuasaan yang tidak berempati pada kepentingan rakyat pada akhirnya akan tumbang.
“Sejarah selalu mengajarkan, bangsa yang tidak mau belajar sejarah akan terperosok dalam lubang yang sama berkali-kali,” kata Jro Gde Sudibya, intelektual, pengamat sejarah bangsa dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

