Balinetizen.com, Jakarta
Optimisme Presiden Prabowo tentang “Indonesia Terang” Menimbulkan Anomali (Ketidak-pastian) karena Data Ekonomi Menunjukkan Sebaliknya.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, 30 April 2026.
Menurut Jro Gde Sudibya, “Kita sepakat bahwa membangun Optimisme dalam kepemimpinan bangsa untuk menuju Indonesia terang. Akan tetapi, arahnya mesti berbasis fakta yang valid. Bukan, berdasarkan feeling.
Menurutnya, kenyataan data ekonomi yang merupakan indikator ekonomi memberikan penggambaran, indikasi kuat, ekonomi bergerak ke arah yang berlawanan dengan Optimisme Presiden.
Dikatakan, bergerak ke arah yang berlawanan sebut saja dalam kebijakan fiscal, Indonesia begitu tertekan, defisit APBN per akhir Desember 2026 diperkirakan pemerintah mencapai 4,06 persen dari PDB, sudah melampaui ketentuan UU Keuangan Negara dengan batas maksimal 3 persen dari PDB.
Menurut Jro Gde Sudibya, beban utang pemerintah yang tinggi, hampir mendekati angka Rp.10,000 T, dengan model pembayaran utang “tutup lubang gali lubang”.
“Tahun ini pembayaran utang direncanakan Rp.800 T, penarikan utang baru Rp.875 T dan bahkan bisa lebih, karena defisit anggaran per bulan terus membengkak,” katanya.
Dikatakan, obligasi pemerintah semakin tidak diminati oleh investor keuangan global, karena diperkirakan sekitar Rp.700 T telah keluar dari Indonesia dalam enam bulan terakhir.
Menurutnya, lembaga pemeringkat investasi global, telah menurunkan peringkat investasi Indonesia dari netral ke negatif, yang berdampak terhadap minat investasi asing dalam pasar uang dan “direct foreign invesment” terhadap investasi global.
Sementara itu, lanjutnya Nilai rupiah terus melemah ke tingkat Rp.17,200 per 1 dolar AS, dalam fenomena dolar AS melemah terhadap banyak mata uang negara lainnya.
Persoalan lain, kata pemerhati ekonomi ini, bahwa angka kredit bermasalah dari nasabah UMKM dalam sistem perbankan yang jumlahnya puluhan juta pengusaha,sudah sampai pada angka 5 persen dan kemungkinan lebih, menggambarkan terjadinya kelesuan ekonomi serius pada masyarakat bawah dan menengah.
Dikatakan, Ekonomi Indonesia belum tumbuh, ini berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
Menurut Jro Gde Sudibya, Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) 67 persen dari anggotanya merencanakan tidak melakukan rekrutment baru karyawan tahun ini, yang menggambarkan semakin sulitnya pencari kerja memperoleh pekerjaan.
” Angka pengangguran akan meningkatkan dan “membanjiri” pasar tenaga kerja informal dengan produktivitas dan pendapatan rendah tanpa jaminan sosial,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

