Seniman Sastra Bali Masih Terpinggirkan, Wayan Jengki Ungkap Tantangan dan Harapan

0
70

Balinetizen.com, Denpasar

Seniman sastra modern Bali, Wayan Sunarta atau dikenal dengan nama Jengki, menyoroti dinamika perkembangan kesenian modern di Pulau Dewata yang dinilainya masih mengalami pasang surut dan belum sepenuhnya mendapat perhatian merata.

Menurutnya, dunia kesenian di Bali secara umum terbagi dalam dua kelompok besar, yakni seni tradisi dan seni modern atau kontemporer. Namun, selama ini perhatian pemerintah dinilai lebih dominan pada seni tradisi..

“Kalau kita bicara soal dunia kesenian di Bali, itu dibagi dalam dua kotak besar, ada seni tradisi dan seni modern atau kontemporer. Tapi selama ini yang lebih banyak mendapat perhatian itu seni tradisi,” ujar Jengki, ditemui belum lama ini.

Ia menjelaskan, keberadaan ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) yang telah berlangsung sejak puluhan tahun menjadi wadah utama bagi kesenian tradisional. Sementara itu, kesenian modern, khususnya sastra, sebelumnya kurang mendapatkan ruang yang memadai.

Kondisi tersebut kemudian melatarbelakangi lahirnya Festival Seni Bali Jani (FSBJ) atau Bali Jani, yang digagas sebagai wadah bagi seniman modern dan kontemporer.

“Bali Jani itu lahir dari keprihatinan karena seni modern, terutama sastra, sering terabaikan. Maka dibuatlah wadah khusus untuk menyeimbangkan, bahwa Bali tidak hanya dikenal dengan seni tradisi, tapi juga modern dan kontemporer,” jelasnya.

Dalam ajang Bali Jani, berbagai cabang seni modern seperti sastra, seni rupa, teater, tari kontemporer, hingga film dan video art dilibatkan. Bahkan, terdapat program penghargaan bagi para seniman yang dinilai konsisten berkarya.

“Setiap tahun ada sekitar 10 seniman yang mendapat penghargaan, terutama sastrawan senior. Ini bentuk empati karena mereka sering terpinggirkan,” katanya.
Jengki yang juga pernah menerima penghargaan Bali Jani Nugraha pada 2020 menilai, sejak adanya Bali Jani, perhatian terhadap seniman modern mulai meningkat. Selain penghargaan, para seniman juga mendapat ruang tampil yang lebih layak, termasuk honorarium dalam berbagai kegiatan seperti parade baca puisi.

Baca Juga :  Dukung Aktivitas Positif Masyarakat, Bupati Tabanan Buka Lomba Mancing

“Sekarang sudah ada panggung besar, ada parade puisi, ada honor. Dulu sastrawan sering tampil di tempat sunyi tanpa audiens,” ungkapnya.

Meski demikian, terkait bantuan langsung bagi seniman, khususnya yang sudah sepuh, Jengki mengaku belum mengetahui secara rinci mekanisme dan implementasinya.

“Kalau soal bantuan itu saya belum tahu jelas. Tapi kalau di Bali Jani memang ada bentuk apresiasi melalui penghargaan,” ujarnya.

Di sisi lain, ia melihat perkembangan generasi muda di bidang sastra cukup menjanjikan. Kemajuan teknologi dan media sosial membuka peluang baru bagi para kreator untuk mengekspresikan karya mereka.

“Anak muda sekarang lebih kreatif. Puisi bisa dijadikan video, film pendek, atau dramatisasi. Mereka punya banyak platform,” katanya.

Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan baru, yakni kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang dinilai bisa berdampak negatif jika tidak digunakan secara bijak.

“Kehadiran AI ini berbahaya kalau kita terlalu bergantung. Bisa membuat orang malas berpikir dan kehilangan kreativitas. Boleh pakai, tapi harus tetap diolah dengan kemampuan sendiri,” tegasnya.

Jengki berharap ke depan perhatian terhadap seniman modern, khususnya sastra, terus ditingkatkan, baik dari segi ruang berkarya maupun kesejahteraan, agar ekosistem kesenian di Bali semakin seimbang dan berkelanjutan.

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here