Refleksi Persoalan Sampah adalah Masalah Bersama dalam Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art

0
55

Balinetizen.com, Badung

Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency secara resmi dibuka pada hari Sabtu (13/6), dua hari yang lalu. Sebuah bangunan indah yang menyandang Art Hub dan Residency ini berada di salah satu pusat pariwisata Kabupeten Badung, yakni di Desa Tibubeneng.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan malam dan kemeriahan pariwisata di Canggu area, kehadiran Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency seperti memberikan angin segar bagi perkembangan dunia kreativitas di Bali, khususnya seni dan budaya, serta lingkungan.

Daniel Ginting beserta istrinya Quoriena Ginting yang menggagas berdirinya Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, sedari awal memang ingin mendedikasikan ruang kreatif di Tibubeneng bagi para senimanan, budayawan, kaum intelektual dan masyarakat kreatif Bali, khususnya masyarakat Tibubeneng dan sekitarnya, sampai masyarakat dunia.

Dalam pernyataannya selaku founder of Ginting Institute dan kolektor seni, Daniel Ginting sangat percaya bahwa “seni itu tidak boleh berhenti di ruang pamer saja. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan”.

Hal senada juga didukung oleh pendapatistrinya Quoriena Ginting yang juga sebagai salah satu kolektor penting wastra nusantara Indonesia. Perempuan yang akrab disapa Quorien ini mengatakan bahwa “seni yang berbicara tentang persoalan lingkungan sebenarnya bukan sekedar sebuah tampilan yang mengejar keindahan, tapi ada tanda atau alarm yang menuntut kita untuk bangun, sadar dan bertindak”.

Dalam kemeriahan pembukaan pameran Tibubeneng Sustainable Art, tampak hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung Made Rai Warastuthi mewakili Bupati badung, Camat Kuta Utara I Putu Eka Parmana dan Perbekel Tibubeneng I Made Kamajaya beserta jajarannya.

Acara Pembukaan pameran seni Tibubeneng Sustainable Art sekaligus menandai grand opening WRQ Art Hub & Residency. Bertempat di wantilan WRQ, karya seniman cilik dari SD se-Tibubeneng benar-benar hadir menyihir pengunjung. Bagaimana tidak, banyak pengunjung tidak mengira bahwa kesemuanya itu adalah hasil kreasi anak SD.

Baca Juga :  Hari Pertama PPKM Darurat di Kota Denpasar,  Satgas Bersama Forkopimda  Pantau Pengetatan Prokes

“Memang sebelumnya, para siswa SD yang memiliki bakat melukis telah ikut workshop plasticology terlebih dahulu bersama seniman Made Bayak. Kesempatan dan pengalaman itulah yang menjadikan anak-anak memiliki kemampuan atau teknis melukis daur ulang plastik menjadi karya yang menghasilkan visual yang sangat bagus”, ujar Quorina Ginting.

Di tempat terpisah, yakni di ruang galeri WRQ setidaknya karya-karya dari ada 10 seniman lintas genre yang dipamerkan berkaitan dengan isu lingkungan. Para seniman yang terlibat dalam pameran Tibubeneng Sustainable Art dari perupa diantaranya Made Wianta (alm), Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan. Karya-karya dari para kartunis diantaranya Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, dan Putu Dian Ujiana “Beluluk”. Sedangkan dari fotography menampilkan karya fotografer Andang Iskandar dan Tjandra Hutama.

Yudha Bantono selaku kurator pameran mengatakan bahwa pameran Tibubeneng Sustainable Art adalah sebuah inisiatif kolaboratif yang menyatukan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan demi masa depan bumi yang terbaik.

Lebih lanjut menurut pria yang memiliki pengalaman secara aktif mengikuti dan membuat event seni baik skala nasional dan internasional, bahwa pameran ini hadir sebagai ruang dialog kreatif antara anak-anak usia sekolah dasar, seniman, warga desa, dan pemangku kepentingan lingkungan untuk mendorong kesadaran, aksi, dan solusi nyata terhadap tantangan lingkungan saat ini dan di masa depan.

“Konsep dan tujuan Tibubeneng Sustainable Art dirancang untuk menampilkan bagaimana seni dapat menjadi media transformasi sosial dan lingkungan. Dengan menampilkan karya-karya yang menggunakan bahan ramah lingkungan, bahan daur ulang, dan teknik yang kesemuanya mampu memberikan penyadaran bagi masyarakat”, tambah Yudha.

Melihat karya-karya yang dipamerkan, Kepala Desa Tibubeneng I Made Kamajaya mengatakan, bahwa pameran seni Tibubeneng Sustainable Art adalah bagian dari bukti nyata adanya kolaborasi pihak yang peduli dengan permasalahan lingkungan di desanya, khususnya sampah yang dalam hal ini Ginting Institute.

Baca Juga :  Peserta AKUT Didorong Kuasai Teknologi Infomasi

Lebih lanjut menurut Kamajaya, melalui praktik kegiatan seni, budaya dan lingkungan dipastikan dapat memperkuat upaya Desa Tibubeneng dalam merealisasikan aksi penanganan persoalan sampah dan lingkungan secara berkelanjutan.

Pameran Tibubeneng Sustainable Art menampilkan lebih dari 20 karya seni. Baik lukisan, kartun, instalasi seni, dan fotografi akan berlangsung hingga 30 Juni 2026 mendatang. Pemaran seni terbuka untuk umum, untuk alamat Wija Reska Quoriena Art Hub & Residency berada di Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng.(Rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here