Ide “Gila” Pusat Keuangan Internasional di Bali tanpa Konsultasi Publik

0
48

 

Balinetizen.com, Denpasar

Ide “Gila” Pusat Keuangan Internasional di Bali tanpa Konsultasi Publik. Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, penasehat Forum Pemerhati Pembangunan Bali, For HATI Bali, Selasa 30 Juni 2026.

Menurutnya, dengan wacana ini sebetulnya pemerintah panik menghadapi tekanan keuangan yang dihadapi, utang terus bertambah, defisit APBN membesar, nilai Rupiah yang terus merosot.

“Sekarang muncul wacana Bali sebagai Pusat Keuangan Internasional. Timbul pertanyaan lembaga keuangan global mana yang mau investasi di tengah krisis kepercayaan para pelaku pasar uang dan modal dan investor sektor riil begitu rendah terhadap Indonesia?,” katanya.

Menurut Jro Gde Sudibya, IHSG di Bursa Efek Jakarta terus merosot, “capital out flow” meningkat tajam, beberapa perusahaan perangkingan utang dunia memasukkan Indonesia dari kategori layak investasi menjadi negatif.

“Rupiah terus melemah terhadap dolar AS, sedangkan di sejumlah negara Asean mata uang mereka menguat terhadap dolar AS,” katanya.

Sementara itu, kata Jro Gde Sudibya, IHSG di Bursa Efek Jakarta terus merosot, sedangkan IHSG di beberapa pusat keuangan Asia tetap stabil. Dalam realitas pasar keuangan global seperti ini, wacana Bali sebagai pusat keuangan dunia sekadar “omon-omon” atau semacam janji “surga”?.

Dikatakan, dipilihnya KEK Pulau Serangan, dari temuan Pansus TRAP DPRD Bali yang telah menjadi Rekomendasi DPRD Bali ke Gubernur Bali sarat dengan masalah hukum.

Dikatakan, ini sudah tentu tidak menarik bagi “finansial global investor”untuk menggunakan Bali sebagai “home based investment”.

Menurut Jro Gde Sudibya, wacana proyek kontroversial ini, pendekatannya “Top Down”, tanpa konsultasi publik, kesannya Bali tanah kosong.

“Sebuah bentuk penghinaan terhadap masyarakat Bali, soal waktu saja akan terjadi perlawanan sosial terhadap ide “gila” ini,” katanya.

Baca Juga :  Lagi 18 Orang Pelanggar Masker, Dijaring Tim Yustisi Denpasar

Dikatakan, KEK Pulau Serangan telah menimbulkan “luka” lama pada masyarakat Bali: pembebasan tanah secara paksa, reklamasi yang merusak bentang alam, intervensi terhadap Pura Sakenan dalam artian fisik dan rokhani, yang menimbulkan luka batin bagi masyarakat Bali.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here