Jejak Maestro Lotring Hidup Kembali, Rekonstruksi Gamelan Tua Kuta Memukau PKB 2026

0
67

 

Balinetizen.com, Denpasar

Warisan musikal maestro legendaris Bali, I Wayan Lotring, kembali bergema dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Komunitas Seni Tapahana, Banjar Temacun, Kelurahan Kuta, Kecamatan Kuta, sebagai Duta Kabupaten Badung, menampilkan Rekasadana (Pergelaran) Rekonstruksi Gamelan Tua di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa (1/7).

Pementasan tersebut menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni. Pergelaran ini merupakan upaya menghidupkan kembali jejak musikal khas Kuta melalui karya-karya maestro I Wayan Lotring, seniman kelahiran Banjar Tegal, Kuta, yang dikenal sebagai salah satu pembaru karawitan Bali pada awal abad ke-20.

Hadir menyaksikan pertunjukan tersebut Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ny. Rasniati Adi Arnawa, Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, Anggota DPRD Badung I Wayan Puspa Negara, serta sejumlah pejabat di lingkungan Kecamatan Kuta.

Koordinator pementasan, I Nyoman Agus Adi Putra, menjelaskan bahwa seluruh repertoar yang dibawakan merupakan hasil penelusuran terhadap karya-karya asli I Wayan Lotring. Di antaranya Tabuh Kawitan, Tari Legong Kraton Lasem, Tabuh Solo, Tari Legong Sperandana, hingga Sekar Gendot.

Menurutnya, proses rekonstruksi memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Selain latihan, tim juga melakukan penelusuran kepada para tetua desa serta mempelajari rekaman suara dan dokumentasi lama sebagai acuan agar karakter musikal Lotring tetap terjaga.

“Yang paling berharga, kami memperoleh rekaman lama yang menjadi referensi bagaimana gending-gending karya Maestro Lotring dimainkan. Dari sanalah kami berusaha menghadirkan kembali warna musikal khas Kuta,” ujarnya.

Sebanyak 25 penabuh dan lima penari terlibat dalam pementasan tersebut dengan menggunakan barungan gamelan pelegongan. Agus mengatakan tantangan terbesar bukan sekadar memainkan komposisi, melainkan menghadirkan kembali gaya tabuh Lotring yang dikenal dinamis, tegas, dan penuh energi.

Baca Juga :  Polisi ungkap usia peserta pesta asusila di Jaksel 20 - 40 tahun

Ia berharap kesempatan tampil di PKB mampu mendorong generasi muda untuk kembali mempelajari gending-gending asli karya I Wayan Lotring sebagai bagian dari identitas budaya Kuta.

Salah seorang penabuh, Made Okan Ananda Wiradana yang memainkan instrumen gender, mengaku proses mempelajari gaya Lotring bukan perkara mudah. Menurutnya, pola kendang, gangsa, hingga ornamentasi musikal memiliki karakter yang berbeda dibandingkan gending Bali pada umumnya.

“Style Lotring sangat dinamis dan memiliki ciri khas yang kuat. Kami harus benar-benar mempelajari pola-pola permainan yang diwariskan agar tidak kehilangan karakter aslinya,” katanya.

Ia berharap rekonstruksi ini tidak berhenti sebagai pertunjukan PKB semata, tetapi menjadi langkah nyata dalam melestarikan warisan karawitan Bali bagi generasi berikutnya.

Sementara itu, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi para seniman Badung yang tampil pada PKB tahun ini. Setelah menyaksikan penampilan Duta Gong Kebyar dan Komunitas Seni Tapahana, ia menilai semangat pelestarian budaya di kalangan generasi muda sangat membanggakan.

Menurutnya, seni merupakan fondasi utama pariwisata budaya Badung sehingga pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan, baik secara moral maupun material.

“Kita memiliki potensi seni yang luar biasa. Ke depan saya ingin sanggar-sanggar seni tidak hanya tampil saat PKB, tetapi juga memiliki ruang pertunjukan rutin sehingga dapat dinikmati wisatawan yang datang ke Badung. Dengan demikian, pelestarian budaya berjalan seiring dengan penguatan pariwisata berbasis budaya,” ujar Adi Arnawa. (ADV)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here