Balinetizen.com, Buleleng
Setelah ditata ulang oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng, kawasan Titik Nol Kota Singaraja kini punya wajah dan napas baru.
Ruang publik strategis ini, mulai bertransformasi menjadi pusat kreativitas anak muda melalui sebuah gelaran music session mingguan bertajuk “Suara Senja”.
Acara yang diinisiasi oleh sekelompok pemuda kreatif ini, hadir untuk memanfaatkan ramainya masyarakat yang kerap menghabiskan waktu sore hingga malam hari di jantung Kota Singaraja tersebut, atau tepatnya di seputaran Tugu Singa Ambara Radja.
Salah satu kru sekaligus gitaris ‘Suara Senja’, Rajendra Siaga Tika, diwawancarai, pada Kamis, (16/7/2026) di Kantor Diskominfosanti Buleleng mengungkapkan bahwa munculnya ide awal perhelatan ini, setelah melihat potensi besar Titik Nol Singaraja yang kini menjadi tempat berkumpul dan bersosialisasi warga Singaraja.
“Kami melihat tempat ini sangat berpotensi menjadi wadah anak muda mengekspresikan diri. Kedepannya, kami ingin tempat ini menjadi hub untuk segala jenis ekspresi seni budaya. Bukan hanya musik, tapi tidak menutup kemungkinan ke depan ada teater, paduan suara, atau seni lainnya,” ujarnya.
Suara Senja mengusung konsep inklusif dan terbuka. Dalam hal ini selaku penyelenggara, pihaknya berkomitmen untuk tidak membatasi latar belakang penampil. Dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut ambil bagian.
“Dalam rencana ke depan, tim Suara Senja akan menggandeng institusi pendidikan formal di Buleleng untuk berkolaborasi. Terbuka untuk pelajar mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK sederajat, serta musisi umum,” terang Rajendra.
Diadakan setiap akhir pekan, menurutnya demi memberikan hiburan konsisten bagi masyarakat Buleleng.
“Saat ini, Suara Senja telah sukses diselenggarakan sebanyak tiga kali, dan bersiap menyambut gelaran keempat pada akhir pekan mendatang. Bukan sekadar ajang unjuk bakat musiman, Suara Senja menyimpan misi besar untuk jangka panjang,” jelasnya.
Rajendra berharap Titik Nol Singaraja bisa tumbuh menjadi ikon pusat kesenian publik yang hidup, mirip dengan ruang-ruang kreatif publik yang ada di kota-kota besar lain di Indonesia.
“Rencana besarnya, kami ingin menjadikan Suara Senja ini sebagai titik di mana masyarakat bisa berkumpul, bersenda gurau, dan menikmati seni bersama. Kami ingin Titik Nol Singaraja ini hidup sebagai pusat kesenian publik bagi warga Buleleng,” pungkas alumni SMAN Bali Mandara itu. GS

